5 SURAT CINTA DUA MENARA
SURAT CINTA DUA MENARA Tugu besar pesantren Salamatuddin tampak gagah berdiri di tengah lapangan upacara. Diterpa lembutnya sinar mentari pukul enam pagi. Dihinggapi kawanan burung yang sepagi ini sudah melangit, demi menafkahi anak-anaknya di sangkar. Azizah membawa dua ember pakaian kotor untuk ia cuci di reservoir 5 . Dengan penuh semangat ia melangkah, tersenyum, mengucap salam, serta menyapa semua orang yang berpapasan dengannya. Ia hanya punya waktu satu setengah jam untuk mencuci, sarapan, serta mandi. Bukan waktu yang lama, tapi cukup untuk ia yang sudah terbiasa cekatan. “Azizah.” Sapa Fina yang sedang mencuci pakaian. “Bagaimana? Semalam kamu memimpikan dia?” Cerocos Fina kepada Azizah yang sedang memasukkan sabun cuci. “Boro-boro mimpi bertemu dia. Tidurku gelap. Segelap hatiku. Tak nampak apa-apa.” Jawab Azizah melengos. “Lebay.” Jawab Fina spontan sembari memasukkan bilasan terakhir cuciannya. “Eh, Fin.” Ucap Azizah sembari menatap Fina. “Aku ada kabar.” “Kabar ap...