11 LECET DI TEMPAT YANG SALAH
LECET DI TEMPAT YANG SALAH Subuh di pesantren tempat kami bermalam terasa begitu nikmat. Untuk pertama kalinya setelah hampir dua puluh empat jam terakhir, kami bisa tidur di atas lantai yang rata, beratapkan bangunan, dan tanpa harus khawatir dibangunkan suara whistle setiap beberapa menit. Meski hanya beralaskan tikar masjid, rasanya jauh lebih nyaman daripada tanah berbatu di lereng Merapi. Namun kenyamanan itu hanya berlangsung sampai aku mencoba berdiri. "Astaghfirullah..." Aku spontan meringis. Kedua kakiku terasa nyeri luar biasa. Betis kaku. Paha pegal. Telapak kaki seperti ditusuk-tusuk jarum. Aku menoleh ke sekitar. Rupanya bukan hanya aku yang bernasib demikian. Hampir seluruh santri berjalan pincang menuju tempat wudhu. "Aduh..." "Astaghfirullah..." "Pelan-pelan!" Keluhan terdengar di mana-mana. Bahkan Ikrom yang biasanya paling banyak bicara pagi itu hanya berjalan sambil meringis. "Kau kenapa?" tanyaku. Ikrom menatap kan...