Posts

Showing posts from May 10, 2020

5 SURAT CINTA DUA MENARA

Image
SURAT CINTA DUA MENARA Tugu besar pesantren Salamatuddin tampak gagah berdiri di tengah lapangan upacara. Diterpa lembutnya sinar mentari pukul enam pagi. Dihinggapi kawanan burung yang sepagi ini sudah melangit, demi menafkahi anak-anaknya di sangkar. Azizah membawa dua ember pakaian kotor untuk ia cuci di reservoir 5 . Dengan penuh semangat ia melangkah, tersenyum, mengucap salam, serta menyapa semua orang yang berpapasan dengannya. Ia hanya punya waktu satu setengah jam untuk mencuci, sarapan, serta mandi. Bukan waktu yang lama, tapi cukup untuk ia yang sudah terbiasa cekatan. “Azizah.” Sapa Fina yang sedang mencuci pakaian. “Bagaimana? Semalam kamu memimpikan dia?” Cerocos Fina kepada Azizah yang sedang memasukkan sabun cuci. “Boro-boro mimpi bertemu dia. Tidurku gelap. Segelap hatiku. Tak nampak apa-apa.” Jawab Azizah melengos. “Lebay.” Jawab Fina spontan sembari memasukkan bilasan terakhir cuciannya. “Eh, Fin.” Ucap Azizah sembari menatap Fina. “Aku ada kabar.” “Kabar ap...

4 MUKA REMBULAN

Image
MUKA REMBULAN Malam ini sangat indah. Meski tubuhku letih bukan kepalang, bintang kejora masih menampakkan pesonanya di langit barat. Kerlap-kerlip dari bintang-gemintang itu membentuk rasi yang padu. Berkedip-kedip bak lampu sekarat. Bersanding dengan Sang Raja langit malam. Rembulan. Ternyata begini langit bumi saat tak ada polusi cahaya.  Semuanya tampak elok. Bagai lautan lampu yang berpendar. Aku tak bisa tidur selepas  whistle  dibunyikan terakhir kali. Kami tidur berdesak-desakan di tengah semak belukar agar lebih hangat. Ikrom telentang di sebelahku. Perutnya menyembul. Sepertinya berat badannya sudah turun drastis sejak hari pertama pekan orientasi dimulai. “Kau tak tidur?” Tanya Ikrom padaku yang masih menikmati panorama langit malam. “Eh.. Emm.. Belum. Aku tak bisa tidur.” “Sedang memikirkan seseorang, ya?” Tanya Ikrom lagi. Sambil menyesuaikan posisiku. Telentang sembari menyangga kepalanya dengan tangan. “Eh..” Aku terperangah. ...

3 EUFORIA GANDA

Image
EUFORIA GANDA “Ghilman? Ini kau?” Ucap Azizah tanpa basa-basi. Mereka sedang berada di sebuah event bedah buku yang ditulis Azizah. Tiba-tiba saja ia berada di event itu. Dan sekejap kemudian Azizah ada di hadapannya lantas menyapanya. Aneh. Ghilman masih tak mengerti. “Bagaimana kabarmu? Bukankah kau sekarang sedang menghafalkan Al-Qur’an?” Tanya Azizah mengerling. Ghilman hanya terdiam. Terpaku. Euforia bahagia merasuk ke dalam hatinya. Hingga membuatnya kehabisan kata-kata. “Ghilman? Hei, Mengapa malah melamun seperti itu?” Azizah melambaikan tangannya di depan wajah Ghilman. Berusaha menyadarkan sambil tertawa. Ah. Alangkah manisnya. Sungguh sempurna ciptaan Tuhan yang satu ini. Matanya berbinar ceria mengundang senyuman. Hidungnya mancung walau mungil malu-malu. Dan terutama lesungnya yang timbul setiap ia tersenyum. Ah, sungguh memesona. Ghilman memalingkan muka ke kanan. Tak ingin Azizah tau bahwa ia benar-benar terpesona. Tapi ia benar-benar tak mengerti. Ia melihat Azi...

2 DUA SISI

Image
DUA SISI Eloknya lembayung senja sedikit mengobati rasa lelah. Terpaan lembut sinar mentari yang mulai tergelincir ke bawah garis horizon benar-benar menakjubkan. Ditambah kabut pegunungan yang mulai turun membelai lembut kulit kami yang kotor dengan tanah dan debu. Kami masih berdiri terpaku di lapangan yang berada tepat di kaki dua menara. Berbaris tiga saf memanjang. Berdiri tegang dengan sisa-sisa tenaga. Belakangan akhirnya aku tahu bahwa kakak senior yang mengumpulkan kami tempo hari bernama Kak Said, dan temannya yang besar tinggi itu bernama Kak Fathur. Mereka berdua berjalan perlahan memutari barisan kami. memastikan tidak ada yang bergerak walau sedikit, tak ada yang bergeser walau sesenti. PLOKK! Topi milik Kak Fathur telak menyambar Ikrom, teman kami yang paling gempal. Napasnya sudah tersengal-sengal sejak awal acara. Sepertinya dia sudah tidak kuat lagi. “Ikrom! Jangan gerak-gerak!” Bentak Kak Fathur. “Tapi kak, saya sudah tidak kuat lagi. Pandangan saya kabur, mata...

1 MENTAL KERUPUK

Image
MENTAL KERUPUK “Kami ucapkan selamat datang kepada antum 2 semua para santri baru yang telah lolos tes penyaringan untuk masuk ke pesantren ini.” Sambut seorang kakak kelas paling senior kepada kami. Dia duduk berdampingan dengan temannya. Postur temannya besar tinggi, tatapannya tajam, lengannya besar bukan buatan. Jika bajunya tersibak, aku yakin sekali akan mendapati tubuh yang sama kekarnya dengan Arnold Schwarzenegger, pemeran utama film Terminator yang legendaris itu. “Jumlah antum cukup banyak, namun dalam sejarah berdirinya pondok ini belum ada satu pun angkatan yang bisa lulus seratus persen. Kami harap antum bisa menorehkan sejarah baru.” Lanjutnya dengan mimik muka serius dan berwibawa. “Kami akan menyampaikan beberapa hal terkait kegiatan antum selama satu pekan kedepan. Kalian akan menghadapi satu fase yang akan sangat menentukan perjalanan empat tahun di pesantren ini. Siapa yang bertahan, insya allah ia akan bisa meniti perjalanan di pesantren ini dengan baik, bahkan...

PROLOG

Image
PROLOG Sungguh mengesankan. Bahkan setelah sebulan penuh aku di pesantren ini cahaya hijau dari dua menara itu tetap memesona, ditambah kabut malam yang mulai bergulir, serta syahdunya alunan adzan yang mulai terdengar bertalu-talu. Meski di luar sana rinai hujan bertambah deras. “Berarti aku tak perlu datang halaqoh 1 .” Gumamku, sambil tersenyum simpul. Orang tuaku mendadak memberi kabar bahwa mereka akan menyambangiku. Dan di sinilah aku sekarang, di sebuah penginapan tak jauh dari pesantren. Memandangi rintik hujan di luar jendela, sambil kembali memikirkan perasaan rindu yang tak kunjung berbuah temu. “Ghilman!” Seru Ibu dengan nada kasih sayangnya yang khas. “Kemari nak. Ibu ingin kau membacakan surat Al-Buruj untuk Ibu.” Lekas aku membacanya dengan nada yang telah kupelajari sejak usiaku 11 tahun bersama guru ngajiku dulu, Ustad Hanif. Ibuku menyimak sambil menatap penuh perhatian. Tak lupa Ibu merekamku dengan ponselnya, sebagai pelepas rindu jika aku jauh dari sisiny...