16 RESTU DARI SEBERANG PULAU
RESTU DARI SEBERANG PULAU
Sudah hampir sepekan aku memikirkan hal itu.
Setiap selesai shalat, namanya selalu kuselipkan di dalam doa. Setiap kali membuka buku-buku tentang pernikahan yang memenuhi rak kecil di samping tempat tidur, pikiranku selalu kembali pada satu pertanyaan yang sama.
"Kalau aku benar-benar serius, siapa orang pertama yang harus mengetahuinya?"
Jawabannya selalu sama.
Ayah dan Ibu.
Aku sadar, restu mereka bukan sekadar pelengkap. Restu merekalah yang akan menjadi langkah pertama sebelum aku melangkah lebih jauh. Sebelum suatu hari nanti meminta izin kepada orang tua Azizah, aku ingin lebih dulu meminta doa kepada kedua orang tuaku sendiri.
Namun mengatakan semua itu ternyata tidak semudah yang kubayangkan.
—
Jumat pekan kedua akhirnya tiba.
Seperti biasa, para santri sudah bersiap sejak pagi. Ada yang membawa daftar belanja, ada yang menitipkan uang kepada teman, dan ada pula yang sudah sibuk membicarakan warung makan mana yang akan disinggahi terlebih dahulu.
"Man."
"Iya?"
"Kali ini mau beli buku lagi?"
Aku tersenyum.
"InsyaAllah."
Ikrom menggeleng sambil tertawa.
"Rakmu nanti penuh."
"Kalau penuh?"
"Kau beli rak baru."
Aku ikut tertawa.
"Bisa saja."
Ikrom memperhatikan wajahku beberapa saat.
"Tapi..."
"Apa?"
"Kau kelihatan tidak seperti biasanya."
"Maksudnya?"
"Sejak bangun Subuh tadi kau banyak melamun."
Aku mengalihkan pandangan.
"Sedikit."
"Sedikit?"
Ikrom menyipitkan mata.
"Kalau menurutku banyak."
Aku hanya tersenyum kecil.
"Ada yang mau kupikirkan."
"Soal Azizah?"
Aku tidak menjawab.
Ikrom tertawa pelan.
"Kalau diam begini berarti benar."
Aku menggeleng.
"Bukan tentang dia."
"Lalu?"
"Aku mau menelepon rumah."
Ikrom tampak heran.
"Itu kan biasa."
"Iya."
"Tapi kali ini berbeda."
Ikrom tidak lagi bercanda.
Ia mengenalku cukup baik untuk tahu bahwa ada sesuatu yang sedang kusimpan.
"Mau bicara apa?"
Aku menarik napas pelan.
"Nanti saja."
"Kepada Ayah?"
"Ibu."
"Kenapa Ibu?"
Aku tersenyum.
"Lebih mudah memulainya lewat Ibu."
Ikrom mengangguk pelan.
"Semoga dimudahkan."
"Āmīn."
—
Menjelang siang aku berjalan menuju kantor kesantrian. Beberapa santri sudah lebih dulu duduk di teras sambil menunggu giliran. Di atas meja tampak sebuah telepon genggam Nokia berwarna hitam yang setiap Jumat pekan kedua digunakan bergantian oleh para santri untuk menghubungi keluarga di rumah.
"Masih antre?" tanyaku.
Salah seorang teman mengangguk.
"Tinggal dua orang lagi."
Aku duduk di bangku kayu yang berada di depan kantor. Entah mengapa, hari itu jantungku terasa berdetak lebih cepat dibanding biasanya. Padahal selama ini aku sudah berkali-kali menelepon rumah menggunakan telepon yang sama.
Namun kali ini berbeda.
Aku tidak hanya ingin mengabarkan bahwa aku sehat.
Aku tidak hanya ingin bercerita tentang hafalan.
Aku juga tidak hanya ingin menanyakan kabar Ayah dan Ibu.
Ada satu hal yang selama beberapa hari terakhir terus kupikirkan.
Dan hari itu, aku telah memutuskan untuk menyampaikannya.
Tak lama kemudian, salah seorang pengurus kesantrian keluar sambil membawa telepon genggam itu.
"Ghilman."
"Iya, Kak."
"Giliranmu."
Aku menerima telepon itu dengan kedua tangan.
"Terima kasih, Kak."
Nomor rumah sudah kuhafal di luar kepala.
Jemariku perlahan menekan tombol-tombol pada telepon genggam Nokia itu.
Nada sambung mulai terdengar.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
"Assalaamu'alaikum..."
Suara Ibu akhirnya terdengar dari seberang.
Dadaku kembali berdebar.
"Wa'alaikumussalaam, Bu."
"Ghilman?"
"Iya, Bu."
"Alhamdulillah... bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulillah sehat."
"Hafalannya bagaimana?"
"Alhamdulillah lancar."
Percakapan kami mengalir sebagaimana biasanya. Ibu bercerita tentang keadaan rumah, pembangunan lembaga pendidikan yang sedang dirintis Ayah, juga beberapa tetangga yang sempat menanyakan kabarku.
Aku lebih banyak mendengarkan.
Sesekali menjawab singkat.
Namun sejak tadi ada satu kalimat yang terus tertahan di tenggorokanku.
Ibu rupanya menyadari.
"Ghilman..."
"Iya, Bu?"
"Kamu kok dari tadi seperti ada yang ingin disampaikan?"
Aku tersenyum sendiri.
Ternyata Ibu masih sangat mengenalku.
"Iya, Bu."
"Ada apa?"
Aku menarik napas panjang.
Jantungku berdetak semakin cepat.
"Bu..."
"Iya?"
"Ghilman ingin minta doa."
"Doa apa?"
"Semoga Allah memudahkan niat baik Ghilman."
Ibu terdiam beberapa saat.
"Niat apa, Nak?"
Aku memejamkan mata sejenak.
Lalu dengan suara yang pelan namun mantap, akhirnya aku mengatakannya.
"Ghilman ingin menikah setelah lulus dari pondok."
Hening.
Tak ada jawaban selama beberapa detik.
Aku bahkan sempat mengira sambungan telepon terputus.
Namun kemudian terdengar suara tawa kecil dari seberang sana.
"MasyaAllah..."
Aku ikut tersenyum.
"Serius, Nak?"
"InsyaAllah, Bu."
"Tidak bercanda?"
"Tidak."
Ibu kembali terdiam.
Kemudian, dengan nada yang lembut, beliau mengajukan satu pertanyaan yang selama beberapa hari terakhir sebenarnya sudah kuduga akan muncul.
"Ghilman..."
"Iya, Bu?"
"...memangnya sudah ada calonnya?"
Aku menarik napas panjang.
Selama beberapa hari terakhir, pertanyaan itu sudah sering kubayangkan. Namun ketika benar-benar keluar dari mulut Ibu, tetap saja ada rasa gugup yang sulit dijelaskan.
"Iya, Bu."
Jawabku pelan.
Ibu terdiam sejenak.
"Siapa namanya?"
"Azizah."
"Azizah..."
"Iya, Bu."
"Anak mana dia?"
"Jawa Barat."
"Orang Sunda?"
Aku tersenyum.
"Bukan, Bu."
"Lho?"
"Keluarganya orang Jawa. Hanya saja mereka tinggal di Jawa Barat."
"Oh..."
Suara Ibu terdengar lega.
"Ibu kira nanti harus belajar bahasa Sunda."
Aku tertawa kecil.
"InsyaAllah tidak, Bu."
Ibu ikut tertawa.
"Lalu... kenal dari mana?"
"Waktu MTs kami mondok di pesantren yang sama."
"Oh begitu."
"Kalau sekarang?"
"Sekarang sudah berbeda pondok."
"Kenapa bisa?"
"Ghilman pindah ke pesantren lain untuk melanjutkan MA."
"Kalau Azizah?"
"Masih melanjutkan di Pesantren Salamatuddin."
Ibu mengangguk pelan, seolah sedang menyusun potongan-potongan cerita yang selama ini belum pernah beliau dengar.
"Berarti sekarang sudah jarang bertemu?"
"Iya, Bu."
"Masih sering berkomunikasi?"
Aku menggeleng, meski Ibu tentu tidak dapat melihatnya.
"Tidak."
"Sama sekali?"
"Iya."
"Kenapa?"
Aku terdiam sesaat sebelum menjawab.
"Karena Ghilman ingin menjaganya."
"Menjaga bagaimana?"
"Kalau memang Allah menakdirkan kami berjodoh..."
"...Ghilman ingin memulainya dengan cara yang benar."
"Maksudnya?"
"Aku tidak ingin membangun hubungan yang tidak Allah ridai."
Hening beberapa saat.
Kemudian terdengar suara Ibu yang begitu pelan.
"Alhamdulillah..."
"Kenapa, Bu?"
"Ibu bersyukur."
"Karena?"
"Karena ternyata yang kamu pikirkan bukan hanya soal menikah."
"Tetapi juga bagaimana menjaganya."
Aku tersenyum.
"Itu yang diajarkan para ustadz kepada kami, Bu."
Ibu kembali terdiam.
"Ghilman."
"Iya?"
"Dia tahu kalau kamu ingin menikahinya?"
Aku mengembuskan napas pelan.
"Belum."
"Belum?"
"Belum pernah aku sampaikan."
"Lho..."
"Terus bagaimana dia bisa tahu?"
Aku tersenyum kecil.
"Itu urusan nanti, Bu."
"Kalau memang Allah membuka jalannya..."
"...aku ingin datang melalui orang tuanya."
"...bukan melalui pesan atau telepon."
Untuk beberapa saat, hanya suara napas Ibu yang terdengar.
Lalu beliau berkata pelan.
"Ibu bangga sama kamu."
Mataku mulai terasa hangat.
"Terima kasih, Bu."
"Tunggu sebentar, ya."
"Mau ke mana?"
"Ibu panggil Ayah dulu."
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki.
Beberapa detik setelah itu, suara Ayah terdengar dari seberang.
"Assalaamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalaam, Yah."
"Ibumu sudah cerita."
"Iya, Yah."
"Kamu benar-benar sudah memikirkannya?"
"Sudah."
"Bukan karena ikut-ikutan teman?"
"Bukan."
"Bukan karena sedang terbawa perasaan?"
"Bukan juga."
"Lalu kenapa ingin menikah muda?"
Aku menarik napas panjang.
"Karena Ghilman ingin menjaga diri dari fitnah."
"...ingin menyempurnakan agama."
"...dan ingin belajar menjadi laki-laki yang bertanggung jawab sejak muda."
Ayah tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian beliau berkata dengan tenang.
"Kalau begitu..."
"...Ayah dan Ibu merestui."
Dadaku terasa lega.
"Alhamdulillah."
"Tapi ada satu pesan Ayah."
"Iya, Yah."
"Selesaikan dulu pendidikanmu."
"Jaga akhlakmu."
"Jaga nama baik keluarga."
"Dan kalau nanti Allah benar-benar membukakan jalannya..."
"...datanglah sebagai laki-laki yang terhormat."
"...temui orang tuanya."
"...mintalah izin kepada walinya."
Aku mengangguk kuat-kuat.
"InsyaAllah, Yah."
"Jangan pernah mengambil jalan pintas."
"Iya."
"Kalau memang dia jodohmu..."
"...Allah akan mempertemukan kalian dengan cara yang baik."
Mataku mulai berkaca-kaca.
"Terima kasih, Yah."
"Ayah dan Ibu akan mendoakanmu."
"Terima kasih."
Telepon pun berakhir.
Aku memandangi layar kecil telepon genggam Nokia itu beberapa saat sebelum mengembalikannya kepada pengurus kesantrian.
Langkahku kembali menuju asrama terasa jauh lebih ringan.
Hari itu, untuk pertama kalinya, aku tidak lagi menyimpan impian itu sendirian.
Kini, Ayah dan Ibu telah mengetahuinya.
Dan yang lebih membuatku bersyukur, mereka tidak hanya mendengar.
Mereka juga merestuinya.
—
Aku menyerahkan kembali telepon genggam itu kepada pengurus kesantrian.
"Sudah selesai, Man?"
"Iya, Kak."
"Alhamdulillah."
Aku mengangguk pelan lalu melangkah meninggalkan kantor kesantrian. Entah mengapa, jalan yang kulewati terasa berbeda dari biasanya. Bukan karena pemandangannya berubah, melainkan karena ada beban yang sejak lama kusimpan, kini akhirnya terangkat.
Aku menengadah memandang langit.
"Alhamdulillah..."
Hanya satu kalimat itu yang berulang kali terucap di dalam hati.
—
"Man!"
Suara Ikrom memanggil dari kejauhan.
Ia sedang duduk di bawah pohon mangga bersama beberapa teman. Begitu melihatku datang, ia langsung berdiri menghampiri.
"Gimana?"
Aku tersenyum.
"Apa?"
"Teleponnya."
"Oh..."
Aku mengangguk pelan.
"Alhamdulillah."
Ikrom langsung memahami maksudku.
"Direstui?"
"Iya."
Wajahnya ikut berbinar.
"MasyaAllah."
Ia spontan memelukku sebentar.
"Selamat."
Aku tertawa kecil.
"Belum nikah juga."
"Bukan itu."
"Lalu?"
"Selamat karena doamu dijawab."
Kami kembali berjalan menuju asrama.
Beberapa saat tak ada yang berbicara.
Ikrom tiba-tiba memecah keheningan.
"Terus..."
"Apa?"
"Ibumu bilang apa?"
"Beliau senang."
"Ayahmu?"
"Juga merestui."
Ikrom mengangguk pelan.
"Lega?"
"Sangat."
"Tapi..."
Aku menoleh.
"Ayah bilang satu hal."
"Apa?"
"'Datanglah sebagai laki-laki yang terhormat.'"
Ikrom mengulang pelan kalimat itu.
"Laki-laki yang terhormat..."
"Iya."
Ia tersenyum kecil.
"Itu berat."
Aku mengangguk.
"Makanya..."
"...aku masih harus banyak belajar."
—
Sore itu kami kembali ke kamar.
Aku membuka lemari kecil di samping tempat tidur.
Deretan buku yang beberapa bulan terakhir mulai memenuhi rak itu masih tersusun rapi.
Aku mengambil buku catatan kecil yang selalu kubawa.
Kubuka halaman yang beberapa hari lalu kutulis.
Target Setelah Lulus
Menyelesaikan hafalan Al-Qur'an.
Berbakti kepada Ayah dan Ibu.
Mengabdi di jalan dakwah.
Menjadi laki-laki yang mampu memimpin keluarga.
Menikah di usia 19 tahun.
Aku memandang daftar itu cukup lama.
Dulu, tulisan itu hanya diketahui oleh diriku sendiri.
Kini...
Ayah dan Ibu telah mengetahuinya.
Tanganku mengambil pena.
Di bawah daftar itu kutambahkan satu kalimat.
Restu sudah kudapatkan. Kini tugasku adalah memantaskan diri.
Aku menutup buku itu perlahan.
"Man."
"Hm?"
Ikrom yang sejak tadi memperhatikanku kembali membuka suara.
"Kau tahu tidak..."
"Apa?"
"Aku baru sadar."
"Sadar apa?"
"Kau ini aneh."
Aku tertawa.
"Kenapa lagi?"
"Dari dulu orang yang ingin menikah biasanya sibuk mencari pasangan."
Aku tersenyum.
"Lalu?"
"Kau malah sibuk membeli buku."
Aku tertawa lebih keras.
"Terus?"
"Sibuk mencatat pengeluaran."
Aku mengangguk.
"Masih kurang."
"Lho?"
"Kau juga sibuk bertanya kepada ustadz."
Aku mengangguk lagi.
"Iya."
Ikrom menggeleng sambil tersenyum.
"Aku rasa..."
"Apa?"
"...Azizah itu bahkan belum tahu kalau ada seorang santri di pesantren lain yang sedang belajar menjadi suami."
Aku tersenyum tipis.
"Mungkin."
"Kalau begitu..."
Ikrom menepuk bahuku pelan.
"...jangan sia-siakan perjuanganmu."
Aku menatapnya.
"InsyaAllah."
—
Malam itu, sebelum tidur, aku kembali membuka mushaf Al-Qur'an.
Aku teringat satu kalimat Ayah.
"Datanglah sebagai laki-laki yang terhormat."
Kalimat itu terus terngiang di kepalaku.
Aku sadar, restu Ayah dan Ibu bukanlah garis akhir.
Justru itulah garis mulainya.
Masih ada hafalan yang harus kuselesaikan.
Masih ada ilmu yang harus kupelajari.
Masih ada akhlak yang harus terus kuperbaiki.
Dan suatu hari nanti...
Jika Allah benar-benar membukakan jalan...
Aku ingin datang mengetuk pintu rumah Azizah bukan hanya membawa rasa cinta.
Tetapi juga membawa keyakinan bahwa aku telah berusaha menjadi laki-laki yang layak memintanya kepada kedua orang tuanya.
Aku memejamkan mata.
Di luar kamar, angin malam berembus pelan melewati pepohonan pondok.
Sementara di dalam hati, sebuah tekad kembali tumbuh.
Aku tidak tahu bagaimana akhir dari perjalanan ini.
Tetapi mulai malam itu, aku berjanji pada diriku sendiri.
Aku akan memperjuangkannya dengan cara yang Allah ridai.
Comments
Post a Comment