13 PINTU-PINTU FITNAH

 

PINTU-PINTU FITNAH

Pagi itu langit tampak begitu cerah. Kabut yang biasanya menyelimuti kaki dua menara perlahan menghilang, digantikan hangatnya sinar mentari yang menembus sela-sela pepohonan pinus. Halaman Pondok Pesantren mendadak ramai. Koper berbagai ukuran berjajar di depan asrama. Kardus berisi pakaian kotor ditumpuk di sudut serambi. Para santri berjalan hilir mudik dengan wajah yang jauh lebih ceria dibanding hari-hari biasanya.

Hari perpulangan akhirnya tiba.

"Man!"

Aku menoleh.

Ikrom berjalan ke arahku sambil memanggul ransel hijau tuanya. Aku memperhatikan bentuk tasnya yang tampak semakin membulat.

Aku menyipitkan mata.

"Ikrom."

"Apa?"

"Kenapa tasmu tambah besar?"

Ikrom tersenyum penuh kemenangan.

"Karena aku belajar dari pengalaman."

"Pengalaman apa?"

"Liburan kemarin aku menyesal."

"Menyesal kenapa?"

"Bekal buat balik ke pondok kurang."

Aku menghela napas panjang.

"Jadi sekarang?"

"Separuh isi tasku sengaja dikosongkan."

"Buat apa?"

"Buat membawa makanan."

Aku spontan tertawa.

"Belum juga pulang kau sudah memikirkan makanan waktu balik."

"Namanya juga perencanaan."

"Kalau orang lain merencanakan masa depan."

"Lalu?"

"Aku baru tahu ada orang yang merencanakan keripik."

Ikrom mengangkat bahunya santai.

"Perut juga punya masa depan."

Aku menepuk dahiku.

"Dasar tukang makan."

"Hahaha."

Belum sempat aku membalas, suara klakson bus terdengar dari arah gerbang.

Bus jurusan Solo mulai memasuki halaman pondok.

Para santri yang berasal dari luar kota segera berhamburan menuju koper masing-masing.

"Man."

"Hm?"

"Hati-hati di jalan."

Aku mengangguk.

"Kau juga."

Ikrom menjabat tanganku cukup erat.

"Nanti kalau sudah sampai rumah, jangan lupa makan pempek yang banyak."

Aku tertawa.

"Kenapa?"

"Supaya pas balik kau tidak kurus."

"Kau yakin yang kurus aku?"

Ikrom menatap tubuhku dari atas sampai bawah.

"Ya... memang tidak terlalu kurus sih."

"Kau ini."

Kami tertawa bersama.

Aku mengangkat ransel ke pundak.

"Assalaamu'alaikum, boi."

"Wa'alaikumussalaam."

"Jangan habiskan stok makanan pondok sebelum aku balik."

"Itu janji yang sulit kutepati."

Aku menggeleng sambil tersenyum.

Memang begitulah Ikrom.

Entah mengapa hampir semua pembicaraan dengannya selalu berakhir pada makanan.


Bus mulai meninggalkan gerbang pesantren.

Aku memilih duduk di dekat jendela.

Perlahan bangunan-bangunan pondok bergerak menjauh. Masjid yang selama ini menjadi tempatku menyetorkan hafalan tampak semakin kecil. Begitu pula dua menara hijau yang setiap hari menyambut pandanganku selepas Subuh dan sebelum tidur.

Aku terus memandanginya.

Sampai akhirnya kedua menara itu benar-benar menghilang di balik tikungan.

Aku menghela napas panjang.

Baru 6 bulan tinggal di pesantren, namun rasanya tempat itu sudah seperti rumah keduaku.

"Permisi, Dik."

Seorang bapak berusia sekitar lima puluh tahun berdiri di samping kursiku.

"Boleh saya duduk?"

"Oh, silakan Pak."

Beliau tersenyum ramah.

"Terima kasih."

Tak lama kemudian bus melaju meninggalkan kawasan pegunungan menuju Kota Solo.

Di luar jendela, hamparan sawah membentang luas. Para petani tampak mulai turun ke pematang. Burung-burung pipit beterbangan rendah di atas tanaman padi yang mulai menguning.

Perjalanan panjang selalu memiliki caranya sendiri untuk membuat seseorang banyak berpikir.

Aku kembali teringat long march beberapa hari yang lalu.

Wajah Ghost yang pucat karena mimisan.

Ikrom yang berjalan sambil menahan lecet.

Kak Said yang tak pernah berhenti memberi semangat.

Tanpa sadar aku tersenyum sendiri.

"Santri ya, Dik?" tanya bapak di sampingku.

"Iya, Pak."

"Pulang kampung?"

"Iya."

"Jauh?"

"Lampung."

"Wah..."

Beliau mengangguk pelan.

"Hebat juga."

Aku tersenyum kecil.

"Belum seberapa, Pak."

"Orang tua pasti bangga."

Aku hanya mengangguk.

Entah mengapa setiap kali mendengar kalimat seperti itu, aku selalu teringat wajah Ayah.


Menjelang sore aku tiba di Terminal Tirtonadi. Setelah berganti bus, perjalanan kembali berlanjut menuju Pelabuhan Merak.

Malam turun perlahan.

Lampu-lampu jalan mulai menyala.

Sebagian besar penumpang sudah tertidur pulas. Sopir memutar lagu dangdut dengan besar-besar. Aku mencoba ikut memejamkan mata, tetapi gagal.

Bus terus melaju.

Sesekali aku terbangun ketika melewati jalan bergelombang.

Sesekali kembali tertidur.

Hingga sekitar pukul tiga dini hari bus akhirnya memasuki kawasan Pelabuhan Merak.

"Silakan turun dulu! Kapalnya masih antre!" seru sopir.

Aku turun sambil membawa tas kecil.

Angin laut langsung menerpa wajahku.

Udara dini hari terasa lembap. Aroma garam bercampur solar memenuhi pelabuhan. Di kejauhan lampu kapal berkelap-kelip di tengah gelapnya Selat Sunda.

Aku membeli segelas kopi hangat di warung kecil dekat dermaga.

"Sendiri, Dik?" tanya penjual.

"Iya, Pak."

"Santri?"

Aku mengangguk.

"Alhamdulillah."

Beliau tersenyum.

"Semoga ilmunya berkah."

"Aamiin."

Tak lama kemudian terdengar pengumuman agar seluruh penumpang kembali naik ke kendaraan masing-masing.

Bus mulai memasuki lambung kapal.

Aku memilih naik ke dek atas.

Angin bertiup cukup kencang.

Langit masih gelap.

Hanya cahaya bulan dan bintang yang menemani perjalanan kami menyeberangi Selat Sunda.

Aku bersandar di pagar kapal.

Di belakang sana Pulau Jawa perlahan menjauh.

Di depan sana Pulau Sumatera masih tampak samar.

Entah mengapa setiap berada di tengah lautan seperti ini, aku selalu merasa begitu kecil.

Aku menengadah ke langit.

Bintang-bintang bertaburan begitu indah.

Pemandangan itu mengingatkanku pada malam di bukit Parang, ketika aku dan Ikrom sama-sama tak bisa tidur sambil memandangi rembulan.

Aku tersenyum tipis.

"Semoga kau juga sedang melihat langit yang sama."

Kalimat itu melintas begitu saja di kepalaku.

Aku segera menggeleng.

"Astaghfirullah..."

Aku memejamkan mata.

Berusaha mengusir bayangan yang tiba-tiba datang tanpa diundang.

Mentari mulai terbit ketika kapal merapat di Pelabuhan Bakauheni.

Perjalanan masih beberapa jam lagi.

Bus kembali melaju membelah jalan lintas Sumatera. Bukit-bukit hijau, perkebunan karet, dan rumah-rumah panggung bergantian menghiasi perjalanan.

Menjelang siang akhirnya bus memasuki Kota Metro.

Dadaku terasa hangat.

Rumah sudah di depan mata.

Aku turun di terminal, lalu melanjutkan perjalanan dengan angkutan kota menuju rumah. Tak lama kemudian aku berdiri di depan pagar yang sudah sangat kukenal.

"Assalaamu'alaikum..."

"Wa'alaikumussalaam!"

Ibu segera membuka pintu dengan wajah berbinar.

"Alhamdulillah... sudah sampai."

Aku mencium tangan Ibu, lalu menyalami Ayah yang menyusul dari ruang tamu.

"Capek, Man?" tanya Ayah sambil menepuk pundakku.

"Alhamdulillah tidak terlalu, Yah."

"Sudah, masuk dulu. Ibu sudah menyiapkan makan siang."

Aku mengangguk.

Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, aroma masakan Ibu langsung memenuhi hidungku.

Aku tersenyum.

Setelah berbulan-bulan hidup di bawah dua menara, akhirnya aku kembali ke rumah.

Namun aku belum menyadari...

Bahwa dua pekan ke depan, justru akan menjadi ujian terberat bagi hatiku.

Hari-hari pertama masa liburan terasa begitu menyenangkan. Hampir setiap pagi aku menemani Ayah menuju lokasi pembangunan lembaga pendidikan yang sedang beliau rintis. Bangunannya memang belum selesai sepenuhnya. Di beberapa sudut masih terlihat tumpukan bata, pasir, dan besi, sementara para tukang sibuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Ayah berjalan mengelilingi bangunan sambil sesekali berdiskusi dengan mandor atau mengecek hasil pekerjaan hari itu. Aku lebih banyak mengikuti beliau dari belakang, membantu jika ada yang bisa kukerjakan.

"Bagian kelas sebelah sini nanti jendelanya diperbesar sedikit saja, Pak," kata Ayah kepada mandor.

"Siap, Pak Haji."

Setelah beberapa saat berkeliling, Ayah duduk di atas tumpukan keramik yang belum dipasang. Aku ikut duduk di sampingnya.

"Bagaimana hafalanmu?" tanyanya.

"Alhamdulillah terus bertambah, Yah."

"Sudah mulai terasa berat?"

Aku mengangguk pelan. "Semakin banyak hafalan, semakin banyak juga yang harus dimurojaah."

Ayah tersenyum sambil menatap bangunan di hadapan kami. "Membangun sekolah juga begitu. Yang sulit bukan memulainya, tapi menjaganya agar tetap berdiri."

Aku ikut memandang bangunan itu.

"Jangan pernah lelah menjaga Al-Qur'an, Ghilman. Kalau kau menjaga Al-Qur'an, insyaAllah Al-Qur'an juga akan menjagamu."

Aku hanya mengangguk. Kalimat itu sederhana, tetapi entah mengapa selalu berhasil tinggal lebih lama di dalam pikiranku daripada nasihat yang panjang.

Hari-hari berikutnya hampir selalu sama. Pagi menemani Ayah, siang membantu Ibu di rumah, sore bersilaturahmi ke beberapa kerabat, lalu malam berkumpul di ruang tamu sambil berbincang ringan. Ibu sering bertanya tentang kehidupan di pesantren, sementara Ayah lebih tertarik mendengar perkembangan hafalanku.

"Temanmu yang lucu itu siapa namanya?" tanya Ibu suatu malam.

"Ikrom, Bu."

"Oh iya, Ikrom. Masih sama seperti dulu?"

Aku tertawa kecil. "Kalau soal makan, malah semakin hebat."

Ayah ikut tersenyum.

"Yang badannya besar itu?"

"Iya."

"Kasihan dapur pesantren."

Aku dan Ibu spontan tertawa.

"Kalau Ikrom dengar, pasti dia protes, Yah."

"Kenapa?"

"Dia selalu bilang badan besar itu investasi."

"Investasi apa?"

"Katanya investasi cadangan energi."

Ayah menggeleng sambil tersenyum. "Ada-ada saja."

Tak terasa dua pekan masa liburan mulai mendekati akhir. Kesibukan perlahan berkurang. Ayah tetap sibuk mengawasi pembangunan, Ibu kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa, sementara aku mulai lebih sering berada di rumah seorang diri. Suasana yang semula terasa begitu hangat perlahan berubah menjadi lengang.

Siang itu aku duduk di teras rumah sambil membaca mushaf. Beberapa kali aku mencoba menambah hafalan, tetapi pikiranku mudah sekali terpecah. Ayat yang baru saja kubaca seolah cepat menguap dari ingatan.

"Ada apa denganku?" gumamku pelan.

Aku menutup mushaf lalu memandang jalan kecil di depan rumah. Angin sore bertiup pelan, menggoyangkan daun-daun mangga di halaman. Entah mengapa, sore itu aku mulai merindukan suasana pesantren. Aku merindukan suara bel sebelum Subuh, suasana halaqah, dan canda tawa teman-teman di kamar.

Tanpa sadar aku tersenyum sendiri ketika teringat Ikrom.

"Kalau sekarang dia sedang apa ya?"

Mungkin masih sibuk menghabiskan stok makanan yang dibawanya pulang.

Aku tertawa kecil membayangkan wajahnya.

Namun beberapa detik kemudian senyum itu perlahan memudar.

Entah dari mana datangnya, satu nama tiba-tiba muncul di kepalaku.

Azizah.

Aku langsung menggeleng.

"Astaghfirullah..."

Sudah lama aku berusaha mengalihkan pikiranku darinya. Bukankah kami sudah sepakat untuk menjaga jarak? Bukankah aku sendiri yang menulis surat itu?

Aku bangkit dari kursi dan masuk ke dalam rumah. Kucoba menyibukkan diri dengan membaca buku, tetapi tak sampai lima menit buku itu sudah kembali kututup. Aku mengambil mushaf lagi, membaca beberapa halaman, lalu berhenti. Rasanya ada sesuatu yang mengganggu ketenangan hatiku.

Malam harinya keadaan rumah begitu sunyi. Ibu sudah lebih dulu masuk ke kamar. Ayah masih membaca beberapa berkas di ruang kerjanya. Aku duduk sendirian di ruang tamu ditemani suara jam dinding yang berdetak pelan.

Telepon genggamku tergeletak di atas meja.

Aku mengambilnya.

Kubuka layar.

Lalu kukunci kembali.

Beberapa menit kemudian kuambil lagi. Kubuka, lalu kututup. Entah sudah berapa kali kulakukan hal yang sama. Seolah ada sesuatu yang ingin kulihat, tetapi sekaligus ingin kuhindari.

Aku menarik napas panjang.

"Jangan..."

bisikku kepada diri sendiri.

Namun jemariku tetap membuka aplikasi media sosial. Lama sekali aku menatap kolom pencarian yang kosong. Berkali-kali aku ingin keluar dari aplikasi itu, tetapi selalu kuurungkan. Sampai akhirnya tanpa sadar jemariku mulai mengetik satu nama yang selama beberapa bulan terakhir berusaha kuhapus dari pikiranku.

Azizah.

Dadaku berdegup lebih cepat.

Akun itu muncul di urutan paling atas.

Aku menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya menekan layar.

Tidak ada percakapan.

Tidak ada pesan.

Hanya beberapa unggahan tentang aktivitasnya di pesantren, foto bersama teman-temannya, dan potongan ayat Al-Qur'an yang ia bagikan.

Aku memperhatikannya cukup lama.

Lalu tanpa sadar tersenyum.

"Alhamdulillah..."

Hanya itu yang keluar dari mulutku.

Aku segera mengunci layar telepon genggam dan meletakkannya kembali di atas meja. Anehnya, setelah mengetahui ia baik-baik saja, hatiku justru tidak merasa tenang. Ada kegelisahan yang perlahan tumbuh, tetapi saat itu aku belum memahami dari mana asalnya.

Aku hanya tahu satu hal.

Malam itu adalah pertama kalinya aku membuka kembali pintu yang selama ini berusaha kututup rapat-rapat.

Sejak malam itu, kebiasaan buruk itu terus berulang.

Awalnya hanya sekali dalam dua atau tiga hari. Lama-kelamaan hampir setiap malam. Setiap kali rumah mulai sepi dan Ayah serta Ibu telah beristirahat, aku selalu mengambil telepon genggam yang tergeletak di atas meja belajar. Jemariku seolah sudah hafal jalan menuju satu nama yang selama ini berusaha kuhindari.

Azizah.

Aku tidak pernah mengirim pesan. Tidak pernah meninggalkan komentar. Tidak pula menekan tombol suka pada setiap unggahannya. Aku hanya melihat. Memastikan bahwa ia baik-baik saja. Namun setiap kali layar telepon itu kembali padam, justru hatiku terasa semakin gelisah.

"Kenapa begini..." gumamku suatu malam.

Aku meletakkan telepon genggam di atas meja, lalu menyandarkan tubuh di kursi. Rasanya seperti ada dua suara yang saling berdebat di dalam dada.

"Aku tidak melanggar janji. Aku hanya melihat."

Namun suara lain segera membantah.

"Kalau memang tidak melanggar, mengapa setiap selesai melihatnya hatimu justru semakin berat?"

Aku memejamkan mata.

"Astaghfirullah..."

Sejak kapan aku mulai mencari-cari alasan untuk membenarkan sesuatu yang sebenarnya sudah kuketahui jawabannya?

Keesokan harinya, selepas Ashar, terdengar suara seseorang memberi salam dari depan rumah.

"Assalaamu'alaikum..."

"Wa'alaikumussalaam."

Aku keluar menuju ruang tamu.

Ternyata kakak sepupuku datang berkunjung. Sudah cukup lama kami tidak bertemu.

"Masuk, Kak."

Ia tersenyum lalu duduk di kursi bambu yang berada di teras.

"Libur, ya?"

"Iya."

"Gimana mondoknya?"

"Alhamdulillah."

Obrolan kami mengalir ringan. Tentang pesantren, pendakian Merapi, sampai long march yang membuat kedua kakiku lecet hampir sepekan.

"Hahaha... sembilan puluh kilometer?" katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Aku naik motor saja kadang capek."

Aku ikut tertawa.

"Iya. Waktu itu rasanya jalan tidak ada habisnya."

Beberapa saat kemudian pandanganku tertuju pada tas sekolah yang dibawanya.

"Kok tidak bawa HP?"

Ia tersenyum kecil.

"Rusak."

"Lho?"

"Sudah hampir dua minggu."

"Lalu buat tugas sekolah?"

"Kalau ada tugas, pinjam teman."

"Kalau di rumah?"

"Ya tidak bisa apa-apa."

Ia mengatakannya sambil tertawa kecil, tetapi aku tahu tawa itu hanya untuk menutupi rasa tidak enaknya.

"Belum beli lagi?"

Ia menggeleng.

"Belum. Orang tua lagi banyak kebutuhan."

Aku mengangguk pelan.

Percakapan kami kemudian beralih ke hal lain. Namun entah mengapa pikiranku terus kembali kepada jawaban terakhirnya.

Belum. Orang tua lagi banyak kebutuhan.

Malam itu aku duduk sendirian di kamar.

Di hadapanku tergeletak telepon genggam Android yang selama ini selalu kubawa ke mana-mana.

Aku menatapnya cukup lama.

Benda kecil itu telah menemaniku bertahun-tahun.

Melalui telepon itulah aku pertama kali membaca surat balasan Azizah. Dari telepon itu pula aku diam-diam mencari kabarnya setiap kali rasa rindu datang.

Aku tersenyum pahit.

"Jadi selama ini masalahnya bukan media sosial..."

Aku berhenti sejenak.

"...tetapi aku."

Aku menggenggam telepon itu erat.

"Kalau memang aku ingin menjaga hati, kenapa masih kubiarkan pintunya tetap terbuka?"

Tak ada yang menjawab.

Hanya suara jangkrik di luar rumah yang terdengar bersahut-sahutan.

Esok sore kakak sepupuku kembali datang.

"Ada yang tertinggal kemarin?" tanyaku.

"Bukan."

"Lalu?"

"Cuma lewat."

Aku masuk ke kamar sebentar.

Mengambil telepon genggam yang semalam terus kupandangi.

Setelah kembali ke ruang tamu, telepon itu kusodorkan kepadanya.

Ia tampak bingung.

"Ini buat siapa?"

"Buat Kakak."

Ia langsung menggeleng.

"Jangan."

"Pakai saja."

"Jangan, Ghilman."

"Kenapa?"

"Ini masih bagus."

"Makanya dipakai."

Ia tetap menggeleng.

"Aku tidak enak."

Aku tersenyum.

"Kalau memang bermanfaat, kenapa harus tidak enak?"

Ia masih diam.

"Aku serius."

"Tapi..."

"Kakak lebih membutuhkan daripada aku."

Beberapa detik suasana menjadi hening.

Ia memandang telepon itu, lalu memandangku.

"Yakin?"

Aku mengangguk.

"InsyaAllah."

Perlahan ia menerima telepon itu dengan kedua tangannya.

"Terima kasih."

Aku hanya tersenyum.

Aku tidak mengatakan alasan yang sebenarnya.

Biarlah hanya Allah yang mengetahuinya.

Dua hari kemudian aku kembali berangkat menuju Pulau Jawa.

Sebelum berangkat, Ayah melihat telepon genggam kecil yang kusimpan di dalam saku baju.

"Lho?"

"HP-mu mana?"

"Kukasihkan ke Kakak."

Ayah mengambil telepon kecil itu.

"Terus ini?"

"HP biasa."

Ayah tersenyum tipis.

"Bisa buat komunikasi?"

"Bisa, Yah."

"Sudah cukup."

Beliau tidak bertanya lebih jauh.

Mungkin beliau mengira aku hanya ingin membantu saudara.

Dan memang benar.

Hanya saja...

Ada alasan lain yang tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun.

Perjalanan menuju pesantren kembali kulalui seorang diri.

Bus.

Kapal.

Bus lagi.

Sampai akhirnya dua menara hijau itu kembali terlihat dari kejauhan.

"Assalaamu'alaikum!"

Suara Ikrom langsung terdengar begitu aku membuka pintu kamar.

"Wa'alaikumussalaam."

"Mana oleh-oleh?"

Aku menyerahkan sebungkus keripik pisang.

"Wah... akhirnya kau ingat juga."

Belum sempat ia membuka bungkusnya, matanya tertuju pada telepon kecil yang kuletakkan di atas kasur.

"Lho?"

"Apa?"

"Mana HP-mu?"

"Kukasihkan ke kakak sepupuku."

Ikrom mengambil telepon itu lalu membolak-baliknya.

"Ini HP zaman kerajaan Majapahit?"

Aku tertawa.

"Masih bisa telepon."

"Internet?"

"Tidak ada."

"Facebook?"

"Tidak ada."

"Instagram?"

Aku menggeleng.

Ia memandangku beberapa saat.

"Sengaja?"

"Iya."

"Kenapa?"

Aku menarik napas panjang.

"Karena aku mulai sering mengotori hatiku."

Ikrom terdiam.

Aku melanjutkan pelan.

"Aku memang tidak pernah menghubungi Azizah. Tapi aku terlalu sering melihat media sosialnya. Lama-lama aku sadar, aku hanya sedang mencari pembenaran untuk terus memikirkannya."

Ikrom tidak langsung menjawab.

Ia meletakkan telepon itu kembali di atas kasur.

"Lalu sekarang?"

"Sekarang aku ingin belajar benar-benar menjaga hati."

Ikrom tersenyum tipis.

"Berat?"

Aku mengangguk.

"Berat."

Ia menepuk bahuku pelan.

"Kalau memang itu jalan menuju Allah, semoga rasa berat itu berubah menjadi pahala."

Aku tersenyum.

"Āmīn."

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidur tanpa keinginan membuka media sosial. Bukan karena aku sudah berhasil melupakan Azizah, tetapi karena aku sedang belajar menutup pintu-pintu kecil yang selama ini diam-diam mengantarkan hatiku kembali kepadanya.


Comments

Popular posts from this blog

1 MENTAL KERUPUK

9 ENERGI BESAR IKRAM

PROLOG