1 MENTAL KERUPUK
MENTAL KERUPUK
“Kami ucapkan selamat datang kepada
antum2 semua para santri baru yang telah lolos tes penyaringan untuk
masuk ke pesantren ini.” Sambut seorang kakak kelas paling senior kepada kami. Dia
duduk berdampingan dengan temannya. Postur temannya besar tinggi, tatapannya
tajam, lengannya besar bukan buatan. Jika bajunya tersibak, aku yakin sekali
akan mendapati tubuh yang sama kekarnya dengan Arnold Schwarzenegger, pemeran
utama film Terminator yang legendaris itu.
“Jumlah antum cukup banyak, namun
dalam sejarah berdirinya pondok ini belum ada satu pun angkatan yang bisa lulus
seratus persen. Kami harap antum bisa menorehkan sejarah baru.” Lanjutnya
dengan mimik muka serius dan berwibawa.
“Kami akan menyampaikan beberapa hal
terkait kegiatan antum selama satu pekan kedepan. Kalian akan menghadapi satu
fase yang akan sangat menentukan perjalanan empat tahun di pesantren ini. Siapa
yang bertahan, insya allah ia akan bisa meniti perjalanan di pesantren
ini dengan baik, bahkan bisa melewati fase tersulit. Tapi barangsiapa yang
gagal, kemungkinan ia akan gugur di pertengahan jalan.” Selorohnya dengan
intonasi yang mengerikan.
Aku mulai berkeringat, tempo detak
jantungku meningkat, wajahku menegang. Aku melihat sekeliling, teman-temanku mengalami
hal yang sama. Pesantren ini benar-benar unik. Bahkan di hari ketiga kedatangan
kami sudah disajikan dengan kegiatan yang kami tak tau persis, tapi pasti
benar-benar tidak nyaman, selama sepekan pula. Alih-alih berusaha memaparkan
hal-hal indah agar para santri baru bisa menjalani hidup dengan tenteram.
“Kami hanya akan memberikan satu
instruksi kepada antum.” Kakak senior kembali melanjutkan. “Apabila antum
mendengar suara melengking dari alat ini.” Ia mengeluarkan alat yang bentuknya
mirip remote televisi, namun ukurannya lebih kecil, memiliki beberapa
lubang yang dapat mengeluarkan suara serta satu corong kecil di atasnya. Ada tombol
merah besar di tengah benda kecil itu, sepertinya tombol itu yang akan memicu
fungsi utama.
TIIING!
Bunyi benda kecil itu sangat nyaring, ia
memiliki frekuensi yang cukup tinggi untuk membuat gendang telinga terasa
ngilu, sontak kami langsung menutup telinga. Bahkan suaranya dapat terdengar
hingga radius lima puluh meter!
”Apabila antum mendengar suara
seperti tadi, maka antum harus mendatangi sumber suara tersebut, kejar secepat
mungkin. Kami tak peduli apakah itu pagi, siang, sore, bahkan dini hari. Kemudian
antum harus berbaris di depan pelatih yang ada di sana. Barangsiapa yang
terlambat dari hitungan pelatih walau sedetik, dia akan mendapatkan hukuman!” Jelas
kakak senior dengan suara tegas berwibawa disertai tatapan nanar.
“Apa antum paham?” Tanya kakak
senior dengan nada meninggi.
“Paham, kak.” Jawab kami lunglai.
“Sekali lagi, apa antum paham? Jawab
dengan tegas!” Nadanya lebih meninggi.
“Siap paham, kak.” Pekik kami
keras-keras.
Belum genap acara ditutup terdengar
suara nyaring benda kecil aneh itu di kejauhan.
TIIING!
Kami kaget bukan kepalang sambil tengok
kanan kiri. “Aku harus bagaimana?” Bahkan mulutku tak bisa bergumam karena
jantungku berdebar sangat hebat.
“Lari! Kejar sumber suaranya! Antum harus sigap! Jangan punya mental kerupuk!”
Pekik kakak senior di belakang kami yang berlari lintang pukang tak tentu arah.
---
2 Kalian.

Comments
Post a Comment