17 TEMPAT MENYIMPAN HATI

 

TEMPAT MENYIMPAN HATI

Hari-hari di pondok kembali berjalan seperti biasa. Seusai mendapatkan restu dari Ayah dan Ibu, tidak ada perubahan yang terlihat dari diriku. Aku masih mengikuti halaqah, sekolah, piket kebersihan, olahraga, hingga belajar malam seperti santri lainnya. Namun, ada satu hal yang perlahan berubah. Kini aku lebih sering tenggelam dalam pikiranku sendiri.

Bukan karena sedih.

Bukan pula karena gelisah.

Melainkan karena terlalu banyak hal yang ingin kupersiapkan.

Setiap selesai membaca buku tentang rumah tangga, selalu muncul pertanyaan baru. Setelah berdiskusi dengan para asatidz, aku justru merasa masih sangat jauh dari kata siap. Semakin banyak belajar, semakin kusadari bahwa menjadi seorang suami jauh lebih sulit daripada sekadar mengucapkan akad.

Suatu sore, aku sedang merapikan lemari. Rak kecil di samping tempat tidur yang dahulu hanya berisi beberapa pakaian kini mulai dipenuhi buku. Sebagian tentang fikih keluarga, sebagian lagi tentang pendidikan anak, komunikasi dalam rumah tangga, dan kisah keluarga Rasulullah ﷺ.

Ikrom yang baru selesai mencuci pakaian melirik ke arah lemariku.

"Man."

"Hm?"

"Kau sadar tidak?"

"Apa?"

"Isi lemarimu mulai aneh."

Aku tersenyum sambil tetap menyusun buku.

"Aneh bagaimana?"

"Santri lain isinya mi instan."

Aku tertawa.

"Lalu?"

"Pun punyamu isinya buku nikah semua."

Aku menggeleng sambil tersenyum.

"Belum semua."

"Lho, masih kurang?"

"Masih."

Ikrom menghela napas panjang.

"Kadang aku bingung."

"Bingung apa?"

"Kau ini sebenarnya sedang sekolah..."

"...atau sedang kuliah jadi suami."

Aku spontan tertawa.

"Belajar tidak harus menunggu kuliah."

Ikrom ikut tersenyum.

"Iya juga."

Ia kemudian mengambil salah satu buku dari rak.

"Yang ini sudah selesai?"

"Sudah."

"Yang itu?"

"Sudah."

"Kalau yang paling atas?"

"Belum."

Ikrom mengembalikan buku itu ke tempat semula.

"Man."

"Hm?"

"Kau tidak bosan?"

Aku berhenti sejenak.

"Belajar?"

"Iya."

Aku menggeleng.

"Justru semakin belajar, semakin sadar kalau aku belum tahu apa-apa."

Ikrom mengangguk pelan.

"Kalau begitu..."

"...berarti bukumu akan terus bertambah."

"Mungkin."

"Tolong jangan sampai nanti aku tidur di luar kamar gara-gara bukumu."

Aku kembali tertawa.

Malam itu, setelah seluruh penghuni kamar terlelap, aku masih duduk bersandar di tepi tempat tidur. Mataku memandangi deretan buku yang tersusun rapi di dalam lemari.

Buku-buku itu telah banyak mengajariku.

Tentang cinta.

Tentang tanggung jawab.

Tentang keluarga.

Tentang menjadi seorang laki-laki.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh buku mana pun.

Bagaimana cara menghadapi rindu yang tidak boleh diungkapkan.

Aku mengembuskan napas pelan.

Ada banyak hal yang ingin kuceritakan.

Tentang perjuanganku.

Tentang doa-doaku.

Tentang rasa takut.

Tentang harapan.

Tetapi semuanya hanya berputar di dalam kepala.

Tidak mungkin kuceritakan kepada Ikrom.

Tidak mungkin pula setiap saat kuceritakan kepada Ayah dan Ibu.

Aku membuka laci kecil di bawah meja belajar. Di sana masih tersimpan sebuah buku tulis kosong yang sudah beberapa bulan kubeli, tetapi belum pernah kugunakan.

Kubuka halaman pertamanya.

Masih bersih.

Aku mengambil pena.

Kutatap halaman putih itu cukup lama.

Entah mengapa, tanganku belum juga bergerak.

Aku hanya tersenyum kecil.

"Mungkin..."

"...aku memang membutuhkan tempat untuk menyimpan semua ini."

Aku menarik napas panjang.

Lalu kutuliskan tanggal di pojok kanan atas halaman pertama.

Pena itu akhirnya mulai bergerak.

Pena itu masih kugenggam.

Beberapa kali ujungnya menyentuh kertas, tetapi kembali terangkat. Ternyata memulai sebuah tulisan jauh lebih sulit daripada yang kubayangkan. Selama ini aku begitu mudah menulis rangkuman pelajaran atau mencatat isi kajian. Namun malam itu berbeda. Yang ingin kutulis bukan ilmu, melainkan isi hati.

Aku memejamkan mata sejenak.

Lalu, perlahan, tinta hitam mulai mengalir di atas halaman putih itu.

Catatan Ghilman

12 Mei 2017

Assalaamu'alaikum, Azizah.

Mungkin ini terdengar aneh. Aku menulis namamu, tetapi tidak pernah berniat mengirimkan tulisan ini kepadamu. Bahkan besar kemungkinan kau tidak akan pernah tahu bahwa buku kecil ini ada.

Hari ini Ayah dan Ibu telah mengetahui tentangmu. Mereka tidak mengenalmu. Mereka belum pernah melihat wajahmu. Mereka hanya mengetahui namamu, asal daerahmu, dan bahwa kita pernah belajar di pesantren yang sama.

Aku bersyukur. Bukan karena merasa selangkah lebih dekat denganmu, tetapi karena aku tidak lagi memikul harapan ini sendirian. Kini Ayah dan Ibu turut mendoakannya.

Aku tidak tahu bagaimana takdir Allah kelak. Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti aku benar-benar akan datang mengetuk pintu rumahmu atau justru belajar mengikhlaskanmu. Semua itu masih menjadi rahasia-Nya.

Yang bisa kulakukan hari ini hanyalah mempersiapkan diri. Memperbaiki akhlak, memperbanyak ilmu, dan belajar menjadi laki-laki yang pantas berdiri di hadapan ayahmu.

Kalau suatu hari nanti Allah benar-benar mempertemukan kita, semoga saat itu aku datang bukan hanya membawa rasa cinta, tetapi juga tanggung jawab.

— Ghilman

Aku meletakkan pena di atas meja.

Kubaca kembali tulisan itu dari awal hingga akhir.

Tidak ada kata-kata indah.

Tidak ada rayuan.

Tidak ada janji.

Hanya ada isi hati yang selama ini kusimpan sendiri.

Aku menutup buku itu perlahan, lalu menyelipkannya di antara buku-buku lain di dalam lemari. Letaknya sengaja kubuat tidak mencolok. Bukan karena takut diketahui orang lain, tetapi karena bagiku catatan itu terlalu pribadi untuk dibaca siapa pun.

Malam semakin larut.

Lampu belajar satu per satu mulai dipadamkan. Sebelum berbaring, aku sempat menoleh sekali lagi ke arah lemari kecil di samping tempat tidur.

Kini, selain menjadi tempat menyimpan buku-buku yang mengajariku tentang kehidupan, lemari itu juga menyimpan sebuah buku kecil yang akan menjadi saksi perjalanan hatiku.

Aku belum tahu akan berapa banyak halaman yang akan terisi.

Aku juga belum tahu bagaimana akhir kisah ini.

Tetapi mulai malam itu, aku berjanji pada diriku sendiri.

Aku hanya akan menulis apa yang benar-benar kurasakan.

Tidak lebih.

Dan tidak kurang.

Keesokan paginya, suasana kamar kembali ramai. Sebagian santri masih melipat selimut, sebagian lagi berebut antrean kamar mandi. Aku sendiri sedang merapikan meja belajar sebelum berangkat ke sekolah.

Buku catatan itu masih tergeletak di atas meja.

Belum sempat kusimpan ke dalam lemari.

"Man."

Aku menoleh.

Ikrom baru selesai memakai peci sambil mengusap rambutnya dengan handuk kecil.

"Hm?"

"Itu buku baru?"

Aku spontan menoleh ke arah meja.

"Iya."

"Beli kapan?"

"Sudah lama."

"Kok baru kelihatan?"

"Baru dipakai."

Ikrom mengambil buku itu sebelum sempat kuraih.

"Catatan?"

"Iya."

"Boleh lihat?"

Refleks aku berdiri.

"Jangan."

Ikrom langsung tertawa.

"Wah..."

"Apa?"

"Biasanya bukumu boleh kupinjam."

"Yang ini jangan."

"Kenapa?"

Aku mengambil kembali buku itu dari tangannya.

"Isinya pribadi."

Ikrom menyilangkan tangan di dada sambil tersenyum penuh arti.

"Berarti benar."

"Benar apa?"

"Isinya tentang Azizah."

Aku menggeleng.

"Tidak semuanya."

"Nah..."

Ikrom menunjukku.

"Berarti ada."

Aku tidak menjawab.

Ia tertawa puas.

"Diam berarti mengaku."

Aku hanya bisa tersenyum sambil memasukkan buku itu ke dalam lemari.

Ikrom masih belum menyerah.

"Man."

"Hm?"

"Kalau suatu hari nanti kalian benar-benar menikah..."

Aku menoleh.

"...boleh tidak buku itu dibaca istrimu?"

Aku berpikir beberapa saat.

"Lihat nanti."

"Lho."

"Kenapa?"

"Kalau menurutku..."

"Apa?"

"...jangan."

Aku tersenyum heran.

"Kenapa?"

Ikrom tertawa kecil.

"Nanti dia tahu betapa sering kau memikirkannya."

Aku ikut tertawa.

"Belum tentu."

"Belum tentu?"

"Bisa jadi..."

"...dia malah menertawakanku."

Ikrom menggeleng.

"Tidak."

"Kenapa yakin?"

"Karena perempuan biasanya senang kalau tahu ada laki-laki yang memperjuangkannya."

Aku terdiam.

Beberapa detik kemudian aku berkata pelan,

"Kalau memang Allah menakdirkan dia menjadi istriku..."

"...aku ingin yang dia lihat bukan buku ini."

"Lalu?"

"Perubahanku."

Ikrom memandangku cukup lama.

Untuk pertama kalinya pagi itu, ia tidak menjawab dengan candaan.

Ia hanya mengangguk pelan.

"Itu lebih mahal daripada seribu halaman tulisan."

Bel berbunyi dari arah sekolah.

Para santri mulai bergegas keluar kamar.

Aku mengunci lemari sebelum ikut berjalan bersama Ikrom.

Buku kecil itu kembali tersimpan rapi di antara deretan buku-buku lain.

Belum ada seorang pun yang membacanya.

Dan memang tidak ada niat sedikit pun untuk memperlihatkannya kepada siapa pun.

Bagiku, buku itu bukan untuk dikenang.

Melainkan untuk mengingatkan.

Bahwa setiap kali hati mulai dipenuhi rindu, selalu ada tempat yang aman untuk menumpahkannya tanpa harus melanggar apa yang telah Allah gariskan.

📖 Catatan Ghilman

27 Mei 2017

Hari ini aku menulis satu kalimat yang terus terngiang di kepalaku.

Cinta yang baik tidak selalu meminta untuk segera dimiliki.

Kadang ia hanya meminta agar pemiliknya menjadi pribadi yang lebih baik.

Jika suatu hari nanti aku benar-benar datang ke rumahmu, semoga yang pertama kali dilihat ayahmu bukan keberanianku.

Semoga yang beliau lihat adalah akhlakku.

— Ghilman


Comments

Popular posts from this blog

1 MENTAL KERUPUK

PROLOG

9 ENERGI BESAR IKRAM