9 ENERGI BESAR IKRAM

ENERGI BESAR IKRAM

               TIIING!

          Whistle berbunyi bersahut-sahutan di koridor asrama. Jam baru menunjukkan pukul delapan pagi. Matahari baru mengeluarkan sengatnya. Kami berhamburan keluar dari kamar (yang dalam forum pelatihan berubah menjadi basecamp) menuju komandan utama, ia hanya akan memberi waktu sepuluh hitungan. Barangsiapa yang terlambat akan mendapat hukuman.

          “Sembilan!”

          “Sepuluh!”

          “SIAP GRAK!” Kak Said memekik.

          Apabila komando siap grak telah terucap maka tidak ada yang boleh bergerak barang sesenti. Dan sialnya aku gagal sampai barisan. Artinya aku akan terkena hukuman.

        “Bagi yang terlambat silakan menghadap!” Kak Fathur berseru sembari merentangkan tangan di sisi timur lapangan, pertanda kami diinstruksikan untuk berbaris memanjang ke samping.

       “Bagi kalian yang terlambat,” Ujar Kak Fathur dengan suara berat dan tatapan nanar, “Sudah berapa kali kami ingatkan untuk lebih sigap? Kalian paham tidak, HAH?!” Kak Fathur membentak. Di ekor matanya ia melihat Ikram garuk-garuk kepala.

            “IKRAM! Masih sempat bergerak kau, ya! Ambil rolling[12] sepuluh set!”

         Habislah Ikram, rolling sepuluh set setara dengan rolling seratus kali. Ia bisa tumbang sebelum berperang. Badannya berdebam di atas rumput. Bajunya kotor dengan tanah.

           “Dan bagi yang lain ambil rolling lima set! Dalam sepuluh hitungan semua sudah harus selesai!”

       Tanpa banyak bicara kami langsung ambil sikap meroda dengan tergopoh-gopoh. Demikianlah rutinitas kami setiap sebelum forum pelatihan dimulai. Meskipun pelatihan kali ini spesial. Kami akan melakukan pendakian gunung Merapi dan melakukan long march[13] sejauh 80 kilometer.  Ini adalah event tahunan untuk menguji ketangkasan fisik dan mental kami. Secara singkat, kami akan berangkat ke kaki gunung Merapi di  Kabupaten Boyolali menaiki truk, lantas kami mendaki gunung Merapi sampai puncak, lalu kami pulang ke pesantren dengan berjalan kaki sejauh 80 kilometer.

           “Kelompok 12 silakan naik ke atas truk!” Kak Said memanggil kelompokku.

           Entah ini sebuah kabar baik atau buruk, aku sekelompok dengan Ikram. Kabar baiknya aku bisa banyak mengobrol sepanjang perjalanan, kabar buruknya ia pasti akan mendaki dan berjalan sangat lambat sekali dengan tubuh gempalnya.

         “Ehe, syukurlah kita sekelompok, man.” Ikram cengengesan sambil merapikan tas ranselnya di bak truk.

        “Kabar baik bagimu, kabar buruk bagiku. Pasti kita akan sampai terakhir.” Aku mendengus sambil pura-pura memasang ekspresi jengkel.

      “Heh, apa maksudmu! Lihat saja nanti, aku akan mematahkan semua ekspektasimu! Jangan kau remehkan badan besarku ini, ya! Badanku menyimpan cadangan energi sangat banyak. Bukan macam kau kurus kering.” Ikram membalas ejekanku.

       “Baiklah mari kita buktikan. Awas saja kau sampai minta bawakan tasmu, awas saja kalau kau mengeluh.” Aku berlagak meremehkan Ikram.

          “Baiklah. Deal.” Kami bersalaman.

      Aku tak bermaksud meremehkan Ikram. Aku hanya ingin melihat sampai batas mana ia akan membuktikan dirinya. Kami memang kerap saling meledek satu sama lain.

         “Sebentar lagi kita akan masuk daerah perkotaan. Semuanya duduk! Tidak ada yang berdiri!” Ujar Kak Said yang berada di bagian depan bak truk. Apabila kami berdiri, maka akan rawan ditilang oleh polisi. Oleh karena itu sebisa mungkin kami tak terlihat.

      “Kau ini memakan tempat saja!” Aku memprovokasi Ikram sambil menggencet tubuhnya. Aku berusaha duduk tapi sempit sekali.

          “Enak saja! Sejak latihan long march dimulai berat badanku sudah turun drastis, ya!” Ikram balas menggencet aku.

           Memang sebulan sebelum perjalanan pendakian dan long march ini kami terlebih dahulu intensif berlatih. Kami berlari dua kali dalam sehari, push up, pull up, jalan jongkok, gendong-gendongan dan berbagai macam latihan fisik lainnya. Aku akui Ikram bersungguh-sungguh dalam berlatih. Kini meski posturnya gempal, tetapi tubuhnya kencang dan sedikit berotot, tidak bergelembir.

---

              Malam tiba

        Kami sudah sampai sejak sore. Malam ini cukup syahdu. Suara jangkrik bersahut-sahutan. Gunung Merapi tampak perkasa jika dilihat dari bawah, di sebelahnya ada gunung Merbabu yang tak kalah gagah. Kami menjadikan masjid sebagai tempat pemberhentian sementara.

         “Man kita beli pentol kuah, yuk!” Ikram menyadarkan lamunanku.

         “Eh, dimana?”

         “Itu di bawah.” Ikram menunjuk gerobak pentol kuah sekitar lima puluh meter dari masjid.

        “Ya ampun Ikram bagaimana kau bisa tau?” Aku menepuk dahi.

    “Biasalah. Insting berburuku memang tajam. Itu salah satu teknik dasar survival, kan?” Ikram terkekeh.

      “Berburu yang dimaksud itu berburu hewan atau tumbuhan, bukan berburu pentol kuah. Dasar tukang makan!”

           “Tak usah banyak omong. Kau mau atau tidak?”

           “Sebentar aku mengambil uang dulu”

          “Tinggal bilang mau saja susah sekali. Pakai mengolok-olok segala. Dasar gengsian!”

          “Hahaha.” Aku tertawa.

       Memang tak bisa dipungkiri bahwa pentol kuah di kaki gunung memiliki cita rasa yang sangat nikmat. Dua kali lebih enak daripada di perkotaan. Suhu dingin pegunungan sangat cocok dengan panasnya kuah pentol. Aku dan Ikram sering membelinya di pesantren. Karena pesantren kami pun di kaki gunung.

---

            Pukul 12 malam.

            TIIING!

            Whistle kembali dibunyikan.

           “Bawa peralatan pendakian kalian!” Kak Fathur berteriak-teriak tengah malam.

       Seperti biasa, kami berlari-lari tak tentu arah ketika mendengar whistle dan  kesadaran belum terkumpul.

    “Waduh dimana senter milikku.” Ikram menggeledah seluruh barang-barang miliknya. Ia kebingungan.

           “Hei, tukang makan! Headlamp[14]-mu ada di kepalamu. Kau sudah memakainya sejak sebelum tidur.” Aku mulai jengkel dengan tingkah anak satu ini.

              “Sembilan!”

              “Sepuluh!”

              “SIAP GRAK!”

         Beruntung aku sudah sampai barisan. Telat satu detik saja aku pasti sudah terkena hukuman. Ikram? Ia terlambat. Seperti biasa.

            “Sebelum pendakian dimulai, kami menyediakan makanan untuk antum.” Kak Fathur menunjuk tumpukan pisang Ambon di sampingnya.

            “Kepada ketua kelompok silakan ambil sejumlah anggotanya.”

             Semua ketua kelompok maju ke depan dan mengambil pisang.

           “Silakan antum makan. Pisang sangat baik untuk stamina. Pendakian ini akan cukup melelahkan. Ketinggian gunung Merapi sendiri mencapai 2.930 meter dari permukaan laut. Kita akan menggunakan jalur Selo pada pendakian kali ini. Estimasi pendakian kita adalah empat jam sampai di pos Pasar Bubrah, tak jauh dari puncak.” Jelas Kak Ikram.

---

Pukul 01.00 WIB

        Setelah briefing, mengisi tenaga, cek perlengkapan dan stretching selesai kami memulai pendakian sesuai urutan kelompok. Belakangan aku baru tahu bahwa pendakian seperti ini disebut dengan pendakian tektok, yakni pendakian cepat tanpa bermalam di gunung. Pada pendakian tektok biasanya para pendaki tidak membawa peralatan yang terlalu banyak, seperti kami saat ini.

             “Kau yakin pakai kaos lengan pendek, boi?” Bulu kudukku mulai berdiri karena kedinginan.

         “Tak apa. Kan aku sudah bilang di balik perutku yang besar ada energi yang besar. Terutama energi penghangat tubuh.” Ikram mulai berlagak.

             “Lihat saja nanti. Ini masih permulaan pendakian. Jangan sombong. Pantang sombong ketika di alam. Kau bisa kualat.”

             “Kalau kalah argumen saja kau baru bawa-bawa kualat.” Ikram menghardik.

             “Terserah kau saja lah.”

             Di hadapan kami tak terlihat apapun kecuali jalan setapak yang gelap. Awalnya landai, perlahan semakin curam dan semakin curam. Kontur tanah sedikit becek seperti habis diguyur hujan. Pepohonan di samping kami membawa aura yang mengerikan. Aku tak membayangkan bagaimana kalau aku mendaki sendirian di malam hari.

            “BREAK!” Ketua kelompok kami menginstruksikan untuk istirahat sejenak,

         “Silakan ambil makanan ringan dan minuman antum. Makan secukupnya. Utamakan makanan yang manis seperti cokelat untuk menambah tenaga. Jangan minum terlalu banyak, nanti perut antum bisa sakit ketika tubuh mulai bergerak lagi.

            “Baik, kak.” Kami menjawab serentak.

Pendakian sudah berjalan dua jam. Napas-napas kami mulai tersengal. Peluh mulai mengucur deras. Suhu dingin mulai tidak terasa karena tubuh kami panas akibat bergerak menanjak sedari tadi. Ikram sudah tampak pucat. ‘Energi besar’ dari perutnya nampaknya tak terlalu berpengaruh banyak.

“Baiklah, mari kita lanjutkan perjalanan. Sebentar lagi pos satu.” Ketua kelompok kami memberi arahan.

“Apa? Jadi kita belum sampai pos satu?” Ikram menjawab spontan.

“Belum. Kelompok kita berjalan seperti siput. Lambat sekali.” Ujar ketua kelompok.

“Kan aku sudah bilang.” Aku menatap remeh kepada Ikram.

“Baiklah. Kita bergerak lebih cepat.” Ikram mendengus kesal.

Satu jam perjalanan yang ‘lebih cepat’. Padahal menurutku tak ada perubahan pada kecepatan kami. Itu hanya sugesti Ikram saja.

“ARGHH!” Ikram berteriak kesakitan.

“Ada apa, Ikram?” Ketua kelompok mendatangi Ikram.

“Ini kak betis saya keram.” Ikram menunjukkan otot betisnya yang kaku.

“Baiklah kalau begitu kita break dulu,” Ujar ketua kelompok, “Ghilman tolong ambilkan salep di tas kakak.”

“Baik, kak.”

Betis Ikram diolesi salep, lalu telapak kakinya didorong sekuat tenaga untuk meregangkan otot betisnya. Aku sudah menduga momen ini akan terjadi. Tetapi aku memilih diam, aku tak ingin terjadi keributan. Kondisi lelah membuat emosi mudah tersulut.

---

Pukul 04.30 WIB

Selepas sholat subuh berjamaah, awan mendung tampak berputar di atas kami. Petir-petir berkilatan di atas sana. Perasaanku buruk. Sepertinya akan terjadi badai.

“Keluarkan jas hujan kalian!” Ketua kelompok menyeru kamu.

Kami bergegas memakai jas hujan. Sial. Pendakian perdanaku akan berhadapan dengan badai.

              “Semuanya saling bedekatan! Cari tempat di bawah pohon yang rindang!” Ketua kelompok tak berhenti memberi instruksi.

              Beruntunglah kami masih berada di dalam batas vegetasi. Kalau kami sudah sampai pos Pasar Bubrah pasti kami tak memiliki tempat berlindung karena sudah tak ada lagi pepohonan.

            Rinai hujan mulai menetes. Lambat laun makin deras. Kami berpelukan sambil gemetaran. Kami kedinginan. Akan tetapi ada yang sedikit berbeda. Aku merasakan kehangatan, karena di sampingku ada Ikram. ‘Energi besar’-nya membuatku nyaman.

         Hujan akhirnya mereda setelah kami satu setengah jam meringkuk berpelukan. Kami sudah melanjutkan perjalanan. Pos Pasar Bubrah sudah di depan.

              “BOI! Tengoklah lautan awan itu!” Ikram berseru kegirangan.

              “Subhanallah. Indah kali, boi!” Aku terpesona.

              Di ufuk timur matahari menampakkan jingga sinarnya.  Burung-burung berterbangan tepat di depannya. Membentuk siluet macam di lukisan-lukisan terkenal. Di bawahnya ada lautan awan yang bergumul-gumul. Aku tak mampu berkata-kata. Hanya bisa berulang kali memuji kebesaran Allah.

              “Terimakasih, boi.” Ikram tiba-tiba memelukku,

              “Terimakasih sudah sabar menemaniku sampai titik ini.” Ia berlinang air mata.

              “Iya, boi. Sama-sama,” Aku balas memeluknya, “Allah yang memberi kita kekuatan. Maafkan aku sering mengejekmu. Ternyata ‘energi besar’-mu berguna saat aku kedinginan.” Aku tertawa sambil berkaca-kaca.

 

 

 

             



[12] Sikap meroda

[13] Berjalan kaki dengan jarak yang jauh.

[14] Senter kepala

Comments

Popular posts from this blog

1 MENTAL KERUPUK

PROLOG