6 SETORAN MEMALUKAN
SETORAN MEMALUKAN
Aku memandangi langit-langit kamar. Temaram
lampu membuat suasana lebih syahdu. Terlebih angin yang membelai halus dari
sela-sela ventilasi. Ranjangku berderik-derik karena Ikrom yang bergerak-gerak
tak bisa diam di bawahku. Ya, kami tidur di ranjang bertingkat. Dan gerakan
Ikrom menyadarkan lamunanku.
“Aku bisa memahaminya,
Ghilman.” Terngiang kembali balasan dari surat yang kukirimkan kepada Azizah
tiga bulan silam.
“Aku yakin ini yang
terbaik. Aku akan berusaha untuk memegang erat komitmen ini. Kita tak perlu
berkomunikasi, yang terpenting kita selalu terkoneksi dengan saling mendoakan. Terakhir,
Aku pun menyukaimu.” Tulis Azizah mengakhiri surat balasannya.
Oh, Azizah. Kau sungguh
wanita idaman. Aku kembali memandangi langit-langit kamar sambil tersenyum. Dan
lagi, wajah Azizah kembali menjadi wajah terakhir yang kuingat sebelum akhirnya
aku terlelap.
---
“Ghilman, ayo bangun. Sudah jam tiga
pagi. Kau harus persiapan untuk setoran juziyyah6 pagi ini.”
Ucap Kak Said sambil menggoncangkan badanku.
Aku sengaja meminta tolong Kak Said
untuk dibangunkan jam tiga pagi. Selain karena beliau rajin sholat malam dan
satu kamar denganku, beliau juga sangat ramah dengan adik kelas. Kecuali saat
forum pelatihan.
“Baik kak. Terima kasih sudah
dibangunkan.” Jawabku lunglai sambil bergegas menuju kamar kecil.
“Sama-sama.” Balas Kak Said.
Suasana asrama masih sangat sepi. Udara
pegunungan sangat dingin menusuk. Aku langsung menuju ke masjid selepas buang
hajat, berwudhu, sikat gigi, dan memakai jubah coklat pemberian ayah sembari
merapatkan jaket gunung biru dongkerku.
“Baiklah, aku punya waktu satu
setengah jam sebelum iqomah7 dikumandangkan.” Aku berkata
pada diri sendiri selepas shalat malam ditambah witir.
“Dalam satu juz ada dua puluh
halaman. Maka aku harus membaginya menjadi empat bagian agar tidak terlalu
membebani otak. Satu bagian terdiri dari lima halaman. Maka aku membutuhkan
setidaknya lima belas menit untuk me-review per-bagian.” Gumamku
optimis.
Tidak membutuhkan waktu terlalu lama
bagiku untuk me-review hafalan juz ini. Karena aku sudah menghafalnya
sejak MTs8.
---
BUK! BUK! BUK!
Ustad Zaki kembali memukul meja
setoran.
“Saya rasa antum10
ini salah menghafal. Hafalan ini bawaan dari MTs ya?” Tanya Ustad Zaki.
“Iya, ustad.” Jawabku sambil
tertunduk.
Aku sangat malu. Karena aku berada
di bagian depan masjid. Berhadap-hadapan dengan Ustad Zaki yang duduk bersila
di balik meja setoran setinggi satu hasta. Setiap kali Ustad Zaki menepuk meja
seluruh santri memandang iba kepadaku.
“Antum harus memperbaiki
semua ini.” Ustad Zaki menunjuk banyak sekali lingkaran merah yang tertera di
mushaf.
“Setelah diperbaiki, antum wajib
menyetorkan satu juz ini kepada teman antum baru kemudian maju ke saya.” Ucap
Ustad Zaki.
“Bagaimana antum mau bisa
membaca satu juz sekali duduk, baru setangah juz saja suara antum sudah
habis begini?!”
“Lain kali saya tidak menerima
setoran yang masih salah-salah dan belum lengket seperti ini. Batas waktu
setoran antum empat puluh lima menit. Jika lebih maka akan saya tolak!”
“Ini sudah kedua kalinya antum ditolak
pada juz yang sama. Apa antum tidak mengambil pelajaran dari yang telah
lalu?!”
Wajahku bersemu merah bak kepiting
rebus. Aku tak membayangkan akan menanggung malu sebesar ini. Kali ini secara
sempurna seluruh mata santri tertuju kepadaku. Aku menyadari seluruh santri
menatap iba meskipun aku tertunduk sangat dalam.
Ustad Zaki memarahiku dengan berteriak.
Tabiatnya sebagai orang Batak keluar secara sempurna pada pagi ini. Suaranya
nyaring luar biasa tanpa sadar bahwa dirinya sedang berteriak. Dan seluruh
santri telah memakluminya.
---
6 Menyetorkan hafalan
yang sudah disetorkan sebanyak satu juz sekali duduk sebagai persyaratan untuk menyetorkan
juz selanjutnya.
7 Kumandang pertanda akan
didirikan sholat.
8 Madrasah Tsanawiyah, sekolah sederajat SLTP.
9 Antum (Arab) : Kalian. Tapi
bisa digunakan untuk menyebut ‘kamu’ dalam konotasi yang lebih sopan.

Comments
Post a Comment