11 LECET DI TEMPAT YANG SALAH

LECET DI TEMPAT YANG SALAH 


Subuh di pesantren tempat kami bermalam terasa begitu nikmat.

Untuk pertama kalinya setelah hampir dua puluh empat jam terakhir, kami bisa tidur di atas lantai yang rata, beratapkan bangunan, dan tanpa harus khawatir dibangunkan suara whistle setiap beberapa menit. Meski hanya beralaskan tikar masjid, rasanya jauh lebih nyaman daripada tanah berbatu di lereng Merapi.

Namun kenyamanan itu hanya berlangsung sampai aku mencoba berdiri.

"Astaghfirullah..."

Aku spontan meringis.

Kedua kakiku terasa nyeri luar biasa. Betis kaku. Paha pegal. Telapak kaki seperti ditusuk-tusuk jarum.

Aku menoleh ke sekitar. Rupanya bukan hanya aku yang bernasib demikian. Hampir seluruh santri berjalan pincang menuju tempat wudhu.

"Aduh..."

"Astaghfirullah..."

"Pelan-pelan!"

Keluhan terdengar di mana-mana.

Bahkan Ikrom yang biasanya paling banyak bicara pagi itu hanya berjalan sambil meringis.

"Kau kenapa?" tanyaku.

Ikrom menatap kanan kiri memastikan tidak ada pelatih di dekat kami.

"Lecet."

"Di kaki?"

Ia menggeleng.

"Di tempat yang lebih menyakitkan."

Aku langsung memahami maksudnya.

"Oh."

Ternyata bukan hanya Ikrom. Saat sarapan pagi, topik yang paling ramai dibahas justru bukan kaki lecet atau pegal-pegal, melainkan luka gesekan di selangkangan.

"Parah sekali punyaku."

"Punyaku sampai perih kalau jalan."

"Aku bahkan tidak bisa duduk nyaman."

Keluh kesah itu terdengar dari berbagai penjuru.

Long march hari pertama yang mencapai puluhan kilometer rupanya memberikan dampak yang tak pernah kami perhitungkan sebelumnya. Keringat yang terus-menerus membasahi pakaian, ditambah gesekan celana dalam selama berjam-jam berjalan, membuat banyak santri mengalami lecet di area paha bagian dalam.

Aku sendiri mulai merasakan perih sejak sore kemarin. Namun rupanya kondisiku masih jauh lebih baik dibanding sebagian teman-teman yang lain.

"Man."

Aku menoleh.

Ikrom sedang duduk dengan posisi aneh.

"Kenapa dudukmu seperti orang habis jatuh dari pohon?"

"Aku sedang berusaha menemukan posisi yang tidak menyakitkan."

Aku tertawa.

"Kau jangan tertawa. Ini masalah serius."

Selepas sarapan, rombongan kembali berkumpul di lapangan pesantren.

Hari kedua perjalanan akan segera dimulai.

Kak Said berdiri di depan sambil memperhatikan wajah-wajah kusut kami.

"Bagaimana kondisi antum semua?"

"Siap, Kak!" jawab kami serempak.

Meski terdengar kurang meyakinkan.

"Kaki lecet?"

"Siap, Kak!"

"Paha lecet?"

Beberapa santri langsung tertawa.

Sebagian lagi menunduk malu.

Bahkan Kak Fathur tampak menahan senyum.

"Kami sudah menduga." Ujar Kak Said santai. "Long march memang begitu."

Ternyata para pelatih sudah berpengalaman menghadapi kondisi semacam ini.

Mereka bahkan membawa salep khusus untuk mengurangi iritasi akibat gesekan.

Sejumlah santri langsung mengantre.

"Dasar veteran." Bisik Ikrom di sampingku.

Perjalanan hari kedua dimulai.

Awalnya langkah terasa sangat berat. Tubuh yang belum pulih sepenuhnya dipaksa kembali berjalan puluhan kilometer.

Namun ada satu fenomena menarik yang mulai terlihat sejak pagi.

Semakin siang, semakin banyak santri yang berjalan dengan wajah lega.

"Kenapa mereka kelihatannya lebih nyaman?" tanyaku.

Ikrom menunjuk salah satu teman kami yang sedang berjalan santai.

"Aku rasa mereka sudah menemukan solusinya."

"Solusi apa?"

Ikrom mendekat lalu berbisik.

"Banyak yang melepas celana dalam."

Aku hampir tersedak minuman.

"Hah?"

"Supaya tidak bergesekan lagi."

Aku memperhatikan beberapa teman yang memang tampak jauh lebih nyaman berjalan dibanding pagi tadi.

"Serius?"

"Serius."

"Aku tidak percaya."

"Terserah. Tapi kalau nanti kau melihat antrean panjang di kamar mandi saat istirahat, kau akan tahu apa yang sedang terjadi."

Aku menggeleng sambil tertawa.

Kadang-kadang kehidupan di lapangan mengajarkan solusi yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Menjelang Dzuhur, rombongan kembali menyusuri jalan raya yang panjang membelah hamparan sawah dan perkampungan. Matahari mulai terik. Keringat kembali membasahi pakaian. Namun suasana jauh lebih hidup dibanding hari sebelumnya.

Mungkin karena kami sudah bisa melihat akhir perjalanan.

Mungkin juga karena rasa sakit sudah menjadi teman akrab.

Atau mungkin karena semua orang diam-diam merasa bangga.

Tidak semua orang mampu berjalan sejauh ini.

Dan kami sedang membuktikan bahwa kami mampu.


Comments

Popular posts from this blog

1 MENTAL KERUPUK

9 ENERGI BESAR IKRAM

PROLOG