Posts

Showing posts with the label "CINTA 2 MENARA"

11 LECET DI TEMPAT YANG SALAH

LECET DI TEMPAT YANG SALAH  Subuh di pesantren tempat kami bermalam terasa begitu nikmat. Untuk pertama kalinya setelah hampir dua puluh empat jam terakhir, kami bisa tidur di atas lantai yang rata, beratapkan bangunan, dan tanpa harus khawatir dibangunkan suara whistle setiap beberapa menit. Meski hanya beralaskan tikar masjid, rasanya jauh lebih nyaman daripada tanah berbatu di lereng Merapi. Namun kenyamanan itu hanya berlangsung sampai aku mencoba berdiri. "Astaghfirullah..." Aku spontan meringis. Kedua kakiku terasa nyeri luar biasa. Betis kaku. Paha pegal. Telapak kaki seperti ditusuk-tusuk jarum. Aku menoleh ke sekitar. Rupanya bukan hanya aku yang bernasib demikian. Hampir seluruh santri berjalan pincang menuju tempat wudhu. "Aduh..." "Astaghfirullah..." "Pelan-pelan!" Keluhan terdengar di mana-mana. Bahkan Ikrom yang biasanya paling banyak bicara pagi itu hanya berjalan sambil meringis. "Kau kenapa?" tanyaku. Ikrom menatap kan...

10 JEJAK PERTAMA LONG MARCH

JEJAK PERTAMA LONG MARCH            Mentari pagi mulai meninggi. Kabut yang sejak subuh menyelimuti Pasar Bubrah perlahan menipis. Hamparan awan putih yang tadi bergulung-gulung kini tampak semakin jauh di bawah sana. Gunung Merbabu berdiri anggun di hadapan kami, sementara puncak Merapi yang sesungguhnya masih menjulang beberapa ratus meter di atas kepala. Aku menghela napas panjang. “Subhanallah.” Sudah hampir satu jam kami berada di Pasar Bubrah. Sebagian santri sibuk berfoto bersama kelompoknya. Sebagian lagi memilih duduk-duduk menikmati pemandangan. Ada pula yang memanfaatkan waktu untuk makan bekal terakhir yang masih tersisa. “Man.” “Apa?” “Coba cubit aku.” Aku mengernyit. “Untuk apa?” “Aku ingin memastikan ini bukan mimpi.” Aku menoleh ke samping. Ikrom sedang berdiri sambil berkacak pinggang. Wajahnya merah karena lelah. Rambutnya acak-acakan. Jaketnya basah oleh keringat. Tetapi senyumnya mengembang lebar. “Kalau in...

8 MOTIF KEBAIKAN

  MOTIF KEBAIKAN Lampu menara berwarna hijau itu masih tampak benderang pukul setengah enam pagi. Tampak segerombolan santri telah berjejer di pinggir jalan sembari menunggu bus Subur Akur lewat. Para santri meremas jari tak sabaran. Hari ini adalah hari libur, santri bebas bepergian sejak subuh hingga maghrib. “Rombongan masjid!” Pekik kernet bus Subur Akur. Belakangan Aku paham kernet bus menyebut pesantren kami dengan sebutan masjid. Bus Subur Akur berhenti tepat di depan pesantren. Santri berkerumun mengantri masuk ke dalam Bus. TOK TOK TOK! “Jalan!” Kernet memekik lagi sambil menggetok-getok kaca menggunakan koin. “Hari ini kau mau kemana, boi?” Tanya Ikram sambil beringsut duduk di sebelahku. “Aku mau ke Solo. Aku mau ke suatu tempat, baru kemudian ke toko buku.” Jawabku singkat. “Hmm tampaknya aku mencium gelagat mencurigakan.” Ikram menyipitkan mata. “Memang tak pernah benar aku ini di matamu, boi.” “Hahaha. Janganlah merajuk. Aku bercanda. Aku ingin ke ...

7 BERSIKAP

Image
BERSIKAP Kamar berkapasitas lima puluh santri itu sangat luas. Luas kamar 20x10 meter. Langit-langitnya menjulang tinggi. Lemari berpintu dua setinggi dua meter berjejer rapi di tengah kamar, bagian atas untuk pakaian terlipat, bagian bawah untuk pakaian yang digantung dengan hanger . Ada delapan kamar mandi dan satu tiang memanjang yang biasa kami gunakan untuk menjemur handuk dan pakaian. Suasana kamar selalu hidup selepas halaqoh pagi. Udara pegunungan sangat segar. Terlebih suasana pesantren masih sangat asri. Pepohonan, kicauan burung, hingga hangat sinar mentari pagi sangat mendukung proses menghafal kami. Santri pun mulai sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang sedang bersenda gurau, membicarakan politik, membaca buku, olahraga, berbagi makanan, hingga yang sibuk memilah pakaian yang hendak dicuci. “Bukk!” Aku menghempaskan badan di atas ranjang berukuran 2x1 meter. Aku merasa sepi di tengah bisingnya suasana asrama di pagi hari. “Apa gerangan, boi?” Ikrom bert...