4 MUKA REMBULAN
MUKA REMBULAN
Malam
ini sangat indah. Meski tubuhku letih bukan kepalang, bintang kejora masih
menampakkan pesonanya di langit barat. Kerlap-kerlip dari bintang-gemintang itu
membentuk rasi yang padu. Berkedip-kedip bak lampu sekarat. Bersanding dengan
Sang Raja langit malam. Rembulan.
Ternyata
begini langit bumi saat tak ada polusi cahaya. Semuanya tampak elok.
Bagai lautan lampu yang berpendar.
Aku
tak bisa tidur selepas whistle dibunyikan terakhir kali. Kami
tidur berdesak-desakan di tengah semak belukar agar lebih hangat. Ikrom
telentang di sebelahku. Perutnya menyembul. Sepertinya berat badannya sudah
turun drastis sejak hari pertama pekan orientasi dimulai.
“Kau
tak tidur?” Tanya Ikrom padaku yang masih menikmati panorama langit malam.
“Eh..
Emm.. Belum. Aku tak bisa tidur.”
“Sedang
memikirkan seseorang, ya?” Tanya Ikrom lagi. Sambil menyesuaikan posisiku.
Telentang sembari menyangga kepalanya dengan tangan.
“Eh..”
Aku terperangah. Bagaimana Ikrom bisa tahu?
“Aku
memperhatikanmu saat menatap bintang. Tatapanmu kosong. Seolah kau sedang
menatap wajahnya di muka rembulan.” Cerocos Ikrom.
“Kau
merindukannya?” Pertanyaan Ikrom semakin dalam. Ternyata ia sangat peka.
Aku
menatap Ikrom lamat-lamat. Wajahnya yang bulat terlihat lucu. Debu dan tanah
telah sepenuhnya mengotori jidat dan pipi tembamnya. Di bawah temaram cahaya
bulan ia tampak seperti panda. Aku terkekeh.
“Mengapa
malah tertawa sendiri? Sepertinya cinta telah membuatmu gila.” Caci Ikrom
mendengus.
“Tak
ada apa-apa. Kau tampak seperti panda.” Aku mengejek.
“Kau
ini. Diajak bicara serius malah bercanda.” Jawab Ikrom kesal sambil mengusap
wajahnya. Aku terkekeh.
“Jadi.
Bagaimana kau tau perasaanku?” Tanyaku penasaran.
“Hei
bung. Aku sudah jauh lebih berpengalaman di dunia percintaan daripada kau. Aku
pernah merasakan semuanya.” Jelas Ikrom agak pongah.
“Sejak
tadi aku melihat luka di matamu. Ceritakanlah. Kau pasti lebih lega setelah
bercerita.” Lanjut Ikrom.
Aku
menghela nafas. Apa aku harus menceritakannya? Tapi dilihat dari sifatnya,
sepertinya Ikrom orang yang baik. Belum lagi kemarin ia dipuji oleh Kak Said.
“Baiklah.”
Jawabku. “Tapi apakah kau mau berjanji untuk tidak menyebarkannya?” Aku
mengajukan syarat.
“Oke.
Tidak masalah.” Balasnya santai.
“Aku
mengenalnya tahun lalu." Aku mulai bercerita. "Saat kami sama-sama mewakili madrasah untuk maju ke
lomba MHQ4 tingkat provinsi. Sebenarnya saat itu aku tak
peduli. Aku hanya menatap wajahnya sekilas. Itu pun saat ia maju ke podium
karena berhasil juara satu di cabang lima belas juz. Saat menatap wajahnya itulah
dadaku berdesir sangat hebat.”
“Lalu
kau menang?” Potong Ikrom.
“Tidak.”
Aku menggelengkan kepala, “Aku kalah. Padahal aku hanya mengikuti cabang
sepuluh juz.” Ucapku sambil tertawa getir.
“Maaf
soal itu. Baiklah, lanjutkan.” Ucap Ikrom.
“Setelah
MHQ aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Tapi bayangan wajahnya saat di
podium benar-benar tak bisa hilang dari ingatanku. Senyuman yang tersungging di
bibirnya benar-benar memesona, belum lagi lesung di pipinya. Ia benar-benar
terlihat bahagia kala itu.” Sambungku sambil senyum-senyum sendiri. Mengabaikan
Ikrom.
“Hei!
Ceritamu belum selesai! Kau ini teringat sedikit sudah bengong lagi.” Hardik
Ikrom kesal.
“Eh, iya iya.” Jawabku cengengesan, “Lalu tepat dua minggu yang lalu, atau tepatnya
sepekan sebelum aku masuk ke pesantren ini, Azizah menghubungiku.”
“Namanya
Azizah?” Ikrom memotong dengan tergesa.
“Ups.
Aku keceplosan.” Aku menepuk jidat. Sementara Ikrom tertawa terpingkal-pingkal.
“DIAM!
Siapa yang bercanda?!” Teriak salah seorang Kakak Pelatih yang berjaga di
kejauhan.
Aku
dan Ikrom langsung membalikkan badan. Tengkurap. Takut-takut kalau ketahuan.
“Gara-gara
kau, Ikrom!” Aku mendengus kesal. Ikrom hanya tertawa cengengesan. Tak merasa
berdosa.
“Awas
kalau nanti kita dihukum.” Lanjutku kesal.
Alunan
suara adzan terdengar lirih di kejauhan. Sial, ternyata sudah subuh. Kami tidak
tahu waktu karena memang dilarang keras membawa jam tangan.
TIIING!
Benar
saja, suara whistel terdengar sangat keras di kejauhan. Pasti
komando untuk Sholat Subuh. Kami langsung menghambur tak tentu arah di tengah
gulitanya rimba. Apalagi mereka yang baru bangun tidur. Mereka kaget sekaligus
panik. Ada yang berlari memutari semak belukar, ada yang terjungkal ke tanah,
bahkan ada yang menabrak pohon. Aku dan Ikrom berlari sambil tertawa
terbahak-bahak.
“Ikrom.
Tadi ceritanya belum selesai loh.” Ucapku terengah-engah sembari berlari.
“Mana
mungkin dilanjutkan sekarang bung?! Kita lanjutkan besok saja, saat pekan orientasi sudah selesai.” Jawabnya dengan perut yang bergoncang-goncang.
“Baiklah.”
Kataku.
---
4 Musabaqoh
Hifdzul Qur’an atau lomba hafalan Al-Qur’an.

Comments
Post a Comment