3 EUFORIA GANDA

EUFORIA GANDA

“Ghilman? Ini kau?” Ucap Azizah tanpa basa-basi. Mereka sedang berada di sebuah event bedah buku yang ditulis Azizah. Tiba-tiba saja ia berada di event itu. Dan sekejap kemudian Azizah ada di hadapannya lantas menyapanya. Aneh. Ghilman masih tak mengerti.
“Bagaimana kabarmu? Bukankah kau sekarang sedang menghafalkan Al-Qur’an?” Tanya Azizah mengerling.
Ghilman hanya terdiam. Terpaku. Euforia bahagia merasuk ke dalam hatinya. Hingga membuatnya kehabisan kata-kata.

“Ghilman? Hei, Mengapa malah melamun seperti itu?” Azizah melambaikan tangannya di depan wajah Ghilman. Berusaha menyadarkan sambil tertawa.
Ah. Alangkah manisnya. Sungguh sempurna ciptaan Tuhan yang satu ini. Matanya berbinar ceria mengundang senyuman. Hidungnya mancung walau mungil malu-malu. Dan terutama lesungnya yang timbul setiap ia tersenyum. Ah, sungguh memesona.
Ghilman memalingkan muka ke kanan. Tak ingin Azizah tau bahwa ia benar-benar terpesona. Tapi ia benar-benar tak mengerti. Ia melihat Azizah sedang berbicara di atas panggung. Lalu siapa yang berbicara dengannya tadi? Ghilman memalingkan wajahnya lagi ke kiri. Azizah masih di sana. Ia mulai merasa takut. Kemudian Ghilman mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru aula. Kenapa semua orang berubah menjadi Azizah?!
TIIING!
Bunyi benda kecil aneh yang belakangan kuketahui bernama whistle itu memekik keras sekali. Sial! Ternyata semua tadi hanya mimpi. Keluh Ghilman sambil lintang pukang mengejar sumber suara di tengah rimba.
“Hitungan ke tiga semua harus sudah berbaris rapi!” Teriak Kak Fathur yang terlihat samar-samar di bawah cahaya rembulan.
“Satu!”
“Dua!”
Sial! Barisan masih dua puluh meter lagi. Aku pasti kena hukuman. Semua ini gara-gara mimpi aneh itu. Dengus Ghilman.
“Tiga! Siap grak!” Sontak seluruh pasukan berdiri mematung. Tak ada yang berani bergerak apabila komando siap grak sudah terucap dari mulut pelatih. Atau topi para pelatih akan telak menampar wajah.
“Yang terlambat silakan berguling sampai barisan!” Perintah Kak Rozi. Ah sial! Dibandingkan jalan jongkok atau merayap, berguling adalah hal yang paling aku benci. Karena membuat kepala pusing dan perut mual.
“Bagaimana antum bisa mempertahankan Agama dan Bangsa jika antum masih selambat ini?!” Teriak para pelatih bersahut-sahutan. Aku mendengus. Sudah dihukum. Diteriaki pula.
Whistle itu dibunyikan secara rutin. Lima belas menit sekali. Kemudian kami akan diinstruksikan untuk melakukan push up, lari di tempat, dan lain sebagainya. Agar kami tidak mati kedinginan. karena kami bermalam di puncak Bukit Parang. Beratapkan langit. Beralaskan bumi. Tempat dengan suhu enam derajat celsius di malam hari. Dingin luar biasa.
“Duduk istirahat grak!” Perintah Kak Fathur setelah menyuruh kami push up sebanyak lima puluh kali.
“Alhamdulillah antum mendapatkan rezeki malam ini.” Kak Fathur mengeluarkan segelas besar susu jahe. “Silakkan antum nikmati bersama, semua harus terbagi rata. Tidak ada yang egois!” Lanjut Kak Fathur.
Syukurlah. Walau sedikit tapi susu jahe itu cukup memberikan kenyamanan di lambung kami.
“Semuanya mohon perhatikan.” Ujar Kak Fathur melembut. “Silakan antum perhatikan wajah saudara yang ada di samping antum. Perhatikan wajah mereka di bawah temaram rembulan. Akan antum dapati wajah-wajah lelah, wajah yang merindukan orang tuanya, wajah yang merasa tersiksa.” Lanjut Kak Fathur.
“Kami mengerti sekali perasaan antum. Tapi sekali lagi perhatikanlah wajah saudara antum. Merekalah yang akan menemani antum selama empat tahun kedepan. Yang akan selalu mendampingi di setiap suka duka. Yang akan membersamai antum mengubah rasa sakit hari ini menjadi kekuatan besar di masa depan!” Ucap Kak Fathur berapi-api.
“Jangan mudah mengeluh dengan kondisi yang bertolak belakang dengan harapan. Karena antum tidak sendiri.” Tutup Kak Fathur bijak.

Comments

Popular posts from this blog

1 MENTAL KERUPUK

PROLOG

9 ENERGI BESAR IKRAM