5 SURAT CINTA DUA MENARA


SURAT CINTA DUA MENARA

Tugu besar pesantren Salamatuddin tampak gagah berdiri di tengah lapangan upacara. Diterpa lembutnya sinar mentari pukul enam pagi. Dihinggapi kawanan burung yang sepagi ini sudah melangit, demi menafkahi anak-anaknya di sangkar.

Azizah membawa dua ember pakaian kotor untuk ia cuci di reservoir5. Dengan penuh semangat ia melangkah, tersenyum, mengucap salam, serta menyapa semua orang yang berpapasan dengannya. Ia hanya punya waktu satu setengah jam untuk mencuci, sarapan, serta mandi. Bukan waktu yang lama, tapi cukup untuk ia yang sudah terbiasa cekatan.

“Azizah.” Sapa Fina yang sedang mencuci pakaian. “Bagaimana? Semalam kamu memimpikan dia?” Cerocos Fina kepada Azizah yang sedang memasukkan sabun cuci.
“Boro-boro mimpi bertemu dia. Tidurku gelap. Segelap hatiku. Tak nampak apa-apa.” Jawab Azizah melengos.
“Lebay.” Jawab Fina spontan sembari memasukkan bilasan terakhir cuciannya.
“Eh, Fin.” Ucap Azizah sembari menatap Fina. “Aku ada kabar.”
“Kabar apa? Jangan bilang tentang Ghilman?” Fina berbinar.
Azizah mengangguk. Ini tentang Ghilman.
“Kemarin siang aku membuka  social media saat pelajaran Ilmu Komputer.” Azizah memulai.
“Lantas? Ia berkata apa?” Tanya Fina tak sabaran.
“Ghilman mengirimkan surat.” Azizah menjawab dengan gurat sendu di wajahnya.
“Ia berterus terang akan banyak hal kepadaku.”
“Berterus terang tentang apa?” Tanya Fina tak sabaran.
“Tentang perasaannya.” Jawab Azizah.

---

Aku bingung harus mulai menulis surat ini dari mana. Selama setengah jam  pertama aku hanya tercenung sambil memandangi papan tulis kosong. Ini adalah momen dilematis dimana aku harus benar-benar bisa memilih dan memutuskan. Surat ini harus kukirim nanti malam, saat orang tuaku sudah terlelap. Akhirnya aku mulai menggoreskan kata pertama.

Bismillahirrohmanirrohim.
Assalaamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Teruntuk: Azizah, yang semoga selalu Allah kuatkan hatinya.
     
Surat ini bukanlah surat cinta, juga bukan surat dengan isi penuh penuh diksi dan rima, yang akan membuatmu terbuai tak tentu arah.
Ini adalah sebuah ungkapan, sebuah keputusan.
Tepat dua pekan lalu. Aku berkenalan dengan seorang wanita yang sudah kuamati diam-diam. Dia adalah seorang santriwati yang kebetulan pernah berlomba bersama. Kami bertemu di musholla tak jauh dari terminal. Saat ia tak sengaja ikut serta menjadi makmum kala aku mengimami sholat maghrib.
Aku memberanikan diri untuk menyapanya. Memastikan apakah itu benar wanita yang memperoleh juara. Namun aku benar-benar terbawa euforia bahagia kala itu. Pandanganku benar-benar tak bisa lepas darinya. Ia jauh lebih cantik saat dilihat dari dekat. Singkat cerita, akhirnya kami berpisah. Tapi sebelum itu kami sempat bertukar nomor.
Awalnya aku tidak berani menghubunginya. Aku sungkan dan takut salah tingkah. Namun, seminggu lalu sebuah notifikasi masuk ke handphone­-ku. Dan ternyata itu pesan dari dia. Oh, betapa bahagianya.
Akhirnya kami sering berinteraksi. Kami berkenalan, menceritakan kisah hidup masing-masing, hingga curhat seputar persoalan hidup. Hingga tak terasa satu pekan terlalui, dimana saat itu aku harus masuk ke pesantren baruku.
Di pesantren aku tidak bisa membawa barang elektronik, hingga tidak mungkin aku bisa menghubunginya. Sungguh masa-masa itu sangat berat. Terlebih lagi aku harus menjalani pekan orientasi yang kejam.
Hingga akhirnya aku menyadari bahwasanya bibit perasaan itu telah tumbuh diam-diam. Ia ditumbuhkan dengan simpati dan terawat dengan rasa percaya. Hingga saat keduanya tak ada, maka hanya akan membuahkan senyawa yang menyesakkan hati, yaitu kerinduan.
Kerinduan itu semakin menjadi-jadi saat aku berada di gelap malam, terbaring di kolong langit, memandangi gemintang, dan aku menemukan wajahnya di muka rembulan.
Dan hari ini aku telah menyimpulkan, bahwa aku menyukainya.
Namun…
Aku memiliki seorang sahabat sekaligus tempat bertukar rasa, Ikrom namanya. Aku telah mengungkapkan semua cerita ini padanya. Dan ia berkata:
“Kalau kau memang suka dengannya. Maka kau harus meninggalkannya. Kau harus memasrahkannya kepada Allah. Karena ia belum halal bagimu. Cukup jaga ia dengan segenap doa di penghujung malam, di setiap sujud-sujud panjang. Kau harus memperoleh cinta-Nya sebelum cintanya. Dan jika sudah tiba saatnya, baru lah kau meminangnya. Lalu membuka lembaran baru ikatan cinta yang diridhoi-Nya.”
Kata-kata itu menghujam sanubariku. Kini aku menyadari bahwa semua yang telah aku lakukan dengannya adalah kesalahan. Interaksi antara aku dengannya tidak diridhoi Allah. Karena ikatan kami tidak halal.
Dan di surat ini aku hendak mengatakan kepadamu. Duhai Azizah..
Bahwa seorang santriwati yang telah tertambat di hatiku itu adalah engkau.
Dan dari sini pula aku hendak mengatakan. Aku tidak bisa lagi berinteraksi denganmu. Karena itu mengotori hati dan pikiranku. Meski aku tak tau apakah engkau memiliki perasaan yang sama atau tidak.
Aku tidak mungkin terus berinteraksi denganmu sementara tuhanku tidak meridhoinya. Maka aku mohon kemakluman darimu.
Kuharap. Kelak cinta ini berbalas sesuatu yang terbaik dari-Nya.
Sekian.
     
Tertanda, Ghilman.

Aku menghela nafas. Menatap cahaya dua menara yang menjadi saksi sebuah kisah. Yang aku tak tahu akan berakhir bagaimana. Aku berpasrah sepenuhnya kepada Allah. Pesan ini telah tersalin sepenuhnya, dan dengan menahan nafas aku mengirimkannya. Aku mendirikan sholat malam, memohon kekuatan hati. Lantas tertidur.

---
      5 Tempat penampungan air
     

           

Comments

Popular posts from this blog

1 MENTAL KERUPUK

9 ENERGI BESAR IKRAM

PROLOG