JENGKAL JENGKAL BAHAGIA
1200 km
Jum’at, 12 April 2024
Aku meletakkan peci dan
menggantungkan jubahku di lemari sembari agak terburu-buru. Hari ini sibuk
sekali. Sejak pagi tamu datang berduyun-duyun tanpa henti. Membuatku tak sempat
packing barang bawaan.
“Rais! Cepat muat barang-barang kita
di mobil!” Seru Ibu dari dapur, “Ibu menyiapkan makanan dulu. Jam dua siang
kita berangkat.”
“Siap, bu.” Aku bergegas, “Mas Jun!
Ayo bantu aku!” Aku berseru lagi.
“Oke siap!” Jawab Mas Jun yang juga
baru pulang dari masjid.
Kami bergegas memuat koper-koper dan
tas ke dudukan barang di atas mobil. Aku dan Mas Jun naik ke atas mobil. Mulai
membungkus barang bawaan kami dengan fly sheet, sejenis kain terpal anti
air yang biasa aku bawa mendaki gunung. Kami mengikat barang-barang
dengan tali karet.
“Sudah kencang, Mas?” Tanyaku.
“Sudah sip. Si Bujank sudah siap
meluncur!” Ujar Mas Jun.
Aku menamai mobilku Si Bujank.
Karena ia macam bujang yang tak laku-laku. Kerjanya travelling kesana
kemari. Dari gunung ke gunung, pantai ke pantai, air terjun ke air terjun
lainnya. Tetapi nampaknya tak lama lagi ia berganti nama.
“Sudah siap menjemput bidadari dari
kayangan, kan? Hahahaha.” Aku terkekeh.
“Hahaha. Jangan mulai lagi, Is.” Mas
Jun tertawa.
Barang bawaan sudah siap. Perbekalan
sudah di bagasi. Bantal sudah stand by. Solar sudah terisi penuh. Oli
sudah diganti baru. Mesin sudah dicek sejak sepekan lalu. Baiklah sudah tidak
ada yang luput. Aku bergegas ke dapur
menemui Ibu.
“LAPOR! Si Bujank sudah siap
mengarungi Sumatera 1200 kilometer jauhnya.” Aku berseru kepada Ibu sambil
mengambil sikap hormat.
“Hahaha. Kamu kenapa sih, nak?
Bersemangat sekali nampaknya.” Ibu menggoda.
“Iya dong. Kan hendak bertemu
bidadari. Siapa pula yang tak senang?” Wajahku bersemu merah.
“Maaf, Jawabannya Tidak”
Jum’at, 12 Januari 2024
Aku melangkah gontai menuju kamar selepas sholat
Ashar. Menanggalkan pakaian sholat dan menggantinya dengan kaos olahraga.
Rasanya ingin merelaksasi pikiran ini dengan jogging. Sepekan ini
perasaanku tidak karuan. Aku merebahkan badan sembari mengingat percakapan
sepekan lalu dengan Bunda.
“Rais yakin ingin meminang Ainun?”
Tanya Bunda di ujung telepon.
“Rais yakin, Bunda. Rais telah
sholat istikhoroh sepekan belakang. Rais telah bermusyawarah dengan Ayah dan
Ibu. Beliau berdua telah merestui Rais untuk meminang Ainun.” Aku
bersungguh-sungguh sembari memperbaiki posisi dudukku di atas kasur. Kamar
telah aku kunci. Aku sedang tidak bisa diganggu siapapun.
“Tapi sebelum itu semua, Bunda ingin
Rais tahu bahwa Ainun memiliki banyak sekali kekurangan. Bunda ingin kita
saling jujur sejak awal. Jikalau Rais mampu menerima segala kekurangannya, maka
Rais akan mampu menerima segala kelebihannya. Apa Rais siap mendengarkan?”
Bunda bertanya serius dengan logat melayu yang kental.
“Rais siap, Bunda.” Jawabku mantab.
Bunda menceritakan banyak hal
tentang Ainun. Mulai dari yang aku sudah mafhum sampai yang baru aku dengar.
Aku mengenalnya sudah cukup lama. Jadi aku sedikit banyak sudah tau dengan
segala lebih dan kurangnya. Akan tetapi ini kesempatan yang sangat baik untuk
mengenal Ainun lebih dalam lagi, terlebih dari orang terkasihnya. Bunda.
“Baiklah. Rais sudah mendengarkan
cerita Bunda panjang lebar,” Bunda menghela nafas. Jam sudah menunjukkan pukul
sembilan malam. Nampaknya Bunda sedikit lelah. Kami sudah berbincang lebih dari
satu jam, “setelah ini, Bunda harap Rais mempertimbangkan kembali segala kekurangan
Ainun. Sampaikan kepada Ayah dan Ibu akan segala kekurangan ini, apakah mereka bersedia
menerimanya atau tidak. Bunda akan berdiskusi dengan Ayah dan kakak-kakak
Ainun. Bunda harap besok Rais sudah mengabari bunda.”
“Baik, Bunda. Insya Allah akan Rais
sampaikan kepada Ayah Ibu.” Aku sedikit senang, walau banyak risaunya. Bunda
tidak serta merta menolakku. Itu penyebab senangku. Akan tetapi jika aku
mengulas kembali perjalanan hidupku tersoal jodoh, itu yang membuat Aku risau.
Ada trauma yang bersisa setelah kegagalan demi kegagalan yang kualami, trust
issue kalau anak zaman sekarang bilang.
Kembali ke hari ini. Aku masih
termangu menatap langit-langit kamar. Kembali terngiang ucapan Bunda sehari
kemudian setelah telepon pertama,
“Baiklah kalau Rais sudah mantap,
Ayah Ibu juga sudah siap menerima. Bunda pun sudah berdiskusi dengan Ayah dan
kakak-kakak Ainun. Bahwa kami menyerahkan semua keputusan kepada Ainun. Insya
Allah Ainun akan memberi jawaban pada hari Jum’at, 12 Januari 2024.”
Hari keputusan itu adalah hari ini.
Itulah mengapa aku gelisah sedari tadi. Hari sudah sore tetapi jawaban belum
kunjung datang. Bahkan semalam, setelah sholat Isya’, aku bernadzar dalam
doaku,
“Ya Rabb. Sungguh aku sangat
mengharapkan hajat ini terkabul. Engkau Maha Tahu bagaimana hamba telah
mengarungi perjalanan panjang ini. Susah-senang hingga derai air mata hamba pun
Engkau menyaksikan. Maka untuk kali ini hamba memohon kabulkanlah hajat hamba,
Ya Rabb. Apabila esok engkau kabulkan hajat hamba, hamba bernadzar untuk
melaksanakan puasa Daud hingga bertemu bulan Ramadhan yang masih dua bulan
lagi. Aamiin.”
Semalam aku merintih kepada Allah.
Aku sudah sangat kelelahan dengan perjalanan ini. Maka untuk kali ini, aku
harap ini adalah ujung dari perjalanan yang amat panjang ini.
TING!
Notifikasi HP-ku berbunyi. Benar
sekali, Bunda mengirim pesan. Aku berbinar sekaligus berdebar.
“Bismillah..” demikian Bunda
mengawali pesannya.
“Sebelumnya Bunda mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Bunda hanya menyampaikan amanah dari Ainun, yang mana jawaban ini sepenuhnya
mutlak keputusan Ainun sendiri. Setelah sepenuh pertimbangan, Ainun memberi
jawaban bahwasanya Ainun tidak.”
Hening satu menit. Aku tidak
menjawab. Bunda pun belum melanjutkan pesannya. Aku pikir jawaban Ainun belum
selesai.
“Rais masih di sana?” Bunda
bertanya. Aku terperangah.
“Masih, Bunda. Rais pikir pesannya
terpotong. Apakah masih ada terusannya, Bun?”
“Iya, ada. Bahwasannya jawaban Ainun
adalah TIDAK.”
Aku terkulai lemas. Aku meletakkan
HP-ku sejenak. Akhirnya terjadi lagi. Aku gagal lagi. Trauma itu kembali lagi.
Ternyata benar, ini memang belum saatnya aku menikah. Entah apa maksud Allah
menyusun suratan takdir kegagalan demi kegagalan kepadaku. Tak apalah. Aku tak
boleh berprasangka buruk kepada Allah. Astaghfrullah. Berarti memang
bukan jodoh. Aku akan fokus kepada hal-hal lain. Aku akan fokus meniti
pendidikan setinggi mungkin, bekerja segiat mungkin dan mendaki gunung-gunung
yang belum kujangkau. Aku akan mengakhiri ini dengan baik-baik.
“Oh begitu..” Aku mulai menjawab,
“baik bunda tidak mengapa, Rais menghargai semua keputusan Ainun.” Aku
meletakkan HP-ku lagi. Ingin menangis rasanya.
“Eh, maksudnya Ainun TIDAK MENOLAK.”
Bunda mengeluarkan emoticon tertawa dalam chat.
Serta-merta aku langsung sujud syukur. Dua menit aku
memuji Allah dalam sujud. Lantas aku bangkit dan membalas chat Bunda.
“Ya Allah bundaa. Rais sampai gemetar. Masya Allah.
Allahu Akbar. Rais bingung mau bicara apa. Rais deg-degan, Bun.”
“Bunda kan sudah minta maaf duluan.
Rais jadi kena prank, kan?” Bunda
melanjutkan, “Supaya nggak terlalu serius hehehe.” Bunda terkekeh.
“Prank-nya bikin jantung mau
copot, Bun.” Aku menjawab sambil memuji Allah dalam hati.
Ya, sesuai nadzar yang sudah aku
ucapkan, besok aku mulai menunaikan puasa Daud selama dua bulan.
Si Bujank Nervous
Pukul tiga pagi.
Si Bujank melaju membelah daratan Sumatera dengan kecepatan sedang.
Pepohonan yang rindang di tepi jalan, kawanan kera yang sesekali melintas,
jalan lintas yang berkelok-kelok dengan marka jalan berwarna kuning di
tengahnya. Sejauh ini Si Bujank baik-baik saja meski bagian dalam mobil penuh
dengan barang hantaran lamaran.
“Kita sudah sampai mana ini, Is?”
Ayah bertanya.
“Sudah hampir Jambi, yah.”
“Nanti menjelang Subuh kita cari
masjid dulu, ya. Sholat lalu istirahat sejenak.”
“Iya, yah.” Ayah kembali terlelap.
Ini adalah jam rawan bagiku.
Sebenarnya aku sudah mengantuk. Ayah, Ibu dan Mas Jun terlelap sepanjang jalan.
Aku mengalihkan rasa ngantuk dengan bersenandung dan meminum minuman berperisa
asam.
“Wes tekan ndi iki, Is?[1]”
Mas Jun meracau.
“Wes tekan Jambi, mas.[2]”
“Ohh. Yowes.[3]”
Mas Jun tidur lagi.
“Hoo nggateli. Ngelilir tok terus
turu meneh.[4]”
Ujarku kesal.
Aku sudah mengantuk berat.
Perjalanan ini mengarungi empat provinsi besar. Lampung-Sumatera
Selatan-Jambi-Riau. Estimasi perjalanan sekitar tiga puluh jam. Aku dan Mas Jun
menyetir bergantian. Maklum jika ia selalu tidur saat tidak menyetir.
Waktu subuh hampir tiba. Aku sudah mengantuk berat. Tapi tiba-tiba ada
yang ganjil.
“Kok AC mobil panas, ya?” Ibu terbangun dari tidurnya.
“Iya kok agak panas.” Ayah menyahut kemudian.
“Wah kurang tahu, yah. Bukannya kemarin sudah dibawa ke bengkel khusus
AC untuk dicek?” Aku menanggapi sambil fokus memegang kemudi.
“Iya kemarin montir AC-nya sudah Ayah minta untuk mengecek kondisi AC
mobil. Ayah bilang bahwa mobil akan dibawa untuk perjalanan ke Riau. Setelah ia
cek katanya baik-baik saja.” Ayah menjelaskan.
“Wah payah itu berarti montir AC-nya.”
“Ya sudah kalau begitu kita segera mencari masjid saja. Barangkali Si
Bujank kelelahan.” Ayah memberi arahan.
“Si Bujank lagi nervous itu, Is. Panas dingin dia ingin ketemu
bidadari hahaha.” Mas Jun tiba-tiba menimpali. Entah sejak kapan ia sadar.
“Hahaha. Kalau Si Bujank saja nervous, bagaimana aku besok ya?
Bisa mati kecemasan aku.” Lelucon Mas Jun ada benarnya.
Hening. Mas Jun tidak menjawab lagi. Suara dengkurnya terdengar samar.
Ia sudah terlelap lagi.
“Wong kok unik.[5]”
Aku bergumam sambil menggelengkan kepala
melihat tingkah Mas Jun. Teryata ia hanya mengigau.
‘Sambutan’ Hotel Bit
Pukul delapan malam.
Lima belas menit lagi Si Bujank sampai ke titik maps yang
diberikan bunda. Titik itu ada di sebuah hotel. Hotel Bit namanya. Hotel
terbaik yang ada di kota kabupaten. Sekelas hotel bintang dua di perkotaan.
“Mas, aku agak nervous. Kita berhenti dulu di masjid depan, ya.
Aku mau buang air.” Aku agak gugup.
“Hahaha.” Ayah, Ibu dan Mas Jun kompak mentertawakan aku, “Ada yang
kecemasan rupanya.” Mas Jun melanjutkan sambil terkekeh.
“Besok kau akan tahu rasanya ketika hendak meminang anak orang.
Tengoklah aku akan mengejekmu.” Aku menyumpahi Mas Jun.
“Aku hanya bergurau lho, Is.” Mas Jun mengacungkan jari peace.
Sebenarnya aku tak hanya sekedar buang air. Tapi aku juga ingin mencuci
muka dengan sabun, lalu sikat gigi, menata rambut dan memakai parfum.
Penampilanku sudah tidak karuan setelah 30 jam perjalanan. Hampir dua hari aku
tak mandi. Baju pun tak diganti. Aku masih memakai flannel hijau kotak-kotak
dan celana gunung berwarna cokelat. Entah bagaimana wujud rupaku di mata Ainun
dan keluarga.
“Sudah sudah. Sudah tampan itu.” Mas Jun tiba-tiba ada di belakangku
yang sedang bercermin, “keluarga Ainun keburu pulang menunggumu berkaca.”
“Eh, iya juga.” Aku terperangah, “Oke kalau begitu ayo naik mobil.”
Si Bujank berjalan lagi satu kilometer. Plang Hotel Bit sudah nampak
dari kejauhan. Aku berdebar sekali. Si Bujank mulai masuk ke halaman hotel. Aku
melihat ada mobil Ainun di parkiran. Jantungku mau copot.
JEGLEK!
Tiba-tiba listrik hotel padam tak lama setelah Si Bujank masuk
pekarangan. Terdengar suara riuh dari dalam hotel. Nampaknya mereka juga kaget.
Sambutan yang luar biasa. Apakah ini rencana Ainun? Entahlah. Nampaknya bukan.
JEGLEK!
Listrik hotel hidup kembali setelah Si Bujank sempurna diparkirkan. Aku agak
shock karena tiba-tiba keluarga Ainun sudah berdiri di depan hotel,
termasuk Ayah, Bunda, Kakak, Ipar, Ponakan hingga Bude. Ritme jantungku tak
bisa diatur lagi. Kami turun dari mobil. Meninggalkan Si Bujank di parkiran. Ayah,
Ibu dan Mas Jun berjalan mendahuluiku menuju halaman depan lobby. Aku malu-malu
di belakang.
“Assalaamualaikum.” Ucap Ayah dan Ibu bersamaan.
“Waalaikumussalaam warohmatullah wabarokatuh.” Kedua keluarga ini saling
berpelukan dan tersenyum hangat.
Aku menyalami semua keluarga Ainun sambil senyum-senyum canggung. Ketika
semua orang sedang ramah-tamah, berbasa-basi, tiba-tiba muncul anak kecil yang
menyibak keramaian.
“MANA OM YANG BARU ITU?” Tiba-tiba ia berseru lantang.
Semua terdiam sejenak. Termasuk aku. Lantas tertawa melihat kepolosan
anak kecil itu. Bunda menunjuk ke arahku. Ia langsung bergegas mendekat dan
menjulurkan tangan.
“Namanya siapa?” Aku bertanya sembali menjabat tangannya. Ia mencium
tanganku. Tangan kiriku mengelus kepalanya.
“Aku Afsha.”
“Masya Allah. Afsha pintar sekali.” Aku terharu dengan kehangatan
keluarga ini. Bahkan dari yang paling kecil sekalipun.
“Baiklah kalau begitu kita makan dulu. Sudah dingin nasinya menunggu Rais
datang sedari tadi.” Bunda memecah keheningan. Semua terkekeh. Bunda memang
suka bercanda.
Kami beranjak ke meja makan yang sudah disiapkan. Bersiap menyantap
makanan. Tetapi ada yang aneh.
Di mana Ainun?
Hantaran Belanja
Suara adzan subuh bersahut-sahutan di luar hotel. Selepas sholat subuh,
aku menyempatkan tilawah di bawah temaram lampu kamar. Jantungku berdebar lagi.
Kali ini lebih hebat. Hari ini adalah hari terpenting dari seluruh rangkaian
perjalanan ini.
Aku menuju cermin wastafel. Bercermin, lantas mengernyitkan dahi. Aku teringat
prosesi semalam.
“Pada hari ini, saya dengan sesungguh hati tanpa ada paksaan dari pihak
manapun, bahwa saya masuk ke suku Melayu Bono yang Datuk pimpin sebagai syarat
yang sudah ditetapkan oleh majelis ketua kerapatan adat…” sekilas aku mengingat
ucapanku semalam di hadapan Datuk kepala suku. Ya, sejak semalam aku resmi masuk
ke suku melayu setelah prosesi upah-upah.
“Is! Coba kau pakai baju melayu pemberian Ainun itu.” Mas Jun
menyadarkan lamunanku di muka cermin, “Aku mau melihatnya.”
“Ah, iya. Baiklah.”
Kemarin sore bunda mengantarkan pakaian adat melayu untuk aku pakai
acara hari ini. Warnanya biru muda, disertai songket dengan warna senada. Rupanya
Ainun yang mempersiapkannya, supaya aku dan dia memakai pakaian couple.
Ah, manis sekali.
“Oi! Kau ini malah melamun. Sedikit-sedikit melamun. Kesambet setan baru
tau rasa.”
“Eh, iya. Hehehe.” Aku memang sering salah tingkah akhir-akhir ini. Aku
bergegas memakainya.
“Ah! Gagah sekali.” puji Mas Jun setelah aku sempurna memakai pakaian Melayu
itu. “Kau mirip Ustadz Adam di film-film Malaysia. Hahaha.” Mas Jun terkekeh.
Aku mendengus.
Pukul sembilan pagi.
Rombongan suku Melayu Bono berbondong-bondong datang ke lobby hotel.
Sepuluh mobil memadati parkiran hotel. Mereka adalah keluarga baruku. Keluarga suku
lebih tepatnya. Mereka akan mengiringi aku sampai ke rumah Ainun untuk prosesi ‘Hantaran
Belanja’, acara lamaran kalau kita biasa bilang.
Kami berfoto sejenak di depan hotel, lantas masuk ke mobil
masing-masing. Datuk masuk mobil di depanku.
“Semua sudah siap? Baiklah kita jalan.” Datuk menyeru dari depan.
Sepuluh mobil mengular di jalan lintas Sumatera. Jarak dari hotel ke rumah
Ainun tak terlalu jauh. Sekitar tiga kilometer saja. Aku melakukan pernafasan
untuk mengatur ritme jantung yang berdegup semakin cepat di tiap kilometernya. Bisa
copot ia kalau tak kuatur.
Rumah Ainun tampak megah dengan ornamen-ornamen yang disiapkan. Meja-meja
makan berbaris menyajikan hidangan. Keluarga, tetangga dan tokoh masyarakat
memadati dalam rumah. Semua mata tertuju kepadaku. Aku sempurna jadi pusat
perhatian.
“Jarum hilang di tengah Jerami, kain kebaya di dalam peti. Selamat
datang di tempat kami, semoga bahagia melekat di hati.” Datuk kepala suku Ainun
memulai pantun.
“Bunga selasih di tepi selokan, meja makan buat angkringan. Terima kasih
kami ucapkan, kepada tamu dan para undangan.” Datuk-ku membalas. Tradisi melayu
ini indah.
Ketika prosesi berbalas pantun itu selesai, kami masuk ke dalam rumah. Lantas
kemudian aku terperangah. Aku mematung. Diam seribu bahasa. Ainun keluar dari
kamarnya. Dua hari sudah aku di sini, dan sekalipun tak berjumpa Ainun. Rupanya
ia dipingit. Supaya surprise kata bunda. Dan kini dia di hadapanku. Mengenakan
gaun dan cadar berwarna putih dengan corak-corak biru muda, serasi dengan
pakaian Melayu-ku. Untuk pertama kalinya kami bertemu sejak awal berkenalan. Masya
Allah. Aku hanya bisa memuji Allah dalam hati. Aku menunduk, sembari
sekali-kali mencuri pandang.
Matanya Seindah Namanya
“Ayo Ainun, buka cadarmu.” Bunda membujuk Ainun.
Ainun tidak bergeming. Ragu-ragu mengambil sikap.
Selepas acara, kami masuk ke perpustakaan pribadi milik Ainun. Hanya ada
Aku, Ainun, Ibu dan Bunda. Ini sesi nadzor, sesi saling melihat calon
pasangan.
“Atau harus diminta dahulu oleh Rais?” Bunda bertanya lagi kepada Ainun.
Aku kaget namaku disebut.
Ainun mengangguk.
Ha? Aku harus membujuknya? Aku harus bilang apa?
“Tuh kan, Is. Ainun harus dibujuk dulu baru mau melepas cadarnya. Cepat kau
bujuk dia.”
Aku mengernyitkan dahi. Mematung beberapa detik. Kebingungan.
“Apa Rais tidak mau melihat wajah Ainun? Nanti nyesel lho sudah sampai
rumah tapi belum melihat wajahnya.” Ibu menimpali.
“Eh, tentu saja Rais mau.” Aku salah tingkah. Menggaruk kepala yang
tidak gatal.
“Kalau begitu cepat bujuk dia.”
Aku mengambil bantal berwarna merah jambu di sebelahku. Lantas menutupi
wajahku dengan bantal.
“Rais kenapa? Jadi benar ya tidak mau lihat?” Ucap Bunda.
“Eh, bukan begitu, Bun. Biar Rais merangkai kata terlebih dahulu.”
Sial. Biasanya aku mudah sekali merangkai kata. Tapi mengapa kali ini
sulit sekali.
Waktu berjalan satu menit lagi.
Aha! Aku mendapat ide. Aku menyingkirkan bantal dari wajahku.
“Rais sudah siap, bun.”
“Oke, silakan” Bunda mengulum senyum.
Aku mengatur pernapasan sejenak. Ainun tertunduk malu-malu di hadapanku.
Kami sama-sama malu. Baiklah, aku akan mengucapkan kata pertama.
“Ainun…” Aku berhenti sejenak, mengulur waktu, meski aku sudah hafal
kalimat selanjutnya, membuat kami semakin berdebar, “Bersediakah Engkau
memperlihatkan wajahmu kepadaku?”
Aku merinding sendiri mendengar suaraku. Ini adalah kalimat paling
lebay yang pernah aku ucapkan. Ainun tak
menjawab apa-apa.
Diam sepuluh detik. Ia mematung.
Ainun perlahan-lahan meraih kain cadarnya, kemudian membukanya.
“Masya Allah.” Aku bergumam dalam hati ketika melihat parasnya. Lantas
menundukkan kepala dalam-dalam.
“Rais mengapa malah menunduk?” Bunda bertanya.
“Tak apa bun. Rais sudah melihatnya. Sudah cukup. Rais tak kuasa melihat
lama-lama. Tubuh Rais bergetar.” Tubuhku memang bergetar hebat. Paras Ainun
melebihi segala ekspektasiku.
“Hahahaha.” Bunda dan Ibu tertawa bersamaan, “Baiklah kalau begitu.”
Ainun menutup kembali cadarnya.
Ia tak salah nama, matanya seindah namanya. Ainun.
Comments
Post a Comment