18 SATU ORANG HILANG
SATU ORANG HILANG "Piiittt...! Piiittt...!" Suara peluit panjang memecah kesunyian sore. Dalam hitungan detik, suasana asrama yang semula tenang berubah menjadi riuh. Pintu-pintu kamar terbuka hampir bersamaan. Para santri berlarian keluar dengan seragam lengkap, sebagian masih membenarkan ikat pinggang, sebagian lagi tergesa-gesa memasang peci sambil terus mempercepat langkah menuju lapangan. "Whistle! Cepat...!" teriak salah seorang instruktur. "Ayo, Man!" seru Ikrom sambil berlari mendahuluiku. Aku mengangguk dan segera menyusul. Tidak ada santri yang berani mengabaikan panggilan peluit. Terlambat beberapa detik saja sudah cukup untuk membuat seseorang menjadi pusat perhatian seluruh lapangan. Sesampainya di lapangan, seluruh peserta segera membentuk barisan. Sore itu kami mengenakan seragam lapangan lengkap. Baju dimasukkan rapi ke dalam celana, sepatu terikat kuat, dan peci hitam bertengger tegak di kepala. Beberapa instruktur berjalan menyusuri ...