14 MENARA IMPIAN

MENARA IMPIAN

Mentari pagi baru saja menampakkan semburat jingganya di ufuk timur. Embun masih menggantung di ujung dedaunan, sementara udara pegunungan menusuk kulit dengan dinginnya yang khas. Dari kejauhan terdengar suara bel berbunyi tiga kali, disusul langkah kaki para santri yang bergegas menuju masjid untuk melaksanakan shalat Subuh berjamaah.

Liburan telah usai.

Rutinitas pondok kembali berjalan sebagaimana mestinya.

Aku kembali menempati kamar yang beberapa pekan kutinggalkan. Ikrom sudah lebih dulu datang sehari sebelumnya. Seperti biasa, ia menjadi orang yang paling ribut di kamar.

"Man."

"Hm?"

"Keripikmu tinggal sedikit."

Aku menoleh.

"Baru juga dua hari."

"Iya."

"Terus?"

"Makanya tinggal sedikit."

Aku menggeleng sambil tersenyum.

"Kalau begini, seminggu lagi kau pasti mulai keliling kamar."

"Maksudmu?"

"Meminta jatah makanan."

Ikrom tertawa.

"Itu namanya silaturahmi."

Aku hanya menghela napas.

Entah bagaimana caranya, hampir semua hal menurut Ikrom selalu bisa dihubungkan dengan makanan.

---

Hari-hari kembali berjalan seperti biasa. Seusai Subuh kami mengikuti halaqah tahfidz, dilanjutkan sekolah hingga siang. Sore hari diisi dengan olahraga dan murojaah, sementara malam dipenuhi setoran hafalan serta kajian bersama para asatidz.

Malam itu, selepas shalat Maghrib, seluruh santri diminta tetap berada di dalam masjid.

"Ada kajian tambahan," bisik seseorang di belakangku.

Aku dan Ikrom saling berpandangan.

"Semoga tidak sampai larut," bisik Ikrom.

"Kenapa?"

"Aku lapar."

Aku menahan tawa.

Tak lama kemudian salah seorang ustadz naik ke mimbar. Beliau membuka kajian dengan membaca hamdalah dan shalawat. Setelah itu beliau memandang seluruh santri yang duduk rapi di hadapannya.

"Anak-anakku sekalian..."

Suasana masjid mendadak hening.

"Kalian datang ke pondok ini membawa cita-cita."

Beliau berhenti sejenak.

"Ada yang ingin menjadi hafidz."

"Ada yang ingin menjadi dai."

"Ada yang ingin menjadi guru."

"Mungkin ada juga yang masih belum tahu ingin menjadi apa."

Beberapa santri saling tersenyum.

Aku ikut tersenyum kecil.

"Namun satu hal yang harus kalian ingat."

Beliau mengangkat telunjuknya.

"Ilmu yang kalian pelajari di sini bukan untuk dikumpulkan."

"Tetapi untuk diamalkan."

Masjid kembali sunyi.

"Jangan pernah bercita-cita menjadi orang yang paling banyak hafalannya."

Beliau berhenti lagi.

"Bercita-citalah menjadi orang yang paling banyak manfaatnya."

Kalimat itu membuatku menunduk.

Entah mengapa, rasanya seperti ditujukan kepadaku.

Beliau melanjutkan,

"Seorang laki-laki akan memikul tanggung jawab yang semakin besar seiring bertambahnya usia. Karena itu, sejak muda biasakan diri hidup dengan disiplin. Belajar bertanggung jawab. Belajar menjaga amanah. Belajar mengendalikan hawa nafsu."

Aku mengangguk pelan.

Kemudian beliau membaca sebuah hadits.

"Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian telah mampu, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan..."

Suara beliau begitu tenang ketika membacanya.

Masjid kembali hening.

Beliau tidak membahas pernikahan dengan nada bercanda sebagaimana sering kulihat di beberapa pengajian. Beliau justru menjelaskan bahwa menikah bukan sekadar tentang memiliki pasangan.

"Menikah adalah amanah."

"Menikah adalah tanggung jawab."

"Menikah adalah sekolah pertama bagi seorang laki-laki untuk belajar memimpin."

Aku mulai memperhatikan lebih serius.

"Jangan pernah bercita-cita menikah hanya karena sudah menemukan perempuan yang kalian sukai."

Beberapa santri tersenyum malu.

Beliau juga ikut tersenyum.

"Tetapi bercita-citalah menjadi laki-laki yang pantas untuk menjadi imam bagi keluarganya."

Kalimat itu menancap begitu dalam di hatiku.

Selama ini aku berpikir bahwa menikah adalah akhir dari sebuah penantian.

Malam itu aku baru memahami...

Bahwa menikah justru awal dari sebuah perjuangan yang jauh lebih panjang.

Kajian selesai menjelang waktu Isya.

Para santri mulai berdiri dan merapikan saf.

Aku masih duduk di tempatku.

Pandanganku kosong mengarah ke sajadah di depan.

"Man."

Suara Ikrom membuyarkan lamunanku.

"Ayo."

Aku menoleh.

"Hm?"

"Shalat Isya."

Aku mengangguk pelan.

"Iya."

Namun malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada satu pertanyaan yang terus berputar di dalam kepalaku.

Sudah pantaskah aku menjadi seorang laki-laki?

Malam itu udara terasa lebih dingin dari biasanya. Seusai shalat Isya, para santri mulai kembali ke asrama. Sebagian langsung mengambil mushaf untuk murojaah, sebagian lagi mencuci pakaian, sementara beberapa yang lain berkumpul di serambi sambil berbincang ringan sebelum bel belajar malam berbunyi.

Aku duduk di anak tangga depan asrama. Tanganku memegang sebuah buku kecil, tetapi sejak tadi tak satu halaman pun berhasil kubaca. Kajian selepas Maghrib masih terus berputar di kepalaku.

"Bercita-citalah menjadi laki-laki yang pantas menjadi imam bagi keluarganya."

Kalimat itu terus terngiang.

"Man."

Aku menoleh.

Ikrom datang sambil membawa dua gelas teh hangat.

"Nih."

"Buatku?"

"Iya."

"Dari mana?"

"Warung."

"Kau beli?"

"Iya."

Aku menerima gelas itu sambil tersenyum.

"Tumben."

"Aku sedang kaya."

"Kiriman dari rumah?"

Ikrom mengangguk mantap.

"Masih sisa."

Aku tertawa kecil.

"Biasanya seminggu juga habis."

"Makanya sekarang aku belajar mengatur keuangan."

Aku menatapnya sambil tersenyum.

"Yakin?"

"InsyaAllah."

Belum sampai lima detik, Ikrom menambahkan,

"Kalau besok tidak jajan lagi."

Aku tertawa.

"Nah, itu baru Ikrom."

Ia ikut tertawa.

Beberapa saat kami sama-sama diam. Angin pegunungan berembus pelan. Dari kejauhan terdengar suara beberapa santri yang sedang murojaah.

Ikrom menyeruput tehnya.

"Man."

"Hm?"

"Tadi kau serius sekali."

"Soal apa?"

"Kajian."

Aku mengangguk pelan.

"Iya."

"Biasanya kau sudah berdiri duluan."

"Kali ini aku masih ingin berpikir."

Ikrom memandang langit.

"Aku juga."

Aku menoleh.

"Kau memikirkan apa?"

Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Kalau nanti lulus..."

"Lalu?"

"...aku harus jadi apa."

Aku tersenyum.

"Ternyata kau juga memikirkan itu."

"Ya iyalah."

"Aku kira yang kau pikirkan cuma makan."

Ikrom tertawa.

"Makan tetap penting."

"Tapi?"

"Ternyata masa depan juga penting."

Aku mengangguk.

Suasana kembali hening.

"Kalau kau sendiri?" tanya Ikrom.

"Maksudnya?"

"Sudah punya rencana setelah lulus?"

Aku menghela napas pelan.

"Belum semuanya."

"Yang sudah?"

Aku memandang dua menara masjid yang menjulang di kejauhan. Cahaya lampu membuat puncaknya tampak begitu indah di tengah langit malam.

"Aku ingin segera menikah."

Ikrom menoleh cepat.

"Serius?"

Aku mengangguk.

"Iya."

"Umur berapa?"

"Sembilan belas."

Ia sampai meletakkan gelas tehnya.

"Wah..."

Aku tersenyum melihat ekspresinya.

"Kenapa?"

"Kukira nanti setelah kuliah."

Aku menggeleng.

"Kalau Allah memudahkan, aku ingin setelah lulus dari pondok."

Ikrom terdiam cukup lama.

"Kenapa?"

Aku menarik napas panjang sebelum menjawab.

"Karena aku tidak ingin terlalu lama berperang dengan diriku sendiri."

"Maksudmu?"

"Semakin bertambah usia, semakin besar juga godaannya."

Ikrom mengangguk pelan.

"Fitnah?"

"Iya."

Aku memandang halaman pondok yang mulai sepi.

"Aku takut suatu saat tidak mampu menjaga pandangan."

"...tidak mampu menjaga hati."

"...atau justru melakukan sesuatu yang tidak Allah ridai."

Ikrom tidak menyela.

Ia membiarkanku berbicara.

"Lagipula..."

Aku kembali melanjutkan.

"...aku percaya menikah membuat seorang laki-laki lebih cepat dewasa."

"Bagaimana bisa?"

"Saat masih sendiri, kita hanya memikirkan diri kita."

Ikrom mengangguk.

"Setelah menikah..."

"...ada istri yang harus kita bahagiakan."

"...ada anak yang harus kita didik."

"...ada keluarga yang harus kita nafkahi."

"Itu memaksa kita untuk tumbuh."

Ikrom tersenyum kecil.

"Berarti kau sudah siap jadi orang dewasa?"

Aku ikut tersenyum.

"Belum."

"Lho?"

"Itulah kenapa aku harus mulai menyiapkannya dari sekarang."

Ikrom mengangguk pelan.

Jawaban itu membuat kami sama-sama terdiam.

Beberapa santri mulai masuk ke kamar masing-masing. Bel belajar malam tinggal beberapa menit lagi.

Tiba-tiba Ikrom kembali bertanya.

"Man."

"Hm?"

"Masih istiqamah?"

Aku menoleh sambil tersenyum kecil.

"InsyaAllah."

Ikrom mengangguk pelan.

"Maksudku... sama Azizah."

Aku terdiam beberapa saat sebelum menjawab.

"Masih."

"Walaupun sekarang sudah tidak pernah komunikasi?"

"Iya."

Ikrom memandang ke arah halaman pondok yang mulai sepi.

"Berat?"

Aku mengembuskan napas pelan.

"Kalau dibilang tidak, berarti aku bohong."

"Lalu kenapa masih dipertahankan?"

Aku tersenyum tipis.

"Karena aku ingin memulainya dengan cara yang Allah ridai."

Ikrom mengangguk pelan.

"Berarti kau masih ingin menikah dengannya?"

"Kalau Allah mengizinkan."

"Dan kalau ternyata bukan dia?"

Aku terdiam cukup lama. Pertanyaan itu bukan pertanyaan baru. Hanya saja, malam itu untuk pertama kalinya aku mencoba menjawabnya dengan jujur.

"Kalau memang bukan dia..."

Aku memandang dua menara yang berdiri kokoh di bawah langit malam.

"...berarti Allah sedang menyiapkan seseorang yang lebih baik untuk agamaku."

Ikrom tersenyum.

"Jawabanmu sudah mulai seperti ustadz."

Aku tertawa kecil.

"Bukan."

"Lalu?"

"Aku hanya sedang belajar menerima takdir... bahkan sebelum takdir itu benar-benar datang."

Ikrom menepuk bahuku pelan.

"Semoga Allah menjaga hatimu."

"Āmīn."

Aku tidak mengatakan apa pun lagi.

Namun jauh di dalam hati, ada satu nama yang perlahan kembali muncul.

Bukan sebagai seseorang yang ingin kumiliki.

Melainkan sebagai seseorang yang diam-diam kuharapkan dapat menemaniku berjalan menuju cita-cita yang sama.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, keinginanku untuk menikah muda bukan lagi sekadar angan seorang pemuda.

Ia telah berubah menjadi sebuah tujuan yang ingin kuperjuangkan dengan memperbaiki diri setiap hari.

Bel belajar malam berbunyi tiga kali.

Suasana pondok yang semula masih dipenuhi obrolan perlahan berubah sunyi. Satu per satu santri kembali ke kamar masing-masing. Ada yang langsung membuka mushaf, ada yang menyiapkan buku pelajaran untuk esok hari, sementara beberapa yang lain masih sibuk menyeduh kopi sebelum belajar.

Aku duduk di atas kasur sambil memandangi buku catatan yang sejak tadi kubawa. Entah mengapa, malam itu aku belum ingin membukanya. Isi kajian selepas Maghrib dan percakapanku dengan Ikrom masih terus berputar di kepala.

"Menikah adalah amanah."

"Menikah adalah tanggung jawab."

"Menikah adalah sekolah pertama bagi seorang laki-laki."

Kalimat-kalimat itu seolah menolak pergi.

"Man."

Suara Ikrom memecah lamunanku.

"Hm?"

"Kok melamun terus?"

Aku tersenyum kecil.

"Lagi berpikir."

"Berpikir apa?"

"Macam-macam."

Ikrom mengambil bantal lalu menyandarkannya ke dinding.

"Kalau terlalu banyak berpikir nanti cepat tua."

Aku tertawa.

"Itu kata siapa?"

"Kata orang-orang."

"Orang-orang yang mana?"

Ikrom mengangkat bahu.

"Pokoknya orang."

Aku menggeleng sambil tertawa. Sulit sekali memenangkan perdebatan dengan orang yang sumbernya selalu "katanya".

"Sudahlah," lanjut Ikrom. "Yang penting sekarang belajar."

"Iya."

Kami pun membuka buku masing-masing.

Bel istirahat berbunyi sekitar satu jam kemudian. Sebagian santri memanfaatkan waktu itu untuk mengambil air minum atau sekadar merebahkan badan beberapa menit.

Aku menutup buku pelajaran, lalu mengambil sebuah buku kecil bersampul cokelat dari dalam lemari.

Buku itu tidak terlalu tebal.

Isinya bukan hafalan.

Bukan pula catatan pelajaran.

Aku biasa menuliskan target-target yang ingin kucapai di dalamnya.

Kubuka halaman terakhir yang masih kosong.

Beberapa saat aku hanya memandangi kertas putih itu.

Lalu perlahan kutulis sebuah judul.

Target Setelah Lulus

Aku berhenti sejenak.

Pena masih berada di tanganku.

Satu per satu kalimat mulai kutuliskan.

  • Menyelesaikan hafalan Al-Qur'an.

  • Berbakti kepada Ayah dan Ibu.

  • Mengabdi di jalan dakwah.

  • Menjadi laki-laki yang mampu memimpin keluarga.

  • Menikah di usia 19 tahun.

Aku membaca ulang tulisan itu.

Belum ada yang aneh.

Semuanya terasa masuk akal.

Namun entah mengapa, setelah membaca poin terakhir, tanganku belum juga berhenti menulis.

Di bawah daftar itu kutambahkan sebuah kalimat.

Ya Allah, jadikanlah aku laki-laki yang pantas menjadi imam sebelum Engkau mempertemukanku dengan seorang makmum.

Aku memandangi kalimat itu cukup lama.

Lalu tanpa sadar aku tersenyum.

Ternyata selama ini aku terlalu sering meminta dipertemukan dengan orang yang baik.

Padahal yang lebih penting adalah memohon agar Allah lebih dahulu memperbaiki diriku.

Aku menutup buku itu perlahan.

Malam semakin larut.

Sebagian besar santri sudah tertidur.

Aku keluar menuju serambi asrama.

Udara pegunungan terasa begitu dingin. Langit malam tampak cerah. Bintang-bintang bertaburan menghiasi angkasa.

Dari tempatku berdiri, dua menara masjid menjulang anggun diterpa cahaya lampu.

Aku memandanginya cukup lama.

Entah mengapa, setiap kali melihat dua menara itu, hatiku selalu terasa lebih tenang.

Aku teringat kembali percakapanku dengan Ikrom.

"Sudah ada orangnya?"

Aku tersenyum kecil.

"Sudah..."

gumamku lirih.

Bukan karena aku sudah memiliki kepastian.

Bukan pula karena aku telah merencanakan semuanya.

Namun karena di dalam hati ini memang sudah ada satu nama yang selama ini berusaha kujaga.

Azizah.

Aku tidak tahu bagaimana keadaan dirinya malam itu.

Aku tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan.

Aku bahkan tidak tahu apakah ia masih mengingatku atau tidak.

Yang kutahu hanya satu.

Jika suatu hari Allah benar-benar mengizinkanku menikah di usia sembilan belas tahun...

Aku berharap perempuan yang berdiri di sampingku adalah perempuan yang sama-sama ingin menjadikan surga sebagai tujuan.

Dan jika Allah menetapkan nama yang berbeda...

Aku berharap Allah juga memberikan hati yang lapang untuk menerimanya.

Aku menarik napas panjang.

"Ya Allah..."

Aku menengadah ke langit.

"Jangan hanya kabulkan apa yang kuinginkan."

"Tetapi kabulkanlah apa yang paling baik menurut-Mu."

Angin malam kembali berembus pelan.

Aku tersenyum.

Mungkin untuk pertama kalinya sejak mengenal Azizah, aku menyadari bahwa cinta tidak seharusnya membuatku sibuk memikirkan bagaimana cara memiliki seseorang.

Cinta seharusnya membuatku sibuk mempersiapkan diri agar pantas mendampingi siapa pun yang telah Allah pilihkan.

Malam itu, di bawah langit yang sama dan di antara dua menara yang telah menjadi saksi begitu banyak perjalanan hidupku, sebuah impian lahir dengan tenang.

Bukan sekadar impian untuk menikah muda.

Tetapi impian untuk menjadi seorang laki-laki yang layak memikul amanah sebagai suami, ayah, dan hamba Allah.


Comments

Popular posts from this blog

1 MENTAL KERUPUK

PROLOG

9 ENERGI BESAR IKRAM