7 BERSIKAP
BERSIKAP
Kamar berkapasitas lima puluh santri itu sangat luas. Luas kamar 20x10 meter. Langit-langitnya menjulang tinggi. Lemari berpintu dua setinggi dua meter berjejer rapi di tengah kamar, bagian atas untuk pakaian terlipat, bagian bawah untuk pakaian yang digantung dengan hanger. Ada delapan kamar mandi dan satu tiang memanjang yang biasa kami gunakan untuk menjemur handuk dan pakaian.
Suasana kamar selalu hidup selepas halaqoh pagi. Udara pegunungan sangat segar. Terlebih suasana pesantren masih sangat asri. Pepohonan, kicauan burung, hingga hangat sinar mentari pagi sangat mendukung proses menghafal kami.
Santri pun mulai sibuk
dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang sedang bersenda gurau, membicarakan
politik, membaca buku, olahraga, berbagi makanan, hingga yang sibuk memilah
pakaian yang hendak dicuci.
“Bukk!” Aku menghempaskan badan di atas
ranjang berukuran 2x1 meter. Aku merasa sepi di tengah bisingnya suasana asrama
di pagi hari.
“Apa gerangan, boi?”
Ikrom bertanya sambil tersenyum sumringah. Senyuman meledek.
“Tak apa.” jawabku sambil
melengos, membalikkan badan memunggungi Ikrom. Tak perlu dijelaskan, semua
santri pasti tau mengapa aku muram pagi ini. Ustadz Zaki mempermalukanku
habis-habisan di hadapan seluruh santri.
“Hahaha. Sudahlah lupakan
saja. Mayoritas santri tertolak di juzziyah pertama mereka. Kau hanya
perlu terbiasa.” pungkas Ikrom sambil membuka sebungkus keripik kentang.
“Mau?” Ikrom menyodorkan
keripik kentangnya.
Aku terperangah,
membalikkan badan. Hendak mengambil keripik kentang di tangan Ikrom.
“Eits. Tidak bisa.”
Ikrom menarik keripik kentangnya sambil terkekeh. “Keripik kentang ini paling
enak kalau disantap pakai nasi panas. Mumpung sekarang lauknya tempe bacem. Pasti
mantap!” Seru Ikrom. Perutnya berguncang-guncang bila membicarakan makanan.
“Baiklah. Ayo sarapan.”
jawabku sayu. Mungkin aku tidak akan memiliki gairah apapun seharian ini.
---
Di loteng yang berada
di atas asrama, aku dan Ikrom biasa sarapan setelah mengambil lauk di dapur umum.
Asrama berkapasitas 250 orang itu berdiri kokoh dengan 4 lantai dan 14 kamar. Kamarku
adalah kamar paling besar, berkapasitas 50 orang dan terletak di lantai paling
atas. Sehingga mudah saja bagi kami untuk memanjat loteng.
“Hari Jum’at besok kau
hendak kemana, boi?” Aku bertanya sambil menyantap sepiring nasi panas, tempe
bacem, dan ditaburi keripik kentang.
Jum’at kedua adalah
jadwal kami libur dan diperbolehkan keluar ke kota. Dibatasi waktu dari selepas
sholat Subuh hingga adzan Maghrib.
“Tak tau. Kau mau
kemana?” Ikrom berbalik tanya.
“Aku hendak ke toko
buku. Ada buku yang kucari.” jawabku.
“Wahh. Buku apa kiranya
yang kau cari, boi?” Ikrom penasaran.
“Buku tentang
percintaan dalam Islam.” Aku menjawab.
“Hahaha. Jika kau ingin
bertanya tentang percintaan, tanyalah saja padaku, boi. Aku ini tak kurang dari
buku berjalan. Jika dibukukan pengalamanku akan memakan seribu halaman lebih.”
Ikrom menepuk dadanya.
“Apa pula yang
merisaukanmu, boi?” Ikrom lanjut bertanya.
Aku mendesah halus. Menyiapkan
pertanyaan.
“Apa yang kau lakukan saat
merindukan seseorang?” Tanyaku lirih.
“Hahaha. Jadi ini
penyebab kau gagal juziyyah? Karena Azizah?” Ikrom malah tertawa
terbahak-bahak sampai hampir tersedak.
“Bukan! Bukan itu!” Aku
mencubit perutnya.
“Aku hanya bertanya. Bukankah
merindukan seseorang yang kita cintai saat berjauhan itu hal yang wajar?” Aku
bertanya sambil menatap Bukit Parang di kejauhan. Dan lagi-lagi aku
teringat wajah Azizah.
“Ya, itu wajar.” Ikrom
menjawab takzim. “Perasaan senang, sedih, rindu, hingga putus asa adalah hal
yang wajar. Bisa menerpa siapapun.” Tiba-tiba aura wajah Ikrom berubah menjadi
teduh.
“Tetapi kau tidak boleh
terfokus pada perasaan itu. Titik terpentingnya bukan saat perasaan itu datang,
tetapi bagaimana engkau bersikap.” Jawab Ikrom sambil menatap ke kejauhan
sambil berkacak pinggang. Berlagak sok bijak.
“Bukan main, boi.” Aku
terperangah. “Bagaimana kau bisa sebijak itu?” Tanyaku terheran-heran.
“Bukankah aku selalu
mengatakan bahwa aku jauh lebih berpengalaman daripada kau?” Ikrom mengangkat
dagunya.
“Baiklah, guru. Angkat aku
jadi muridmu.” Aku berlutut dihadapan Ikrom sambil menelungkupkan tangan.
“Hei
kalian! Ayo mandi! Sudah hampir masuk sekolah!” Kak Said berteriak dari bawah. Kami
terciduk sedang dalam posisi aneh.
“Eh.” Sontak aku dan
Ikrom memperbaiki posisi. Bersikap senormal mungkin.
“Baik, kak!” Aku dan
Ikrom menjawab serentak sambil buru-buru turun.
“Dasar kau! Membuatku malu
saja. Mengapa pula harus berlutut seperti itu?! Kak Said pasti mengira kau
sedang melamarku.” Ikrom mengomel.
“Biarkan saja, boi.
Mayoritas orang akan ber-suudzon10 saat melihat
sesuatu. Kau hanya perlu terbiasa.” Jawabku santai.
“Kurang ajar! Kali ini
kau meniru perkataanku.” Ikrom memukulku dengan piring plastiknya.
---
10 Prasangka Buruk

Comments
Post a Comment