8 MOTIF KEBAIKAN
MOTIF KEBAIKAN
Lampu menara
berwarna hijau itu masih tampak benderang pukul setengah enam pagi. Tampak
segerombolan santri telah berjejer di pinggir jalan sembari menunggu bus Subur
Akur lewat. Para santri meremas jari tak sabaran. Hari ini adalah hari libur,
santri bebas bepergian sejak subuh hingga maghrib.
“Rombongan
masjid!” Pekik kernet bus Subur Akur. Belakangan Aku paham kernet bus menyebut
pesantren kami dengan sebutan masjid.
Bus
Subur Akur berhenti tepat di depan pesantren. Santri berkerumun mengantri masuk
ke dalam Bus.
TOK
TOK TOK!
“Jalan!”
Kernet memekik lagi sambil menggetok-getok kaca menggunakan koin.
“Hari
ini kau mau kemana, boi?” Tanya Ikram sambil beringsut duduk di sebelahku.
“Aku
mau ke Solo. Aku mau ke suatu tempat, baru kemudian ke toko buku.” Jawabku singkat.
“Hmm
tampaknya aku mencium gelagat mencurigakan.” Ikram menyipitkan mata.
“Memang
tak pernah benar aku ini di matamu, boi.”
“Hahaha.
Janganlah merajuk. Aku bercanda. Aku ingin ke warnet[11]. Sudah lama tak kutengok
sosial mediaku.” Tubuh Ikram berguncang.
“Terserah
kau saja lah.” Aku sedang tidak mood mengobrol. Aku harus memutar otak.
Bus Subur Akur sudah melewati jembatan perbatasan kabupaten. Tak lama lagi akan sampai di kota Solo. Ikram sudah pulas sejak tadi.
“Hmm.. Aku belikan apa ya kira-kira.” Aku bergumam.
“Aha!” Aku menegakkan posisi duduk, “Aku belikan burger yang sedang viral itu saja.”
Ikram terbangun oleh gerakanku, “Sudah sampai mana ini?” Ia celingak-celinguk memandangi sekitar.
“GHILMAAAN! Mengapa kau tak bangunkan aku?! Ini sudah sampai Kota Solo. Warnetnya kan setelah jembatan tadi!” Ikram memukul-mukul lenganku.
“Ehh, iya iya iya maaf.” Sambil aku menepis pukulan Ikram, “Aku terlalu sibuk berpikir tadi. Tak sadar kalau sudah terlewat jauh.”
“Kau ini memang tak tau tempat, ya! Di kamar, di loteng, di hutan sampai di bus pun tak sudah-sudah kau memikirkan Azizah. Dasar BUCIN! BUDAK CINTA!” Ikram bak orang kerasukan.
Alangkah bodohnya Ikram. Ia menyebut kata “bucin” dan “budak cinta” keras sekali. Matilah aku. Tepat setelah Ikram berteriak semua perhatian tertuju kepada kami berdua. Aku spontan menjambak rambut ikram, menyumpal mulutnya dengan tangan lalu menenggelamkan kepalanya di atas kursi.
“Azizah itu siapa, man?” Seloroh Kak Said sambil cengar-cengir. Ternyata ia duduk di depan kami.
“Hehe bukan siapa-siapa, kak.” Jawabku cengengesan. Kak Said tersenyum mengangkat alis. Pura-pura tak paham.
Tamatlah riwayatku. Aku malu bukan kepalang. Tak henti-hentinya aku membodoh-bodohi Ikram.
Akhirnya Ikram turun tak lama kemudian. Ia mengambil bus Subur Akur jurusan kembali ke pesantren supaya ia bisa berhenti di depan warnet tujuannya.
Aku pun sampai tujuan. Solo Style Mall tampak megah. Aku mengedarkan pandangan mencari dimana letak restoran burger yang aku cari.
“Nah itu dia.” Gumamku sembari berjalan ke restoran burger yang sedang viral itu. Tampak bangunan berbentuk kotak yang dicat dengan warna hitam doff. Menambah kesan elegan dan eksklusif dari bangunan itu.
---
Tugu besar itu masih tampak kokoh sejak bertahun-tahun lalu. Ia terletak di tengah-tengah lapangan depan kantor pusat pesantren Salamatuddin. Ya, hari ini aku kembali ke pesantren lamaku. Bukan tanpa maksud, aku ingin menengok adik Azizah yang masih menginjak kelas sebelas. Azizah berada di komplek bagian Selatan. Aku tak mungkin menjenguknya karena akan menjadi masalah besar. Akhirnya aku menjenguk adiknya saja.
Bayang-bayang masa lalu berkelebat di kepalaku sembari aku memilih bangku di taman. Tampak bayangan diriku dahulu berbondong-bondong bersama teman-teman menuju masjid dengan setelan busana muslim serba putih, kain sarung dan songkok hitam. Setelan wajib kami ketika hendak menghadiri kajian pekanan. Tampak pula aku yang duduk-duduk di depan kelas sebelah Utara taman, aku dan teman-temanku yang bersenda gurau setiap pagi sembari menunggu Ustadz datang. Aku senyum-senyum sendiri memandangi potongan-potongan perjalanan hidupku di pesantren ini.
“Mas Ghilman!” Azka memanggil sembari melambaikan tangan dari kejauhan. Tadi aku menyuruh seorang santri untuk memanggilnya di asrama.
“Oh, halo Azka!” Aku balas melambai. Ia mendekat.
“Assalaamualaikum, mas. Bagaimana kabar, mas? Sehat?” Azka menyalami sambil mencium tanganku. Tubuhnya lebih tinggi dari aku, seperti kakaknya yang juga tinggi. Kulitnya hitam manis. Rambutnya ikal. Ia terlihat lebih gagah daripada bertahun-tahun lalu.
“Waalaikumussalaam warohmatullah. Alhamdulillah sehat, Azka. Kau sendiri bagaimana? Sehat?”
“Alhamdulillah sehat, mas.”
“Bagaimana kabar organisasi? Banyak masalah? Hahaha.” Aku terkekeh.
“Begitulah, mas. Banyak bawahanku yang tak kooperatif. Mereka belum dewasa dalam menyikapi masalah.” Ujar Azka sambil menghela nafas. Belakangan aku tau Azka baru dilantik menjadi ketua umum organisasi pengurus santri terbesar di pesantren ini.
“Hei jangan terlalu dibawa serius. Aku ke sini bukan untuk membahas organisasimu. Ini aku bawakan burger yang sedang viral.” Aku mengeluarkan box burger dari tote bag.
“Waah alhamdulillah. Terima kasih, mas. Kebetulan aku belum pernah makan burger ini.” Mata Azka berbinar melihat burger di hadapannya.
Aku turut senang melihat binar bahagia dari matanya. Ia sudah kuanggap adikku sendiri. Karena ia adik dari orang yang aku cinta. Meski ketika memesan burger ini aku sedikit kaget. Karena aku harus mengocek kantong cukup dalam. Harganya mahal betul. Dua ratus lima puluh ribu untuk dua box ukuran sedang. Itu setara setengah jatah kiriman bulananku. Tapi tak apalah. Untuk cinta apapun kulakukan. Sepertinya benar apa kata Ikram. Aku memang budak cinta.
“Ayo kita makan, mas!” Azka sudah membuka box burger. Menyadarkan lamunanku.
“Eh, iya. Ayo kita makan!”
“Bismillahirrohmanirrohim” kami mengucap basmalah bersama-sama dan mulai menyantap.
Comments
Post a Comment