15 LELAKI YANG LAYAK
LELAKI YANG LAYAK
Pondok kembali berjalan seperti biasanya. Bel berbunyi sebelum Subuh, para santri bergegas menuju masjid, lalu mengawali hari dengan halaqah Al-Qur'an. Setelah itu sekolah, olahraga, murojaah, belajar malam, kemudian tidur. Rutinitas yang sama terus berulang dari hari ke hari.
Namun, ada sesuatu yang perlahan berubah di dalam diriku.
Sejak malam ketika ustadz membahas tentang tanggung jawab seorang laki-laki, pikiranku tak pernah benar-benar sama lagi. Aku masih mengikuti semua kegiatan seperti biasa, masih bercanda bersama Ikrom, masih tertawa ketika teman-teman saling melempar candaan. Akan tetapi, setiap kali melakukan sesuatu, selalu muncul satu pertanyaan kecil di dalam hati.
"Apakah ini akan membantuku menjadi seorang suami yang baik?"
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Namun tanpa kusadari, ia mulai mengubah banyak hal.
—
Sore itu beberapa teman mengajakku bermain sepak bola di lapangan.
"Man!"
Aku menoleh.
"Ayo, kurang satu orang."
Aku tersenyum sambil mengangkat buku yang sedang kubaca.
"Nanti saja."
"Wah..."
Salah seorang temanku tertawa.
"Sejak kapan kau rajin belajar begini?"
"Semenjak sadar."
"Sadar apa?"
Aku ikut tertawa.
"Kalau ulangan ternyata tidak bisa dikerjakan pakai doa saja."
Mereka tertawa bersama.
"Ya sudah. Jangan nyesal kalau tim kami menang."
Aku mengangguk.
"InsyaAllah."
Mereka berlari menuju lapangan.
Aku kembali membuka buku.
Beberapa menit kemudian Ikrom datang sambil membawa sandal di tangan.
"Lho?"
"Kau tidak ikut?"
Aku menggeleng.
"Lagi tidak ingin."
Ikrom duduk di sampingku.
"Sakit?"
"Tidak."
"Lalu?"
Aku menutup buku perlahan.
"Rom."
"Hm?"
"Kau pernah berpikir tidak..."
"Tentang?"
"...kalau kita benar-benar jadi menikah setelah lulus?"
Ikrom menggaruk kepalanya.
"Pernah."
"Terus?"
"Terus lapar."
Aku spontan tertawa.
"Apa hubungannya?"
"Kalau sudah menikah berarti harus cari nafkah."
Aku menggeleng sambil tersenyum.
"Tidak salah juga."
Ikrom ikut tersenyum.
"Tapi serius."
Aku mengangguk.
"Menurutmu, bekal kita sudah cukup?"
Ikrom tidak langsung menjawab.
Ia memandang lapangan yang dipenuhi teman-teman kami.
"Kalau buat menikah?"
"Iya."
Ia mengembuskan napas panjang.
"Kalau aku sih belum."
"Kenapa?"
"Masih banyak yang harus kupelajari."
Aku mengangguk pelan.
"Begitu juga aku."
Suasana mendadak hening.
Angin sore berembus pelan melewati halaman pondok.
Beberapa daun kering berjatuhan di atas rumput.
"Aku akhir-akhir ini sering kepikiran."
"Kepikiran apa?" tanya Ikrom.
"Kalau aku benar-benar ingin menikah di usia sembilan belas tahun..."
Aku berhenti sejenak.
"...berarti aku tidak bisa hidup seperti biasanya."
Ikrom menoleh.
"Maksudmu?"
"Aku harus mulai belajar menjadi laki-laki."
Ikrom tersenyum kecil.
"Memangnya sekarang kau perempuan?"
Aku spontan memukul pelan lengannya.
"Bukan begitu."
"Hahaha..."
Aku ikut tertawa.
"Yang kumaksud..."
"...belajar bertanggung jawab."
"...belajar mengatur diri."
"...belajar mengendalikan keinginan."
"...belajar memikirkan masa depan."
Ikrom mengangguk pelan.
"Kau serius sekali."
"Iya."
"Lalu Azizah?"
Aku memandang ke arah lapangan.
"Aku masih berharap kepada Allah."
Ikrom menunggu jawabanku.
"Tapi aku sadar..."
Aku menarik napas pelan.
"...berharap saja tidak cukup."
"Kalau aku benar-benar ingin memintanya kepada orang tuanya kelak..."
"...aku harus datang sebagai laki-laki."
"Bukan sebagai anak laki-laki."
Ikrom terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak kami berbincang sore itu, ia tidak menyelipkan candaan.
Ia hanya menepuk pundakku pelan.
"Kalau begitu..."
katanya lirih.
"...mulailah dari sekarang."
Aku mengangguk.
"Iya."
Bel Asar terdengar menggema dari arah masjid.
Kami berdiri hampir bersamaan.
Saat berjalan menuju tempat wudhu, aku membatin pelan.
"Ya Allah... jika Engkau benar-benar mengizinkanku menikah di usia sembilan belas tahun, jangan hanya dekatkan aku dengan perempuan yang baik. Tetapi jadikanlah aku lebih dulu seorang laki-laki yang layak untuk perempuan yang baik."
Aku tidak tahu berapa lama proses itu akan berlangsung.
Namun satu hal yang pasti.
Perjalanan itu telah dimulai.
—
Perubahan itu ternyata tidak berhenti pada cara berpikirku.
Sedikit demi sedikit, kebiasaanku pun mulai berubah. Jika dulu setiap kali mendapat kiriman uang dari rumah aku langsung menghitung berapa kali bisa membeli bakso, es teh, atau jajanan di koperasi pondok, kini aku justru lebih sering menghitung berapa banyak yang bisa kusisihkan.
Suatu sore, seusai pelajaran sekolah, aku duduk di lantai kamar sambil membuka buku catatan kecil. Di halaman terakhir terdapat dua kolom sederhana.
Pemasukan.
Pengeluaran.
Aku mulai menuliskan setiap rupiah yang kuterima dan kubelanjakan.
"Man."
Aku mendongak.
Ikrom berdiri di samping kasurku sambil membawa segelas es teh.
"Apa yang kau tulis?"
"Catatan keuangan."
Ia mendekat.
"Sejak kapan?"
"Sejak bulan ini."
Ikrom membaca sekilas isi buku itu.
"Lho... uang jajan juga dicatat?"
"Iya."
"Ribet sekali."
Aku tersenyum.
"Dulu aku juga berpikir begitu."
"Lalu sekarang?"
"Sekarang aku sadar."
"Sadar apa?"
"Kalau tidak bisa mengatur uang seratus ribu rupiah, bagaimana nanti mengatur uang keluarga?"
Ikrom terdiam beberapa detik.
"Hmm..."
"Lalu?"
"Aku tetap tidak mau mencatat."
Aku tertawa.
"Kenapa?"
"Soalnya uangku sedikit."
"Justru karena sedikit harus dicatat."
Ikrom menggeleng mantap.
"Kalau sedikit masih hafal."
Aku tak mampu menahan tawa.
"Kalau begitu semoga nanti uangmu banyak."
"Āmīn."
"Tapi tetap harus dicatat."
Ikrom langsung menghela napas panjang.
"Ya Allah... ternyata menikah itu mahal."
—
Perubahan berikutnya terjadi pada hari Jum’at.
Hari libur selalu menjadi hari yang paling kutunggu. Bukan untuk bermain, melainkan karena pada hari itulah aku bisa keluar pondok menuju toko buku di kota.
Beberapa teman memilih berjalan-jalan ke alun-alun.
Sebagian lagi berburu makanan.
Aku justru melangkah menuju sebuah toko buku kecil yang sudah mulai kuhafal letaknya.
Deretan buku agama memenuhi rak-raknya.
Aku menyusuri satu per satu hingga berhenti di bagian keluarga dan rumah tangga.
Mataku tertuju pada sebuah buku bersampul hijau.
Bahagianya Merayakan Cinta
Karya Ustadz Salim A. Fillah.
Aku mengambilnya perlahan.
Sudah beberapa hari buku itu ingin kubeli.
Tanpa berpikir panjang, kubawa ke kasir.
—
Sore harinya aku kembali ke pondok.
Baru saja buku itu hendak kumasukkan ke dalam lemari, Ikrom tiba-tiba muncul dari belakang.
"Man."
Aku sedikit terkejut.
"Astaghfirullah... bikin kaget saja."
Ikrom tertawa.
"Beli buku lagi?"
"Iya."
"Boleh lihat?"
Aku menyerahkannya.
Ia membaca judulnya perlahan.
"'Bahagianya Merayakan Cinta'..."
Ikrom mengangkat kedua alisnya.
"Wah..."
"Wah kenapa?"
"Ternyata sudah mulai serius."
Aku hanya tersenyum kecil.
"Memang buat belajar."
"Belajar?"
"Iya."
Ikrom mulai membolak-balik halaman buku itu.
Awalnya wajahnya biasa saja.
Namun beberapa saat kemudian ia tiba-tiba menahan senyum.
Aku mulai curiga.
"Ada apa?"
Ia tidak menjawab.
Justru membuka daftar isi lebih teliti.
Lalu ia menoleh kepadaku sambil tersenyum usil.
"Man..."
"Hm?"
"Ternyata lengkap juga, ya."
"Maksudnya?"
Ia menunjuk salah satu judul bab tanpa mengucapkannya.
Aku spontan melihat ke arah yang ditunjuk.
Baru membaca beberapa kata saja, wajahku langsung terasa panas.
"Eh..."
Aku buru-buru menutup bukunya.
Ikrom langsung tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha..."
"Jangan keras-keras."
"Nanti teman-teman dengar."
Ia masih tertawa sambil memegangi perutnya.
"Kenapa ditutup?"
"Ya... nanti sajalah."
"Nanti kapan?"
Aku berdeham pelan.
"Kalau sudah waktunya."
"Memangnya sekarang belum?"
Aku menggeleng.
"Belum."
"Padahal bukunya sudah dibeli."
"Iya."
"Lalu kenapa tidak dibaca?"
Aku tersenyum malu.
"Bab itu... kulewati dulu."
Ikrom kembali tertawa.
"Man..."
"Apa?"
"Kau ini lucu."
"Kenapa lagi?"
"Orang beli buku biasanya penasaran ingin membaca bagian yang paling menarik."
Aku menggeleng sambil tersenyum.
"Kalau aku justru ingin membaca bagian yang paling kubutuhkan."
"Lalu yang itu?"
"Kubelajarinya kalau Allah sudah menghalalkannya."
Ikrom tidak lagi tertawa.
Ia menatapku beberapa saat, lalu mengangguk pelan.
"Masuk akal."
Aku mengambil kembali buku itu, lalu memasukkannya ke dalam lemari.
Bab-bab tentang membangun keluarga, memilih pasangan, komunikasi suami istri, dan tanggung jawab seorang laki-laki kubaca berulang kali. Adapun bagian yang membahas hubungan paling pribadi antara suami dan istri, sengaja kulewati. Bukan karena menganggapnya tabu, tetapi karena aku ingin menjaga pikiranku. Aku merasa setiap ilmu memiliki waktunya sendiri, dan aku tidak ingin mendahului waktu yang telah Allah tetapkan.
—
Sejak saat itu, setiap kali mendapat kiriman uang dari rumah, aku hampir selalu menyisihkannya untuk membeli buku.
Sedikit demi sedikit, rak kecil di samping tempat tidur mulai terisi. Ada buku tentang fiqih keluarga, adab memilih pasangan, pendidikan anak, komunikasi dalam rumah tangga, hingga kisah rumah tangga Rasulullah ﷺ. Beberapa teman bahkan mulai menjulukiku sebagai "calon pengantin", sementara Ikrom hanya bisa menggelengkan kepala setiap kali melihatku pulang membawa buku baru.
"Man."
"Hm?"
"Kalau begini terus..."
"Kenapa?"
"Nanti yang kau bawa pulang bukan koper."
"Lalu?"
"Perpustakaan."
Aku tertawa.
"Mudah-mudahan."
"Supaya apa?"
"Supaya suatu hari nanti, keluargaku dibangun dengan ilmu."
Ikrom tersenyum tipis.
"Semoga Allah mewujudkan niat baikmu."
"Āmīn."
—
Sejak membeli Bahagianya Merayakan Cinta, aku mulai menyadari satu hal.
Ternyata membaca satu buku saja tidak cukup.
Semakin banyak membaca, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul di kepalaku.
Bagaimana memilih pasangan yang baik?
Apa kewajiban seorang suami?
Bagaimana Rasulullah ﷺ memperlakukan istri-istrinya?
Bagaimana cara mendidik anak?
Semua pertanyaan itu membuatku semakin sering mengunjungi perpustakaan pondok. Sayangnya, buku-buku tentang rumah tangga di sana tidak terlalu banyak. Sebagian besar membahas fikih ibadah, tafsir, hadits, atau bahasa Arab.
Aku akhirnya memiliki satu kebiasaan baru.
Menunggu Jumat pekan kedua.
—
Di pesantren kami, kesempatan keluar tidak datang setiap pekan. Hanya pada Jumat pekan kedua setiap bulan, para santri mendapatkan izin keluar pondok selama beberapa jam. Sebagian memanfaatkannya untuk makan di luar, membeli perlengkapan pribadi, atau sekadar berjalan-jalan melepas penat.
Aku memiliki tujuan yang berbeda.
Toko buku.
—
"Man."
"Iya?"
"Kali ini mau makan bakso di mana?"
Aku tersenyum.
"Bukan bakso."
"Lho?"
"Mau ke toko buku."
Ikrom langsung tertawa.
"Lagi?"
"Iya."
"Man..."
Ia menggeleng pelan.
"Sebulan sekali keluar pondok."
Aku mengangguk.
"Terus?"
"Yang kau cari tetap buku?"
"Iya."
Ikrom memandangku beberapa saat.
"Aku kira kau sudah punya semuanya."
Aku ikut tertawa.
"Ilmu tidak pernah selesai."
"Kalau rak bukumu?"
"Itu yang hampir selesai."
"Hahaha..."
—
Kami berjalan menyusuri pertokoan kecil di dekat terminal. Beberapa teman sudah lebih dulu menghilang ke warung bakso langganan. Yang lain sibuk membeli sandal, sabun, atau camilan untuk persediaan sampai bulan depan.
Aku justru mempercepat langkah menuju toko buku.
Ikrom mengikutiku dari belakang.
"Man."
"Hm?"
"Serius tanya."
"Apa?"
"Memangnya kau sudah baca semua buku yang kemarin?"
"Belum."
"Lalu kenapa beli lagi?"
Aku berhenti sejenak di depan rak buku.
"Karena kesempatan keluarnya hanya sebulan sekali."
Ikrom mengangguk pelan.
"Oh iya juga."
"Kalau bulan ini tidak kubeli..."
"...berarti aku harus menunggu bulan depan."
Ia tersenyum.
"Pantas."
Aku mengambil dua buku dari rak.
Ikrom memperhatikan sampulnya.
"Rumah Tangga..."
Ia membaca judul buku pertama.
Kemudian berpindah ke buku kedua.
"Pendidikan Anak..."
Ia menatapku heran.
"Man."
"Hm?"
"Kau ini mau menikah..."
"...atau mau langsung punya cucu?"
Aku spontan tertawa.
"Bukunya memang itu yang kubutuhkan."
"Tapi kau bahkan belum punya istri."
Aku tersenyum.
"Kalau menunggu punya istri baru belajar..."
"...kasihan istriku nanti."
Ikrom terdiam.
Beberapa detik kemudian ia mengangguk pelan.
"Masuk akal."
—
Perjalanan pulang menuju pondok dipenuhi suara tawa teman-teman yang sibuk membandingkan makanan hasil belanja mereka.
"Aku beli roti tiga bungkus."
"Aku beli abon."
"Aku beli kerupuk."
Ikrom ikut membuka kantong plastiknya.
"Lihat."
"Apa?"
"Keripik."
Aku tertawa.
"Sudah kuduga."
"Lho, kau beli apa?"
Aku mengangkat kantong kertas dari toko buku.
"Buku."
Ikrom memukul pelan dahinya.
"Ya Allah..."
"Apa?"
"Kita sama-sama belanja."
"Iya."
"Tapi yang satu buat perut."
"Yang satu lagi?"
"Buat masa depan."
Aku tersenyum.
"Semoga dua-duanya bermanfaat."
Ikrom ikut tersenyum.
"Āmīn."
—
Malam itu, setelah seluruh penghuni kamar tertidur, aku kembali menyusun buku-buku itu di rak kecil di samping tempat tidur.
Jumlahnya memang belum banyak.
Namun setiap sampul memiliki cerita.
Ada yang kubeli dari menyisihkan uang jajan selama berminggu-minggu.
Ada yang kubeli setelah mengurungkan niat membeli makanan kesukaanku.
Ada pula yang kubeli karena merasa satu bulan adalah waktu yang terlalu lama untuk dilewatkan tanpa membawa pulang ilmu baru.
Aku mengusap pelan deretan buku itu.
Lalu tersenyum sendiri.
Mungkin bagi sebagian orang, semua ini terlihat terlalu dini.
Namun bagiku, menyiapkan diri untuk sebuah amanah tidak pernah bisa dikatakan terlalu cepat.
Sebab aku percaya, ketika Allah benar-benar mempertemukan seseorang dengan amanah besar bernama keluarga, yang paling menenangkan bukanlah banyaknya harta yang dimiliki.
Melainkan keyakinan bahwa kita telah berusaha mempersiapkan diri sebaik mungkin, jauh sebelum hari itu tiba.
—
Buku-buku yang mulai memenuhi rak kecil di samping tempat tidur ternyata tidak menjawab semua pertanyaanku.
Semakin banyak membaca, justru semakin kusadari bahwa membangun rumah tangga bukan hanya tentang memahami isi buku. Ada pengalaman, kebijaksanaan, dan nasihat yang hanya bisa diperoleh dari orang-orang yang telah lebih dulu menjalaninya.
Sejak saat itu, setiap kali memiliki kesempatan, aku mulai memberanikan diri berkonsultasi kepada para asatidz.
—
Suatu sore setelah halaqah tahfidz selesai, kulihat Ustadz Hasan—demikian kami biasa memanggilnya—masih duduk di serambi masjid sambil membaca Al-Qur'an.
Aku menghampiri beliau perlahan.
"Assalaamu'alaikum, Ustadz."
"Wa'alaikumussalaam, Ghilman."
Beliau menutup mushafnya lalu tersenyum.
"Ada yang ingin ditanyakan?"
Aku duduk bersila di hadapan beliau.
"Iya, Ustadz."
"Silakan."
Aku terdiam beberapa saat. Entah mengapa, pertanyaan yang sudah kususun sejak semalam mendadak terasa sulit diucapkan.
"Ustadz..."
"Iya?"
"Menurut Ustadz..."
"...apa modal terpenting seorang laki-laki untuk menikah?"
Beliau tidak langsung menjawab.
Beliau justru balik bertanya.
"Menurutmu apa?"
Aku berpikir sejenak.
"Mungkin ilmu."
Beliau mengangguk pelan.
"Ilmu memang penting."
"Tapi..."
Beliau berhenti sejenak.
"...ilmu saja tidak cukup."
Aku memperhatikan setiap kalimat beliau.
"Akhlak."
"Tanggung jawab."
"Kesabaran."
"Itu semua juga harus dipersiapkan."
Aku mengangguk.
Beliau melanjutkan,
"Banyak orang sibuk mencari pasangan yang baik."
"Tetapi lupa bertanya..."
"...apakah dirinya sudah pantas menjadi pasangan yang baik."
Kalimat itu membuatku menunduk.
Beliau tersenyum.
"Ghilman."
"Iya, Ustadz."
"Teruslah belajar."
"Tapi jangan hanya belajar menjadi suami."
Aku menatap beliau.
"Belajarlah menjadi hamba Allah yang baik."
"Kalau itu sudah benar..."
"...insyaAllah Allah akan memudahkan urusan yang lain."
Aku mengangguk pelan.
"Jazakumullahu khairan, Ustadz."
"Wa iyyak."
—
Beberapa hari kemudian, aku kembali bertanya kepada asatidz yang lain.
Kali ini tentang nafkah.
"Ustadz..."
"Silakan."
"Apakah seseorang harus kaya sebelum menikah?"
Beliau tersenyum.
"Kalau harus kaya dulu..."
"...mungkin banyak orang tidak jadi menikah."
Aku ikut tersenyum.
Beliau melanjutkan,
"Islam tidak mensyaratkan kaya."
"Islam mensyaratkan kemampuan dan tanggung jawab."
"Rezeki akan terus Allah bukakan bagi orang yang mau berusaha."
"Tetapi..."
Beliau mengangkat telunjuknya.
"Jangan jadikan kalimat itu sebagai alasan untuk bermalas-malasan."
Aku mengangguk.
"Ikhtiar tetap wajib."
"Betul."
—
Lain hari, aku bertanya kepada ustadz yang berbeda.
"Ustadz."
"Iya."
"Kalau ada pemuda yang ingin menikah muda..."
"...apa nasihat pertama yang Ustadz berikan?"
Beliau tersenyum cukup lama.
"Luruskan niat."
Aku terdiam.
"Kalau niatmu hanya karena sedang jatuh cinta..."
"...semangatmu akan naik turun mengikuti perasaan."
"Tetapi kalau niatmu karena ingin menjaga diri dan mencari ridha Allah..."
"...insyaAllah langkahmu akan lebih kokoh."
Aku mengangguk pelan.
Jawaban itu seolah meneguhkan apa yang selama ini tumbuh di dalam hatiku.
—
Lama-kelamaan, para asatidz mulai mengenalku sebagai santri yang sering bertanya tentang rumah tangga.
Suatu hari, ketika aku baru saja selesai membantu merapikan perpustakaan, salah seorang ustadz tersenyum melihatku.
"Ghilman."
"Iya, Ustadz."
"Rak buku tentang keluarga di perpustakaan sudah hampir selesai kau baca?"
Aku tersipu malu.
"Belum semuanya, Ustadz."
Beliau tertawa kecil.
"Bagus."
"Terus belajar."
"Tapi jangan lupa..."
Aku menunggu kelanjutan kalimat beliau.
"...belajar itu bukan hanya dari buku."
"Melainkan juga dari kehidupan."
Aku mengangguk.
"Iya, Ustadz."
—
Malam itu aku kembali ke kamar dengan hati yang jauh lebih tenang.
Aku membuka buku catatan kecil yang selama ini selalu kubawa.
Di halaman kosong berikutnya, kutulis beberapa kalimat yang selama ini paling sering kudengar dari para asatidz.
Menjadi suami dimulai dari menjadi hamba Allah yang baik.
Jangan sibuk mencari pasangan yang baik, tetapi sibuklah memperbaiki diri agar pantas mendapatkan pasangan yang baik.
Ilmu adalah bekal, tetapi akhlak adalah penuntunnya.
Aku menutup buku itu perlahan.
Dari sudut kamar, Ikrom memperhatikanku sambil tersenyum.
"Man."
"Hm?"
"Kau tahu tidak?"
"Apa?"
"Kalau nanti jadi menikah..."
Aku menoleh.
"...istrimu pasti bahagia."
Aku tertawa kecil.
"Kenapa?"
"Soalnya sebelum menikah saja..."
"...kau sudah belajar lebih banyak daripada orang yang sudah menikah."
Aku menggeleng sambil tersenyum.
"Belum tentu."
"Lho?"
"Ilmu itu baru peta."
"Lalu?"
"Perjalanannya masih panjang."
Ikrom mengangguk pelan.
"Kalau begitu..."
"...semoga Allah memudahkan perjalananmu."
Aku tersenyum.
"Āmīn."
Comments
Post a Comment