17 TEMPAT MENYIMPAN HATI
TEMPAT MENYIMPAN HATI Hari-hari di pondok kembali berjalan seperti biasa. Seusai mendapatkan restu dari Ayah dan Ibu, tidak ada perubahan yang terlihat dari diriku. Aku masih mengikuti halaqah, sekolah, piket kebersihan, olahraga, hingga belajar malam seperti santri lainnya. Namun, ada satu hal yang perlahan berubah. Kini aku lebih sering tenggelam dalam pikiranku sendiri. Bukan karena sedih. Bukan pula karena gelisah. Melainkan karena terlalu banyak hal yang ingin kupersiapkan. Setiap selesai membaca buku tentang rumah tangga, selalu muncul pertanyaan baru. Setelah berdiskusi dengan para asatidz, aku justru merasa masih sangat jauh dari kata siap. Semakin banyak belajar, semakin kusadari bahwa menjadi seorang suami jauh lebih sulit daripada sekadar mengucapkan akad. Suatu sore, aku sedang merapikan lemari. Rak kecil di samping tempat tidur yang dahulu hanya berisi beberapa pakaian kini mulai dipenuhi buku. Sebagian tentang fikih keluarga, sebagian lagi tentang pendidikan anak, k...