18 SATU ORANG HILANG
SATU ORANG HILANG
"Piiittt...! Piiittt...!"
Suara peluit panjang memecah kesunyian sore. Dalam hitungan detik, suasana asrama yang semula tenang berubah menjadi riuh. Pintu-pintu kamar terbuka hampir bersamaan. Para santri berlarian keluar dengan seragam lengkap, sebagian masih membenarkan ikat pinggang, sebagian lagi tergesa-gesa memasang peci sambil terus mempercepat langkah menuju lapangan.
"Whistle! Cepat...!" teriak salah seorang instruktur.
"Ayo, Man!" seru Ikrom sambil berlari mendahuluiku.
Aku mengangguk dan segera menyusul. Tidak ada santri yang berani mengabaikan panggilan peluit. Terlambat beberapa detik saja sudah cukup untuk membuat seseorang menjadi pusat perhatian seluruh lapangan.
Sesampainya di lapangan, seluruh peserta segera membentuk barisan. Sore itu kami mengenakan seragam lapangan lengkap. Baju dimasukkan rapi ke dalam celana, sepatu terikat kuat, dan peci hitam bertengger tegak di kepala. Beberapa instruktur berjalan menyusuri setiap barisan, memastikan tidak ada yang berpakaian asal-asalan.
"Rapikan barisan!"
"Pandangan lurus!"
"Jangan ada yang bergerak!"
Suasana yang biasanya dipenuhi canda berubah menjadi hening. Bahkan Ikrom yang terkenal sulit diam pun berdiri setegak mungkin.
Aku melirik ke arahnya.
"Rom."
"Hm?"
"Kok tumben diam?"
"Bukan diam."
"Lalu?"
"Takut."
Aku menahan senyum.
"Takut apa?"
"Itu instruktur yang berkumis dari tadi melototin aku."
Aku melirik sekilas.
"Bukan cuma kau."
"Lho?"
"Semua juga."
Ikrom mengembuskan napas pelan.
"Alhamdulillah."
"Kenapa malah alhamdulillah?"
"Berarti bukan dendam pribadi."
Aku hampir tertawa, tetapi segera kutahan ketika salah seorang instruktur melintas di depan barisan.
Tak lama kemudian upacara dimulai. Salah seorang ustadz memberikan sambutan mengenai kegiatan Santri Pecinta Alam, sebuah pelatihan yang wajib diikuti seluruh santri MA. Selama beberapa hari ke depan kami akan menjalani berbagai latihan yang tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga menguji kedisiplinan, kerja sama, kepemimpinan, dan ketahanan mental.
"Di sini," ujar beliau dengan suara lantang, "kalian tidak hanya belajar bertahan hidup di alam. Kalian juga belajar bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain."
Kalimat itu terus terngiang di kepalaku.
Setelah sambutan selesai, tibalah acara yang paling ditunggu.
Pelantikan ketua peleton.
Nama-nama mulai dipanggil satu per satu.
Aku berdiri tenang tanpa sedikit pun menyangka namaku akan disebut.
"Ghilman!"
"Siap!"
Refleks aku menjawab lantang.
"Mulai hari ini antum ditetapkan sebagai Ketua Peleton Tiga."
"Siap laksanakan!"
Dadaku berdegup lebih cepat. Aku melangkah ke depan bersama beberapa santri lain yang juga ditunjuk sebagai ketua peleton. Di hadapan seluruh peserta, kami menerima penyematan tanda ketua peleton sebelum kembali ke barisan masing-masing.
Upacara berakhir menjelang Maghrib.
Saat barisan dibubarkan, Ikrom langsung menghampiriku.
"Selamat, Ketua."
Aku tersenyum.
"Jangan mengejek."
"Aku serius."
"Serius bagaimana?"
"Kalau nanti kau marah-marah, aku lapor anggota."
Aku tertawa kecil.
"Memangnya kau anggota peletonku?"
"Bukan."
"Nah."
"Alhamdulillah."
"Kenapa lagi?"
"Kalau satu peleton sama kau, nanti aku disuruh push-up terus."
Aku menggeleng sambil tertawa.
Belum sempat kami melanjutkan obrolan, salah seorang instruktur memanggil.
"Ketua peleton!"
"Siap!"
"Silakan ambil daftar anggota masing-masing."
Aku menerima selembar kertas dari instruktur. Di sana tertulis tiga puluh nama yang menjadi tanggung jawabku selama pelatihan berlangsung. Kubaca satu per satu. Sebagian sudah kukenal, sebagian lagi hanya pernah bertegur sapa.
Instruktur itu menatapku sejenak.
"Ketua peleton."
"Siap."
"Pastikan semua anggota mengikuti instruksi."
"Siap."
"Dan pastikan..."
Beliau berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"...tidak ada satu pun yang tertinggal."
"Siap."
Aku menjawab mantap.
Saat itu aku mengira kalimat itu hanyalah bagian dari pengarahan biasa.
Aku sama sekali tidak menyangka, beberapa jam kemudian, kalimat itulah yang akan menjadi ujian pertamaku sebagai seorang ketua peleton.
---
Setelah salat Isya dan makan malam, seluruh peserta kembali dikumpulkan di lapangan. Udara malam terasa lebih dingin daripada biasanya. Angin bertiup pelan dari arah persawahan yang membentang di sisi timur pesantren. Langit tampak gelap tanpa cahaya bulan. Hanya beberapa lampu di sekitar lapangan yang masih menyala, sementara area persawahan di kejauhan sudah berubah menjadi hamparan hitam.
"Piiittt...!"
Suara peluit kembali terdengar.
"Seluruh peleton, siapkan barisan!"
"Siap!" jawab kami hampir bersamaan.
Masing-masing ketua peleton segera mengumpulkan anggotanya. Untuk pertama kalinya aku memanggil satu per satu nama yang tertera pada daftar.
"Majid."
"Hadir."
"Fahri."
"Hadir."
"Ridwan."
"Hadir."
Sampai nama terakhir.
"Tiga puluh lengkap, Ketua," lapor wakil peletonku.
Aku mengangguk lega.
"Baik, tetap rapat."
Tak lama kemudian salah seorang instruktur maju ke depan.
"Malam ini kalian akan belajar satu hal."
Beliau berhenti sejenak, memastikan seluruh peserta memperhatikan.
"Di medan sebenarnya, orang yang mampu bertahan bukan selalu yang paling kuat."
Lapangan menjadi hening.
"Tetapi orang yang mampu mengambil keputusan dengan benar."
Kami semua menyimak.
"Malam ini kalian akan belajar mencari cover. Ketika ada ancaman, kalian harus mampu memanfaatkan keadaan di sekitar sebagai perlindungan."
Beliau menunjuk ke arah persawahan yang berada di tepi lapangan.
"Di sana ada pematang."
"Ada semak."
"Ada pohon."
"Ada saluran irigasi."
"Semuanya bisa menjadi perlindungan."
Beliau kemudian mengangkat peluit.
"Nanti ketika peluit dibunyikan, kalian bergerak secepat mungkin."
"Jangan bergerombol."
"Jangan saling mengikuti."
"Gunakan kepala kalian."
"Kalau semua bersembunyi di tempat yang sama, berarti kalian semua sudah kalah."
Beberapa santri mulai saling melirik.
Aku sendiri mulai membayangkan bagaimana latihan itu akan berlangsung.
Belum sempat berpikir lebih jauh...
"Piiittttt...!"
Peluit ditiup panjang.
"Musuh datang!"
"Bergerak!"
Dalam sekejap lapangan yang semula dipenuhi barisan berubah menjadi lautan manusia yang berlari ke berbagai arah.
"Ayo! Ayo!" teriakku kepada anggota peleton.
Sebagian berlari menuju pematang sawah.
Sebagian memilih berlindung di balik rumpun bambu.
Ada pula yang menjatuhkan badan di balik gundukan tanah.
Aku sendiri berlari ke arah sebuah tanggul kecil di tepi sawah. Tubuhku langsung kurebahkan sambil mencoba mengamati keadaan sekitar.
Tak lama kemudian terdengar suara instruktur.
"Keluar!"
Seluruh peserta kembali berkumpul.
Latihan diulang.
Lalu diulang lagi.
Setiap kali peluit berbunyi, kami harus menemukan tempat berlindung yang berbeda. Kadang kami berhasil memilih lokasi yang baik, kadang justru terlihat jelas dari kejauhan sehingga langsung mendapat teguran.
"Wah, kalau perang sungguhan tadi antum sudah selesai duluan," celetuk salah seorang instruktur kepada seorang peserta yang bersembunyi di balik pohon yang diameternya bahkan tidak sebesar badannya.
Suasana sempat diwarnai tawa.
Namun begitu peluit kembali berbunyi, semua kembali serius.
Semakin malam, latihan semakin berat. Kaki mulai terasa pegal karena berkali-kali berlari melintasi lapangan dan pematang sawah. Seragam kami dipenuhi debu. Sebagian bahkan mulai basah oleh embun yang turun perlahan.
Aku melirik jam tangan.
Hampir pukul satu dini hari.
Dalam hati aku berharap latihan segera selesai.
Ternyata dugaanku benar.
"Piiittt...!"
Peluit panjang kembali terdengar.
"Seluruh peleton berkumpul!"
Kami segera berlari menuju lapangan dan membentuk barisan sesuai peleton masing-masing. Napasku masih tersengal ketika instruktur memberi aba-aba terakhir.
"Ketua peleton!"
"Siap!"
"Cek jumlah anggota masing-masing!"
Aku segera menghadap ke arah anggota peletonku.
"Hitung!"
Satu per satu mereka mulai berhitung dengan suara lantang.
"Satu!"
"Dua!"
"Tiga!"
...
"Dua puluh sembilan!"
Aku mengernyit.
Dadaku mendadak berdegup lebih cepat.
Aku kembali menghitung sendiri.
Benar.
Hanya dua puluh sembilan orang.
Aku menatap daftar nama di tanganku.
Lalu perlahan mengangkat kepala.
"Majid..."
Ke mana Majid?
---
"Majid..."
Aku kembali memeriksa daftar nama di tanganku.
"Majid!"
Tidak ada jawaban.
Aku menoleh ke arah wakil peleton.
"Sudah dihitung lagi?"
"Sudah, Ketua."
"Benar kurang satu?"
"Iya."
Aku menarik napas panjang sebelum mengangkat tangan.
"Instruktur!"
"Iya?"
"Peleton tiga kurang satu orang."
Instruktur langsung menghampiri.
"Siapa?"
"Majid."
Beliau memandang barisanku sekilas.
"Sudah dipastikan?"
"Sudah."
"Hitung ulang."
Aku kembali memberi aba-aba.
"Hitung!"
"Satu!"
"Dua!"
"Tiga!"
...
"Dua puluh sembilan!"
Hasilnya tetap sama.
Instruktur mengangguk pelan. Wajahnya yang semula tenang mulai berubah serius.
"Ketua peleton lain!"
"Siap!"
"Beserta wakilnya, ikut mencari!"
"Siap!"
Tanpa menunggu perintah kedua, kami berpencar ke berbagai arah.
"Majid!"
"Majid!"
Suara panggilan bersahut-sahutan memecah kesunyian malam.
Aku bersama wakil peleton menyusuri pematang sawah. Cahaya senter kami menyapu rumpun-rumpun padi yang bergoyang diterpa angin.
"Majid!"
Tidak ada jawaban.
Kami turun ke pematang yang lebih sempit. Lumpur mulai menempel di sepatu. Beberapa kali aku hampir terpeleset.
"Di sana sudah dicek?"
teriakku kepada ketua peleton lain.
"Sudah! Tidak ada!"
"Semak sebelah timur?"
"Kosong!"
Suasana mulai berubah tegang.
Semua kemungkinan bermunculan di kepalaku.
Jangan-jangan ia terpeleset ke saluran irigasi.
Jangan-jangan ia pingsan.
Atau...
Aku segera membuang pikiran itu jauh-jauh.
"Majid!"
Kali ini aku berteriak lebih keras.
Tetap tidak ada jawaban.
Waktu terasa berjalan lambat.
Kami terus menyusuri pinggir sawah, memeriksa balik rumpun bambu, bahkan masuk ke semak-semak yang sejak awal dipakai peserta untuk bersembunyi saat latihan.
Hasilnya tetap nihil.
Aku mulai merasa bersalah.
Sebagai ketua peleton, akulah orang pertama yang bertanggung jawab atas seluruh anggota.
Kalau benar terjadi sesuatu kepada Majid...
Aku bahkan tidak tahu harus mempertanggungjawabkannya kepada siapa.
Sekitar dua puluh menit berlalu.
Salah seorang instruktur meniup peluit pendek.
"Piiit...! Piiit...!"
"Seluruh ketua peleton kembali ke lapangan!"
Kami saling berpandangan.
Belum ada yang menemukan Majid.
Aku berjalan pelan menuju lapangan bersama beberapa ketua peleton lain. Kaki kami terasa berat. Bukan karena lelah semata, tetapi karena pikiran kami dipenuhi berbagai kemungkinan yang tidak ingin kami bayangkan.
Lapangan tampak gelap. Lampu-lampu hanya menerangi bagian pinggir, sementara bagian tengah nyaris tenggelam dalam bayangan malam.
Kami berjalan beriringan melintasi lapangan.
Tiba-tiba...
"Sebentar."
Salah seorang instruktur menghentikan langkah.
Beliau mengarahkan senter ke arah tengah lapangan.
"Apa itu?"
Kami semua ikut menoleh.
Dari kejauhan tampak sebuah gundukan gelap.
Diam.
Tidak bergerak.
Instruktur mendekat perlahan.
Kami mengikuti dari belakang.
Semakin dekat...
Semakin jelas bentuknya.
Ternyata...
Itu seseorang.
Masih mengenakan seragam lapangan.
Posisinya telungkup.
Kedua tangannya berada di bawah kepala seperti bantal.
Dan...
"Khuurrr..."
Suara dengkur pelan terdengar jelas di tengah keheningan malam.
Kami saling berpandangan.
Instruktur menyorotkan senter tepat ke wajahnya.
"Majid!"
Majid terlonjak kaget.
"Hah... siap!"
Ia langsung berdiri tegak sambil mengucek mata.
Instruktur menahan napas beberapa detik.
"Antum ngapain di sini?"
Majid menjawab dengan wajah yang benar-benar polos.
"Saya sedang bersembunyi, Ustadz."
"Terus kenapa tidur?"
"Soalnya..."
Majid menggaruk kepalanya.
"...lama sekali belum ada peluit."
Beberapa detik suasana hening.
Lalu...
Entah siapa yang mulai tertawa lebih dulu.
Yang jelas, dalam sekejap seluruh lapangan dipenuhi gelak tawa.
Bahkan beberapa instruktur yang sejak tadi memasang wajah serius pun akhirnya ikut tertawa sambil menggelengkan kepala.
Aku mengembuskan napas panjang.
Rasa lega bercampur geli memenuhi dadaku.
Malam itu kami mengelilingi sawah, memeriksa semak, dan menyusuri pematang hanya untuk mencari seseorang yang ternyata tertidur pulas...
...di tengah lapangan.
---
Tawa di tengah lapangan perlahan mereda.
Majid masih berdiri dengan wajah bingung. Ia menatap kami bergantian seolah tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi.
"Ada apa, Ustadz?" tanyanya polos.
Salah seorang instruktur menggeleng sambil tersenyum.
"Antum dicari hampir setengah jam."
Majid membelalakkan mata.
"Hah?"
"Kami keliling sawah."
"Masuk semak."
"Nyari antum."
Majid menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Saya kira latihan belum selesai."
"Lho?"
"Kan disuruh cari tempat persembunyian."
"Iya."
"Ya sudah... saya tetap di situ."
"Lalu kenapa tidur?"
Majid tersenyum malu.
"Ngantuk, Ustadz."
Gelak tawa kembali pecah.
Aku sampai harus memegang lutut karena tidak kuat menahan tawa. Begitu juga ketua-ketua peleton yang lain. Bahkan beberapa instruktur tampak menundukkan kepala sambil tertawa kecil.
Setelah suasana kembali tenang, salah seorang instruktur menepuk bahu Majid.
"Antum tahu kenapa kami tidak menemukan antum?"
Majid menggeleng.
"Karena semua orang mencari ke pinggir sawah."
Beliau menunjuk ke arah lapangan tempat Majid tadi tertidur.
"Padahal antum justru bersembunyi di tempat yang paling terbuka."
Majid tersenyum kecil.
"Saya pikir..."
"...tidak akan ada yang menyangka."
Instruktur itu ikut tersenyum.
"Kalau untuk bersembunyi, mungkin antum berhasil."
Semua kembali tertawa.
"Tapi kalau untuk membuat satu peleton panik..."
"...antum juga berhasil."
Majid hanya bisa nyengir sambil mengusap tengkuknya.
---
Malam itu latihan akhirnya benar-benar selesai.
Masing-masing peleton kembali berkumpul sebelum dibubarkan menuju asrama.
Aku berdiri di depan tiga puluh anggota peletonku.
Kali ini...
Jumlahnya benar-benar lengkap.
Tanpa sadar aku menghitung sekali lagi.
Satu.
Dua.
Tiga.
...
Tiga puluh.
Barulah aku mengembuskan napas lega.
Ikrom berjalan menghampiriku sambil tersenyum lebar.
"Ketua."
"Hm?"
"Gimana rasanya kehilangan satu anggota?"
Aku menggeleng pelan.
"Capek."
"Takut?"
"Iya."
Ikrom mengangguk.
"Baru malam pertama."
Aku tertawa kecil.
"Iya."
"Masih 1 tahun lagi."
Aku mendongak menatap langit yang mulai dipenuhi bintang.
Malam itu aku belajar sesuatu yang tidak pernah kutemukan di dalam buku.
Menjadi seorang pemimpin ternyata bukan hanya berdiri paling depan ketika barisan berjalan.
Tetapi juga menjadi orang yang paling gelisah ketika satu anggotanya tidak terlihat.
---
📖 Catatan Ghilman
14 Agustus 2017
Hari ini aku mendapat pelajaran yang tidak pernah kutemukan di ruang kelas.
Saat satu orang hilang, yang pertama kali dicari bukan alasan.
Yang pertama dicari adalah orangnya.
Mungkin beginilah rasanya memikul amanah.
Selama semua masih lengkap, seorang pemimpin bisa tersenyum.
Tetapi ketika satu saja tidak terlihat, ketenangan itu ikut menghilang.
Malam ini aku bersyukur karena Majid hanya tertidur.
Dan aku berharap, kelak jika Allah memberiku amanah yang lebih besar, semoga aku tetap memiliki rasa takut kehilangan orang-orang yang Allah titipkan kepadaku.
— Ghilman
Comments
Post a Comment