10 JEJAK PERTAMA LONG MARCH

JEJAK PERTAMA LONG MARCH  


       Mentari pagi mulai meninggi.

Kabut yang sejak subuh menyelimuti Pasar Bubrah perlahan menipis. Hamparan awan putih yang tadi bergulung-gulung kini tampak semakin jauh di bawah sana. Gunung Merbabu berdiri anggun di hadapan kami, sementara puncak Merapi yang sesungguhnya masih menjulang beberapa ratus meter di atas kepala.

Aku menghela napas panjang.

“Subhanallah.”

Sudah hampir satu jam kami berada di Pasar Bubrah. Sebagian santri sibuk berfoto bersama kelompoknya. Sebagian lagi memilih duduk-duduk menikmati pemandangan. Ada pula yang memanfaatkan waktu untuk makan bekal terakhir yang masih tersisa.

“Man.”

“Apa?”

“Coba cubit aku.”

Aku mengernyit.

“Untuk apa?”

“Aku ingin memastikan ini bukan mimpi.”

Aku menoleh ke samping.

Ikrom sedang berdiri sambil berkacak pinggang. Wajahnya merah karena lelah. Rambutnya acak-acakan. Jaketnya basah oleh keringat. Tetapi senyumnya mengembang lebar.

“Kalau ini mimpi berarti aku berhasil naik Merapi dalam tidur.” Lanjutnya.

Aku tertawa.

“Kau memang aneh.”

“Bukan aneh. Ini namanya mensyukuri nikmat.”

“Baiklah.”

Aku mencubit lengannya.

“Aduh!”

“Nah, sekarang kau yakin?”

“Yakin. Ternyata memang nyata.”

Tubuhnya berguncang-guncang menahan tawa.

---

“Seluruh kelompok harap berkumpul!”

Suara Kak Said menggema di tengah Pasar Bubrah. Para santri segera bergerak mendekat.

“Kita akan turun dalam lima menit.” Ujar Kak Said.

“Pastikan semua perlengkapan lengkap. Jangan ada sampah yang tertinggal. Jangan ada barang yang tercecer.”

“Siap, Kak!”

Kami menjawab serempak.

“Kemudian setelah sampai kaki gunung, kita akan melanjutkan perjalanan menuju titik istirahat pertama.”

Tak ada yang terkejut.

Semua sudah tahu.

Sejak sebulan terakhir para pelatih hampir setiap hari mengingatkan bahwa pendakian Merapi hanyalah pembuka. Puncak acara sebenarnya adalah long march menuju pesantren. Kurang lebih sembilan puluh kilometer. Ditempuh selama dua hari. Dan malam nanti kami akan bermalam di sebuah pesantren yang telah bekerja sama dengan pondok kami.

“Siap mental?” Bisik Ikrom.

“InsyaAllah.”

“Kalau aku siap makan.”

“Baru juga selesai makan.”

“Aku sedang mempersiapkan mental.”

Aku menggeleng pasrah.

---

Perjalanan turun ternyata jauh berbeda dengan yang kubayangkan.

Awalnya terasa mudah. Kami tinggal mengikuti jalur yang tadi malam kami daki. Namun satu jam kemudian aku mulai menyadari kesalahanku. Turunan panjang membuat lutut terasa nyeri. Telapak kaki menghantam sepatu terus-menerus. Paha bagian depan terasa panas. Belum lagi ransel yang sejak semalam terus bertengger di punggung.

“Bagaimana, boi?” Aku melirik Ikrom.

“Masih aman.”

“Katanya energi besar.”

“Masih ada.”

“Berapa persen?”

“Delapan puluh persen.”

Aku terkekeh.

“Baru satu jam turun gunung sudah tinggal delapan puluh persen?”

“Efisiensi energi namanya.”

---

Menjelang Dzuhur.

Kami akhirnya sampai di kaki gunung. Hamparan sawah terbentang luas. Rumah-rumah penduduk mulai terlihat. Sebagian santri langsung merebahkan badan di rerumputan. Sebagian membuka bekal. Sebagian lagi mengisi ulang botol minum.

“Baik, istirahat tiga puluh menit!” Seru Kak Fathur.

Sorak kegembiraan langsung terdengar. Aku duduk di bawah pohon bersama Ikrom. Kami membuka bekal sederhana yang dibagikan panitia.

Nasi. Telur. Tempe. Sambal. Entah mengapa terasa jauh lebih nikmat daripada biasanya.

“Man.”

“Hm?”

“Aku punya teori.”

“Teori apa lagi?”

“Kalau lapar itu bumbu masakan terbaik.”

Aku tertawa.

“Mungkin benar.”

“Lihat saja. Tempe seperti ini kalau di rumah mungkin aku tambah dua lauk lagi.”

“Tapi sekarang?”

“Aku rela membela tempe ini dengan nyawaku.”

Aku hampir tersedak mendengarnya.

---

Selepas Dzuhur. Long march benar-benar dimulai. Jalan aspal membentang panjang di hadapan kami. Panas matahari terasa lebih menyengat dibanding saat berada di gunung. Langkah demi langkah terus kami ayunkan. Awalnya rombongan masih ramai. Ada yang bernyanyi. Ada yang bercerita. Ada yang saling mengejek.

Namun semakin sore suasana mulai berubah. Semua mulai menghemat tenaga. Percakapan semakin sedikit. Yang terdengar hanya suara langkah kaki dan napas yang mulai berat. Aku melirik Ikrom. Anehnya ia masih terlihat cukup segar. Memang wajahnya berkeringat deras. Tetapi langkahnya tetap stabil.

Tidak mengeluh.

Tidak minta berhenti.

Tidak pula meminta dibawakan tasnya.

Padahal sejak awal aku yakin dialah yang akan paling kewalahan.

“Kenapa melihatku begitu?” Tanya Ikrom.

“Tidak apa-apa.”

“Kau meremehkanku ya?”

“Sedikit.”

“Nah kan.”

Ikrom mendengus.

“Sudah kubilang. Badan besar bukan berarti lemah.”

Aku tersenyum.

Mungkin selama ini aku memang terlalu sering menilainya dari penampilan.

---

Matahari mulai condong ke barat. Langit berubah jingga. Bayangan tubuh kami memanjang di atas jalan. Kaki mulai terasa berat. Bahu mulai pegal. Telapak kaki terasa panas. Tetapi para pelatih terus menyemangati kami.

“Sedikit lagi!”

“Jangan menyerah!”

“Perjalanan hari ini hampir selesai!”

Kalimat itu terus berulang. Entah sudah berapa puluh kali kami mendengarnya.

Sampai akhirnya...

Di kejauhan tampak sebuah menara masjid. Kemudian gerbang pesantren. Kemudian bangunan-bangunan asrama.

“Alhamdulillah...” gumam seseorang.

Seketika semangat kami kembali hidup. Langkah yang tadi terasa berat mendadak menjadi ringan.

“Man!”

Ikrom menunjuk ke depan.

“Itu pesantrennya!”

Aku mengangguk.

Rasanya seperti menemukan oase di tengah padang pasir.

---

Ketika akhirnya kami memasuki gerbang pesantren, langit telah gelap. Adzan Isya baru saja berkumandang. Para santri langsung bersorak kecil. Bukan karena berlebihan. Melainkan karena lega. Hari pertama akhirnya selesai. Aku menjatuhkan ransel di teras masjid. Pundakku terasa jauh lebih ringan.

“Man.”

“Apa?”

Ikrom duduk di sampingku.

Wajahnya pucat. Bajunya basah oleh keringat. Kakinya tampak gemetar.

Tetapi ia tetap tersenyum.

“Aku baru sadar satu hal.”

“Apa?”

Ia menatap hamparan karpet masjid di hadapannya.

Kemudian berkata dengan sangat serius.

“Kasur ternyata nikmat yang sering kita kufuri.”

Aku tertawa keras.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai, seluruh rasa lelah terasa layak untuk disyukuri.

---

Comments

Popular posts from this blog

1 MENTAL KERUPUK

9 ENERGI BESAR IKRAM

PROLOG