PROLOG
PROLOG
Sungguh
mengesankan. Bahkan setelah sebulan penuh aku di pesantren ini cahaya hijau
dari dua menara itu tetap memesona, ditambah kabut malam yang mulai bergulir,
serta syahdunya alunan adzan yang mulai terdengar bertalu-talu. Meski di luar
sana rinai hujan bertambah deras. “Berarti aku tak perlu datang halaqoh1.”
Gumamku, sambil tersenyum simpul.
Orang
tuaku mendadak memberi kabar bahwa mereka akan menyambangiku. Dan di sinilah aku
sekarang, di sebuah penginapan tak jauh dari pesantren. Memandangi rintik hujan
di luar jendela, sambil kembali memikirkan perasaan rindu yang tak kunjung
berbuah temu.
“Ghilman!”
Seru Ibu dengan nada kasih sayangnya yang khas. “Kemari nak. Ibu ingin kau
membacakan surat Al-Buruj untuk Ibu.” Lekas aku membacanya dengan nada yang
telah kupelajari sejak usiaku 11 tahun bersama guru ngajiku dulu, Ustad Hanif.
Ibuku menyimak sambil menatap penuh perhatian. Tak lupa Ibu merekamku dengan
ponselnya, sebagai pelepas rindu jika aku jauh dari sisinya.
Ibu
masih memandangiku lamat-lamat, seperti seorang yang memendam rindu
bertahun-tahun lantas akhirnya dipertemukan. Padahal baru sebulan lalu Ibu
beserta ayah mengantarku ke pelabuhan hingga kapal yang kutumpangi melepas sauh.
“Ada
apa bu kok sebegitunya memandangi Ghilman?" Tanyaku heran.
“Tidak
apa-apa nak, Ibu hanya tidak menyangka kamu sudah sebesar ini, padahal masih
segar di ingatan Ibu kamu dulu suka berlari-lari di atas baby walker.”
Ucap Ibu sambil terkekeh.
22.30
WIB. Ayah dan Ibu sudah terlelap. Di tengah temaram lampu aku mengambil
ponsel orang tuaku untuk membuka akun social media. Kemudian aku
merogoh saku, mengambil lipatan kertas buku tulis A2 yang telah kupersiapkan
sejak di kelas tadi. Sebuah pengakuan, sebuah penerimaan, sebuah keikhlasan
yang telah kutuangkan dalam sebuah tulisan. Dalam selembaran kertas yang akan
selalu terkenang. Kemudian kurangkum ke dalam akun social media-ku.
Malam ini akan kukirimkan padanya, sosok baru dalam lembaran putih masa putih
abu-abuku.
---
1 Perkumpulan
santri yang melingkari Ustadz untuk belajar Al-Qur’an. Biasanya satu Ustadz
mengampu 10-12 santri.

Comments
Post a Comment