2 DUA SISI
DUA SISI
Eloknya lembayung senja sedikit
mengobati rasa lelah. Terpaan lembut sinar mentari yang mulai tergelincir ke
bawah garis horizon benar-benar menakjubkan. Ditambah kabut pegunungan yang
mulai turun membelai lembut kulit kami yang kotor dengan tanah dan debu.
Kami masih berdiri terpaku di
lapangan yang berada tepat di kaki dua menara. Berbaris tiga saf memanjang. Berdiri
tegang dengan sisa-sisa tenaga. Belakangan akhirnya aku tahu bahwa kakak senior
yang mengumpulkan kami tempo hari bernama Kak Said, dan temannya yang besar
tinggi itu bernama Kak Fathur. Mereka berdua berjalan perlahan memutari barisan
kami. memastikan tidak ada yang bergerak walau sedikit, tak ada yang bergeser
walau sesenti.
PLOKK!
Topi milik Kak Fathur telak menyambar
Ikrom, teman kami yang paling gempal. Napasnya sudah tersengal-sengal sejak
awal acara. Sepertinya dia sudah tidak kuat lagi.
“Ikrom! Jangan gerak-gerak!” Bentak
Kak Fathur.
“Tapi kak, saya sudah tidak kuat
lagi. Pandangan saya kabur, mata saya berkunang-kunang, kepala saya..”
“Diam!” Belum genap Ikrom berbicara
Kak Said sudah memotong.
“Apapun kondisinya tidak ada yang
mengeluh. Lebih baik kalian pingsan di medan juang daripada mengeluh. Esok lusa
kalian akan mengerti bagaimana rasanya berjuang dan terus berjuang, bahkan saat
kalian berada di titik terlemah seperti saat ini. Bersabarlah dan teruslah
bersabar!” Sambung Kak Said.
BRUKK
Benar saja. Ikrom ambruk tepat
setelah Kak Said menyelesaikan kata-katanya. Perut besarnya berguncang. Tubuhnya
berdebam di atas rumput yang telah berubah menjadi lumpur karena menjadi arena
kami berlatih gulat. Ikrom pingsan.
---
“Kak! Kak Said! Ikrom sudah siuman, Kak.” Pekikku girang kepada Kak Said.
Aku bertugas menjaga Ikrom sampai
siuman karena aku telah dilantik menjadi ketua kelompok selama pekan orientasi
ini. Dan Ikrom adalah salah satu anggotaku.
“Syukur Alhamdulillah. Kau tidak
apa-apa Ikrom?” Tanya Kak Said lembut.
“Tidak mengapa, Kak. Hanya masih
sedikit pusing.” Jawab Ikrom sambil berusaha tersenyum.
Aku merasa aneh. Ternyata Kak Said
bisa selembut ini. Padahal selama enam hari terakhir ia hanya bisa berteriak
dan marah-marah. Atau jangan-jangan Kak Said memiliki kepribadian ganda? Aku
tak tahu.
“Ikrom, Kakak sangat bangga padamu. Sangat
jarang ada santri yang berjuang sampai pingsan di medan pelatihan. Itu tandanya
kau telah melampaui batas maksimalmu, meskipun tubuhmu gempal tapi kau memiliki
tekad baja. Kakak harap kau dapat mempertahankannya.” Terang Kak Said sambil
mengusap kepala Ikrom.
Apa apaan ini. Kak Said dan Kak
Fathur hampir saja membuat Ikrom celaka. Bukannya minta maaf justru malah sok
berkata-kata. Aku masih tidak bisa menerima semua ini. Tapi apalah dayaku? Bisa-bisa
aku dihajar oleh Kak Said jika aku protes.
“Baiklah Ikrom, kamu istirahat saja
dulu. Kakak harap besok pagi kondisimu sudah pulih. Akan ada acara final yang
amat sayang jika kau tak ikut.” Kak Said berkata sambil menatap Ikrom penuh
kasih sayang.
Pandangan apa itu? Ah mungkin hanya
pencitraan. Aku benar-benar memendam rasa kesal kepada Kak Said. Ia benar-benar
kejam saat memimpin masa pelatihan ini. Tidak mungkin dia bisa selembut itu. Mungkin
dia ingin dipuji. Pikirku tidak terima.
“Ghilman? Ayo kita kembali ke asrama.
Biarkan penjaga balai pengobatan yang mengurusi Ikrom.” Ajak Kak Said.
Aku mengangguk dingin. Mendengus.
“Kau tahu Ghilman..” Ucap Kak Said
mengiringi langkah kami.
“Kau dan teman-temanmu baru
mengetahui satu sisi dari pesantren ini. Hal yang kau alami selama enam hari
terakhir adalah satu sisi yang kurang menyenangkan. Dimana kami selaku senior
kau adalah komandan, sementara kau dan teman-temanmu adalah pasukan. Di luar medan
pelatihan kita tak ubahnya bagai kakak dan adik. Kami harus menyayangi kalian
sebagai adik dan kalian harus menghormati kami sebagai kakak. Maka kau jangan
kaget jika di dalam dan di luar medan pelatihan watak kami sangat bertolak
belakang.” Terang Kak Said sambil merangkul bahuku.
Aku kehabisan kata-kata. Aku benar-benar
merasa bersalah karena telah berprasangka buruk kepada Kak Said dan Kak Fathur.
“Kak.. Ehm.. Saya minta maaf karena
telah berprasangka buruk.” Ucapku memberanikan diri.
“Tidak mengapa, Ghilman. Kami
mengerti. Oh iya, ini kan hari kamis. Kau puasa, Ghilman?” Tanya Kak Said.
“Alhamdulillah Kak, saya puasa.”
Jawabku lirih. Masih merasa bersalah.
“Baiklah. Saya akan mentraktirmu
membeli ifthar3. Bagaimana jika ke warung Bakso Barokah? Kau mau?” Tawar Kak Said
sambil tersenyum lebar-lebar.
“Baik, Kak.” Jawabku sungkan.
---
3 Menu berbuka puasa atau biasa
disebut takjil.

Semangat berkarya mas!!
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteAsiap.
ReplyDelete