12 DI BALIK PELUIT
DI BALIK PELUIT
Mentari mulai condong ke barat. Sinarnya yang semula menyengat perlahan berubah menjadi jingga keemasan. Hamparan sawah membentang di kanan kiri jalan, dihiasi petani yang mulai berkemas setelah seharian bekerja. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas padi yang mulai menguning. Pemandangan itu begitu menenangkan. Sayangnya, tak seorang pun di antara kami memiliki tenaga untuk benar-benar menikmatinya.
Langkah kami semakin berat. Telapak kaki terasa terbakar. Betis mulai menegang. Bahkan suara sandal dan sepatu yang menghentak aspal terdengar jauh lebih keras daripada obrolan kami. Sejak siang, rombongan memang lebih banyak diam. Energi kami seakan hanya cukup untuk terus melangkah.
"Man..." panggil Ikrom lirih.
"Hm?"
"Kalau nanti sampai pondok, aku mau tidur dua hari."
Aku tersenyum tipis. "Kalau tidur dua hari, kau tidak ikut halaqoh."
Ikrom menghela napas panjang. "Ya sudah, satu hari setengah saja."
Aku terkekeh pelan. Bahkan bercanda pun kini terasa melelahkan.
Di depan sana, kulihat Kak Gohan berjalan lebih lambat daripada biasanya. Tubuhnya tinggi tegap. Wajahnya tegas. Kami lebih sering memanggilnya Ghost daripada Kak Gohan. Entah siapa yang pertama kali memberi julukan itu. Mungkin karena wajahnya yang selalu datar, atau karena kemunculannya yang sering tiba-tiba saat pelatihan. Yang jelas, julukan itu sudah melekat di kalangan santri.
Biasanya Ghost berjalan paling depan sambil sesekali meniup whistle atau memberi aba-aba. Namun sejak siang tadi ia lebih banyak diam. Langkahnya juga mulai tertinggal.
"Kau lihat Ghost?" bisikku kepada Ikrom.
"Iya."
"Kok kelihatannya pucat?"
"Mungkin sedang puasa bicara."
Aku menggeleng. "Bukan. Sepertinya beliau memang kurang sehat."
Belum sempat percakapan kami berlanjut, rombongan mendadak berhenti.
"Break dulu!" seru salah seorang pelatih.
Kami langsung menjatuhkan ransel di pinggir jalan. Sebagian santri merebahkan badan begitu saja di rerumputan. Aku mengambil botol minum dan menghabiskannya dalam beberapa tegukan.
Di tengah istirahat itu tiba-tiba terdengar suara gaduh dari depan.
"Kak! Kak Gohan!"
Beberapa pelatih berlari menghampiri.
Aku dan Ikrom saling berpandangan sebelum ikut mendekat.
Ghost sedang duduk di pinggir jalan. Tangannya menutupi hidung. Dari sela-sela jarinya tampak darah menetes perlahan.
"Mimisan..." gumam seseorang.
Aku terdiam.
Entah mengapa pemandangan itu terasa aneh. Selama ini para pelatih selalu tampak seperti manusia yang tidak pernah lelah. Mereka berteriak sejak pagi, berjalan bersama kami, mengatur barisan, memastikan tidak ada yang tertinggal, lalu masih sempat menegur santri yang melanggar aturan. Rasanya sulit membayangkan salah satu dari mereka bisa tumbang.
"Kepalaku agak pusing." Suara Ghost terdengar pelan.
"Kamu belum makan dari tadi, kan?" tanya Kak Said.
Ghost hanya mengangguk kecil.
"Kamu juga semalam hampir tidak tidur."
"Aman, Kak."
"Aman dari mana?" sahut Kak Fathur sambil menyerahkan tisu. "Pra long march saja kau sibuk mengurus perlengkapan santri. Bekalmu sendiri tidak kau siapkan."
Ghost hanya tersenyum malu.
Barulah kami mengetahui penyebabnya. Selama beberapa hari sebelum keberangkatan, Ghost ternyata menjadi salah satu penanggung jawab logistik. Ia lebih sibuk memastikan perlengkapan para santri lengkap daripada mengurus kebutuhannya sendiri. Waktu istirahatnya berkurang. Makannya tidak teratur. Akibatnya, tubuhnya mulai menyerah di hari kedua perjalanan.
"Kasihan juga ya," gumamku.
Ikrom mengangguk pelan. "Kirain Ghost memang kebal capek."
Aku tersenyum.
"Ternyata pelatih juga manusia."
"Iya." Ikrom menahan tawa. "Selama ini kukira dia benar-benar hantu."
Aku menyenggol lengannya pelan. "Jangan keras-keras."
Beberapa menit kemudian perjalanan kembali dilanjutkan. Namun kali ini kecepatannya jauh berkurang. Ghost tetap memaksa berjalan bersama rombongan meski beberapa kali diminta naik kendaraan panitia yang mengikuti dari belakang.
"Aku masih sanggup." katanya singkat.
Hari mulai gelap.
Lampu-lampu rumah penduduk mulai menyala. Jalan raya yang tadi ramai kini perlahan lengang. Kami mengeluarkan senter kepala masing-masing. Cahaya kecil berjejer memanjang mengikuti jalan, seperti barisan kunang-kunang yang sedang bermigrasi.
"Kira-kira masih jauh, Kak?" tanya salah seorang santri.
"Masih." jawab Kak Said pendek.
Jawaban itu membuat beberapa orang menghela napas panjang.
Aku sendiri sudah tak sanggup menghitung berapa langkah yang telah kulewati. Yang kupikirkan hanya satu: terus berjalan.
Sesekali aku menoleh ke belakang. Ghost masih berada di barisan paling akhir bersama dua orang pelatih lainnya. Langkahnya pelan. Wajahnya pucat. Sesekali ia mengusap hidungnya yang masih menyisakan bercak darah. Namun ia tetap berjalan. Tidak sekalipun kulihat ia meninggalkan rombongan.
"Man..." bisik Ikrom.
"Hm?"
"Kalau aku jadi Ghost, mungkin dari tadi sudah numpang tidur di mobil panitia."
Aku tersenyum kecil.
"Tapi dia tetap jalan."
"Iya."
Kami kembali terdiam.
Malam semakin larut ketika akhirnya, dari kejauhan, dua menara hijau itu mulai terlihat. Cahaya lampunya menembus gelap, seolah menyambut kepulangan kami. Entah dari mana datangnya tenaga, langkah kami perlahan menjadi lebih cepat.
Jarum jam hampir menunjukkan pukul sepuluh malam ketika kami melewati gerbang pesantren.
Tak ada sorak-sorai kemenangan.
Tak ada tepuk tangan.
Semua terlalu lelah.
Sebagian santri langsung merebahkan ranselnya di halaman masjid. Sebagian lagi memilih duduk bersandar pada tiang-tiang serambi.
Aku menoleh ke belakang.
Ghost baru saja melewati gerbang. Wajahnya masih pucat. Langkahnya berat. Namun begitu memastikan seluruh santri telah masuk ke dalam kompleks pesantren, ia tersenyum tipis.
Malam itu aku menyadari satu hal.
Selama ini aku hanya mengenal para pelatih dari suara keras mereka, hukuman-hukuman mereka, dan peluit yang selalu membuat kami panik. Baru malam itu aku melihat sisi lain dari mereka. Ternyata orang yang terlihat paling kuat pun memiliki batas. Bedanya, mereka memilih tetap berjalan, bukan karena tubuhnya tidak lelah, tetapi karena ada puluhan santri yang harus mereka antarkan pulang dengan selamat.
Comments
Post a Comment